Giliran Siapa Sekarang?

Hari-hari ini, saya dan keluarga sedang sibuk demi menyambut hari besar. Hari besar Islam yang akan datang sebentar lagi, juga acara pernikahan yang akan berlangsung satu minggu sesudahnya. Untuk acara yang kedua, perencanaannya sudah dimulai sejak berbulan-bulan yang lalu.

Ya, ya… Itu adalah moment-moment yang selalu sudah dipersiapkan sebelumnya. Tidak seperti sakit dan mati, dua hal yang gak pernah kita merasa siap, atau bersiap diri menghadapinya.

Kita gak pernah punya perencanaan tentang kematian anggota keluarga kita. Dan yang saya maksud adalah, mempersiapkan pengurusan jenazah. Bukan mempersiapkan bekal di hari akhir nanti, yah! Sebab, yang kita ingat adalah melulu soal bekal. Namun bagaimana jika suatu hari, pada suatu pagi Anda terbangun dan menemukan bahwa orang yang tidur di samping Anda selama ini ternyata tidak bernafas?

Terkadang kematian datang begitu tiba-tiba sampai rasa terkejut dan herannya mengalahkan pedih.

Pada hari ketika ayah saya meninggal dunia, beberapa jam sebelumnya, beliau masih tertawa dan bercanda riang dengan anak-anaknya di depan TV. Masih bicara mengenai ke rumah nenek dan jalan-jalan ke Dufan pada weekend nanti. Masih ngomel mengenai rapot saya yang tidak sebagus biasanya. Lalu ngantuk datang. Hening meninggalkan suara TV yang masih menyala tertinggalkan tidur oleh orang terakhir yang menontonnya. Dini hari, ibu saya membangunkan semua orang dengan setengah ngomel menyuruh untuk masuk kamar masing-masing dan tidur di sana. Satu orang tidak kunjung bangun. Wajahnya tidak beda dengan wajah biasanya saat tidur, hanya suhu yang dingin dan kaku, serta dada yang tak lagi berdegup.

Lalu apa? Harus bagaimana?

Pada kemudian hari, saya mengingat hari itu dengan rasa syukur. Bagaimana tidak, ayah saya pergi dengan cara yang mungkin menjadi dambaan kita semua. Beliau memang didiagnosis sakit jantung beberapa bulan sebelumnya, namun saat pergi itu, kondisinya baik. Tidak tersiksa hari demi hari atau bulan dengan terbaring lemah. Baru saja naik jabatan dengan rasanya karir yang semakin cerah. Anak laki-laki yang selalu beliau dambakan akhirnya datang. Dan pada menit terakhir yang beliau alami, adalah tawa dan canda bersama orang-orang yang beliau cintai. Kemudian, mati dengan tenang dalam tidur.

Tentu tenang sebab kalau tidak, kami-kami yang berbaring di sekitarnya di depan TV itu pasti sudah terbangun, kan?

Tapi, bagaimana dengan yang ditinggalkan.

Ibu saya ditengah bingungnya menyuruh saya untuk lari membangunkan beberapa orang. Kakek saya yang tinggal tak jauh dari rumah dan pengurus masjid. Kalau diingat, itu perintah yang tidak idealis. Bayangkan, seorang ibu menyuruh anak perempuannya yang masih remaja untuk melintasi kampung dan kebun pada tengah malam demi menyampaikan berita. Tapi di depan mata saya, bahkan yang paling berpengalaman dalam hal in pun terlumpuh beberapa detik. Yep, bapak pengurus masjid. Saat saya menyampaikan bahwa ayah saya baru saja meninggal dunia, muka beliau mendadak kosong. Pelan duduk di bangku dengan mulut mengeluarkan kata yang diulang:

’Meninggal…? Meninggal..’

Karena bingung, saya kemudian lari saja meninggalkan Sang Bapak Pengurus Masjid. Dalam perjalanan lari pulang itu saya teringat bahwa Sang Bapak Pengurus masjid adalah sahabat ayah saya. Sahabat sejak masih sangat muda dahulu.

Maka pada jam-jam pertama setelah kematian, anggota terdekat tidak menangis. Sebab sibuk sendiri.

Telpon sana-sini mengabarkan yang semuanya maunya dapat penjelasan kenapa. Minta diceritain kok bisa meninggal. TOLONG YAH! NANTI AJA NGEGOSIPNYA!! AYAH SAYA MATI SAYA JUGA GAK GITU JELAS GIMANA TAPI BISA GAK SIH TERIMA BERITA INI AJA!!! MASIH BANYAK YANG MUSTI DIHUBUNGIN, TAU!!!

BAWEL!

Kata orang, hubungin dokter dulu. Harus ada surat kematian dari dokter. Lah, dokter yang mana? Dokter yang di RS? Dokter siapa aja boleh gak? Di mana dokter terdekat?

Beli kain kafan dimana? Gimana caranya mengajukan pinjaman bak untuk mandiin jenazah dan kurung batang? Siapa yang mandiin jenazah? Di mana? Pake sabun apa? Apa aja peralatannya? Mau dikubur dimana? Apa persyaratan untuk menyewa tanah di taman pekuburan? Foto kopi surat kematian? Trus, KTP? Tanya berapa harga sewa tanah kuburan untuk kelas VIP, kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Di mana mesen batu nisan? Jangan lupa urusin asuransi! Beresin rumah banyak yang mau datang. Siapa yang ngejagain si bayi? Siapa yang beli bendera kuning? Telpon masuk tanya alamat. Itu dari kantor pada mau dateng. Ampun, gak ada air. Sana beli aqua gelas dua kardus. Si adik ngeluh lapar, Ma…

Gak pernah kan ada gladi resik untuk acara kematian kayak gini? Kita tau di toko mana kebaya yang bagus, berkualitas, dan miring harganya tapi apakah Anda tau di toko mana yang jual kain kafan dan peralatan pengurusan jenazah yang lengkap?

Makanya kita dianjurkan ikut takziah. Ikut serta membantu pengurusan jenazah. Bukan hanya meringankan beban, tapi juga persiapan untuk kita yang mungkin akan segera menghadapinya.

Beberapa minggu yang lalu, beberapa hari menjelang Ramadhan, saya mendapat kabar bahwa anaknya sahabat saya meninggal dunia. Belum hadir kedunia. Sang anak tersebut. Masih di dalam perut ibunya yang selama ini sehat-sehat aja. Bayinya pun sehat. Terakhir periksa satu minggu sebelumnya juga dinyatakan sehat. Lalu pada suatu hari, sang bayi, tidak bergerak. Sampai besok masih tenang diam. Sang ibu pergi ke bidan dan mendapat kabar bahwa sang bayi telah meninggal.

Sahabat saya melahirkan anak yang telah meninggal dunia. Kisah dari sang suami yang juga sahabat saya adalah bahwa perawat bingung mau bagaimana untuk mengurus jenazah. Perawat hanya dilatih untuk mengurus bayi yang lahir sehat, atau bermasalah. Tapi sahabat saya seorang ustadz, maka dia tahan rasa sakit didadanya, dan berdiri untuk mengurus sambil mengajarkan pada para perawat gimana caranya mengurus bayi yang terlahir mati. Bagaimana cara memandikannya, bagaimana cara mengkafankannya.

Menurut saya, sahabat tersebut adalah orang yang kuat.

Beberapa bulan yang lalu, teman serumah saya harus dilarikan ke UGD. Pada tengah malam. Begitu saja, orang yang tidur di sebelah saya di ranjang yang sama tau-tau menggelepar-gelepar. Bicara tidak jelas. Saya bangun dengan kaget, panik, dan gak tau mau ngapain. Setahu saya, dia sehat-sehat saja. Beruntung para tetangga baik hati menolong saya untuk membawanya ke RS hingga bisa ditangani tanpa terlambat.

Di RS beberapa hari yang lalu, saya melihat orang-orang yang mungkin gak pernah disangka sakit. Duduk bersama saya adalah seorang remaja 17 tahun yang banyak cengengesan lengkap dengan gaya lebay alaynya. Dia mengalami jantung bocor, dan sudah dioperasi beberapa tahun yang lalu. Kembali datang karena keluhan mulai datang lagi. Lalu ada seorang ibu muda yang terbengong-bengong menggandeng seorang anak laki-laki berseragam SD lengkap dengan tas, sepatu, dan rubic ditangan. Duduk menunggu, sang anak main rubic. Saya yang kebetulan juga bawa rubic, akhirnya main cepet-cepetan dengan anak itu, ngobrol ini itu. Tentang pelajaran sekolah dan temen-temennya. Sama sekali gak nyangka, kalau ternyata, yang sakit adalah si anak yang main rubic tersebut dan bukan si ibu.

Saya kira, ibunya yang sakit dan anaknya dibawa karena gak ada yang jagain di rumah.

Maka termangu saat menyaksikan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun berseragam SD masuk ke ruang Echo untuk periksa. Sang ibu masih termangu.

Saya tanya, kenapa, Bu?

Sang ibu menggeleng. Gak tau, katanya. Dia pingsan saat kegiatan pramuka dan dokter ngirim ke spesialis jantung yang ngirim lagi ke RS (Pusat Jantung Nasional) ini. Padahal, selama ini sehat-sehat aja. Gak kenapa-napa.

Ingatan saya kembali ke beberapa tahun yang lalu, tentang seorang anak bernama David. Anak yang ganteng dan lincah. Juara pertama lomba lari antar TK se kabupaten yang tau-tau dikabari harus masuk ruang operasi beberapa bulan sesudahnya. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya bahwa dia mengidap kelainan jantung bawaan. Bocor. Sama seperti saya. Hanya saat itu, saya pun belum tahu. Dan jadinya rada aneh menggelikan saat saya menjenguknya sambil membawa medali yang baru saja diantar oleh panitia penyelenggara.

’Mbak, lagi nganterin ibunya?’ ibu itu yang mengantar anaknya menghapus air mata. Memandang seorang perempuan tua di sebelah saya. Saya gak kenal perempuan tua itu. Tapi saya tahu, dia sedang menunggu suaminya.

’Kenapa ibunya, Mbak?’

Saya hanya sempat nyengir lebar kepadanya karena saat itu, nama saya dipanggil perawat.

Giliran saya tiba.

Iklan

6 pemikiran pada “Giliran Siapa Sekarang?

  1. semangat bu al.. 🙂

    ada kok nanti hari2 di mana bahkan kita ga inget pernah sakit seseram itu. pernah ga punya harapan separah itu.

    alhamdulillah,
    semoga saya ga sakit lagi. ga kambuh segitunya lagi sampe2 ga bisa jalan..

    semoga untuk bu al juga yaa 🙂

  2. Mbak, suasana haru itu akan muncul saat tabuh genderang bedug berbunyi. Semua rasa kangen dengan orang2 tercinta, dengan suasana penuh damai. Akhir yang indah dari ayah Mbak, semoga kita nanti bisa kembali dengan sebaik2 keadaan ya, Mbak. Mbak juga sakit jantung ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s