Bakti Sosial 2010

Ramadhan tahun ini garing banget! Padahal biasanya, Ramadhan adalah saat-saat paling meriah di sekolah. Sebelumnya pun kami sudah bersiap memoles sekolahan dengan suasana, lalu acara-acara yang meriah. Lomba dan sebagainya. Namun tahun ini, gak ada yang istimewa. Soalnya panitia juga bingung, mau buat ini itu gak disetujui yayasan. Apa-apa dianggap bid’ah. Jadilah kita gak banyak acara.

Jadi Ramadhan gak berasa sama sekali.

Syukurlah baksos masih dapat terlaksana walaupun sempet adu argumentasi dulu dengan yayasan yang maunya hasil infaq anak-anak, disalurkan langsung oleh yayasan kepada beberapa lembaga yang memang sudah ditentukan mereka sebelumnya. Kita bertahan ingin mengelola dan menyalurkan sendiri. Seperti yang saya pernah tuliskan sebelumnya, bahwa ini bukan masalah menyampaikan kepada yang berhak, namun juga pendidikan kepada anak-anak. Kami ingin mengajarkan anak-anak bagaimana untuk mengelola uang infaq. Ikut serta capeknya keliling survei, meminta data, sampai nyari-nyari alamat orang. Menghitung dan benar-benar berusaha amanah dengan tidak tergoda walaupun iu keeping terkecil yang ada. Berdebat tentang mana yang diprioritaskan, memberi apa. Sampai kepada menyalurkan ke tangan yang berhak. Kami ingin, tangan-tangan mungil ini ikut serta dari awal mula sampai akhir.

Tahun ini, kami kembali keluar. Ke masyarakat. Dan pilihan inilah yang paling saya takuti.

Trauma.

Tahun pertama saya mengajar, baksos diselenggarakan di luar. Pemberian bantuan kami berikan di suatu desa dekat sekolah. Sasaran kami adalah anak yatim piatu. Dan acara pun berantakan karena masjid dikepung puluhan warga yang marah karena tidak kebagian. Merasa bahwa panitia tidak adil. Kami yang berusaha menjelaskan bahwa kami ini bukan dari lembaga sosial, tapi sekolah dasar yang tentu saja tidak punya uang banyak. Ini adalah hasil infaq sepuluh duapuluh ribu rupiah anak-anak tiap hari Jum’at yang dikumpulkan selama satu tahun. Tapi, yah, tetep aja gak ada yang mau ngerti. Sampai akhirnya para guru membawa kabur anak-anak yang ketakutan dengan mobil meninggalkan warga yang sewot berat.

Tahun kedua saya mengajar, kami tidak lagi menyalurkan infaq kepada warga. Takut! Alih-alih membelanjakan uang infaq sebagai sembako, kami belanjakan beberapa belas buah papan tulis, peralatan kelas dan buku-buku yang kami berikan kepada sebuah pondok pesantren yatim piatu dekat sekolah kami. Itu adalah tahun yang paling berkesan bagi saya, dan mudah-mudahan bagi anak-anak. Kami disambut bukan dengan kemarahan, tapi dengan kekeluargaan dan persahabatan. Anak-anak terpana dan sedih sekali mengetahui bahwa ada rekan-rekan mereka yang musti hidup dalam keadaan serba kekurangan. Kamar-kamar dan kelas-kelas yang jauh sekali dari layak. Anak-anak pun bisa menyaksikan, bahwa ada loh di dunia ini orang-orang yang mau membantu tanpa pamrih. Bekerja bukan hanya memikirkan uang.

Tahun ketiga dan keempat, penyaluran hasil infaq dilakukan di lingkungan sekolah. Kami tetap menjaga silaturahmi dengan pondok pesantren yatim piatu dan tetap memberikan bantuan berupa sesuatu yang berguna untuk keberlangsungan pendidikan di sana, namun kepada warga sekitar pun alhamdulillah kebagian. Hanya saja, bukan kami yang datang kepada mereka, namun mereka yang datang ke sekolah. Dan tahun ini, kami kembali keluar.

Pertimbangannya mungkin, karena suasana juga lagi gak kondusif. Namanya orang luar masuk ke sekolah gak mungkin kita atur-atur bagaimana berpakaian, misalnya. Yah, tentu pakai menutup aurat. Semua juga paham. Namun ini kan yayasan yang sekarang punya definisi sendiri soal menutup aurat. Jilbabnya harus panjang, sewot kalo liat perempuan pake celana panjang atau gak pake kaus kaki, keliatan berdan-dan dikit dikatain kayak pelacur, dan seterusnya. Kasian nanti kalau mereka tiba sebagai undangan, lalu kena makian orang yang pandangan beragamanya sempit bin picik. Bukannya simpatik dengan Islam, malah sebel nantinya.

(Jangan kaget. Memang tahun ini sekolah baik SD maupun TK adalah anak-anak nakalnya yayasan.)

Tapi, satu hal yang kami pelajari, jika mau acara baksos di masyarakat sukses, kita mau gak mau harus bekerja sama dengan baik dan erat kepada pemerintah setempat. Maksudnya, RT dan RW setempat. Dan gak bisa juga dilepas. Mereka membantu kami demi kelancaran, kami pun mengawasi mereka agar tidak terjadi hal-hal yang gak kami inginkan. Di sisi lain, kami pun harus mau nurut dengan maunya mereka untuk hal-hal yang teknis. Paling tidak, di kampung-kampung gini, RT dan RW itu adalah tokoh-tokoh yang musti disegani. Kita juga harus menunjukkan rasa hormat kepada mereka. Maka acara bisa berlangsung dengan lancar.

Namun bukan berarti gak ada insiden, lowh! Kecil saja sebenernya.

Ceritanya, acara sudah berakhir. Semua orang yang ada di data kami sudah mendapat baik itu bingkisan sembako dan amplop uang. Saat itu, kami semua, termasuk anak-anak, sedang duduk santai di mushalla setempat menunggu mobil-mobil yang akan membawa kami ke pondok pesantren yatim sahabat kami. Seperti biasanya, kami membawakan sesuatu yang berguna untuk mereka.

Anak-anak main. Keliling liat-liat.

Guru-guru duduk mengawasi anak-anak sambil ngobrol.

Lalu, ada seorang perempuan mendatangi saya. Bercerita bahwa dia baru dapet amplop satu buah (setiap orang diberikan amplop 2 buah). Dan bahwa, beberapa orang juga hanya mendapat satu buah amplop.

Saya mengatakan padanya untuk menghubungi panitia. Dia ogah. Katanya, malu ah. Udah dikasih pake protes. Saya bilang, tidak apa. Namanya juga banyak orang, panitia capek. Gak ngeh.

Dia tetap ngotot gak mau. Tapi juga gak mau beranjak dari depan saya. Terus saja cerita berulang-ulang.

Saat itu, saya gak sadar. Bener-bener gak ngeh kalau sedang memegang setumpuk amplop. Itu adalah amplop sisa di sini yang rencananya akan kami bawa ke tempat yang ketiga nanti besok harinya. Memang tempat yang terakhir itu adalah yang paling melesak masuk kampung nyaris tak tersentuh dan masyarakatnya lebih butuh bantuan di banding tempat yang pertama ini.

Dan tumpukan amplop sisa tersebut sedang di tangan saya.

Gak mikir apa-apa juga. Jelasnya, saya percaya dengan perempuan di depan saya ini. Maka, saya melangkah ke rekan-rekan panitia yang masih ngobrol ringan dengan Pak RW. Saya bercerita mengenai apa yang terjadi. Namun saat saya kembali bersama panitia, perempuan itu sudah tidak ada. Kata anak-anak, dia langsung pergi saat saya mendatangi panitia.

Padahal kalau benar, kan gak usah pergi, ya, gak?

Haah, manusia…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s