The Magdalene Sisters

Ada rasa nyeri yang saya rasakan persis sama dengan ketika menonton Dogville beberapa waktu yang lalu. Melihat seseorang begitu disiksa, tidak secara gagap dan ribut seperti kebiasaannya, namun dengan hening dan sunyi ketika tusukan itu masuk semakin dalam dan menyesakkan dada.

Saya ingat pertama kali melihat film ini beberapa tahun yang lalu bersama seorang sahabat sebagai bagian dari pesta kecil-kecilan kami tidur bersama di kediaman kecilnya. Sebuah pilihan yang gak matching menampilkan film ini sebagai pengantar cekakak tawa kami. Dan yang saya ingat hanyalah, ini film tentang biarawati dengan ada adegan kontes (maaf) bulu kelamin di dalamnya. Adegan yang mengagetkan yang membuat saya menyuruh kawan saya itu untuk menghentikan film dan menggantinya dengan sesuatu yang lain.

Beberapa hari yang lalu, saya baru mengerti film ini tentang apa.

Ini berdasarkan kisah nyata. Mengenai sebuah tempat yang disebut Asylum Magdalene. Sebuah tempat laundry yang berada di bawah pengelolaan biara ordo Magdalene. Para pekerja di laundry ini adalah perempuan-perempuan yang dianggap telah jatuh ke dalam dosa dan dikucilkan, atau dihakimi oleh keluarga dan masyarakatnya. Di sini, para pendosa tersebut harus membayar kesalahan yang telah mereka lakukan dengan cara bekerja, dengan tanpa di bayar, sampai…entahlah. Nampaknya sampai mati. Dan yang namanya juga pendosa, tentu mereka tidak diperlakukan dengan baik-baik. Hari demi hari harus mereka telan dengan tanpa bisa berbuat apa-apa semua penghinaan, pelecehan, dan penyiksaan.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata, tapi tidak secara penuh. Setelah terlalu banyak kasus kekerasan yang kemudian terungkap dan berujung dengan ditutupnya Assylum Magdalene pada tahun 1966, maka diadakan semacam wawancara kepada semua perempuan yang sampai saat itu masih ’bekerja’ di Assylum. Dari berbagai kisah ini kemudian di rangkum dan dihadirkan sebagai 3 orang perempuan.

Orang pertama adalah Margareth yang diperkosa oleh sepupunya. Ketika dia memberi tahu keluarga tentang kejadian yang menimpa dirinya, bukannya keadilan yang dia dapatkan, justru malapetaka. Dia dikirim ke Asylum Magdalene sebagai seorang (dianggap) pendosa. Perempuan kedua adalah Bernadatte, seorang gadis yatim piatu yang cantik dan centil. Senang menarik perhatian anak-anak lelaki di sekitarnya. Kemudian Rose/Patricia yang dikirim karena menjadi ibu diluar pernikahan. Dari ketiga orang ini, yang sejak awal terlihat sanggup untuk melawan adalah Margareth, walaupun tidak secara terbuka.

Margareth segera menemukan, bukan hanya teman, namun adalah orang yang dia lindungi yaitu Crispina. Seorang perempuan yang agak terbelakang dan memiliki permasalahan psikologis. Dia dikirim ke Assylum karena kasus yang sama dengan Rose. Crispina ini bukan hanya sering direndahkan, namun juga di lecehkan. Dan Margareth berusaha untuk menjaga dan melindunginya, semampu yang dia bisa.

Bernadatte, pada awalnya tidak begitu peduli dan terkesan egois, namun kemudian dia berubah menjadi jauh lebih dewasa. Bersama Rose, dia kemudian merencanakan pelarian.

Ini jenis film yang membuat saya termelongo tidak bergerak di depan layar dengan suasana yang dibangun menghadirkan emosi menusuk semakin dalam. Tidak bertele-tele, tapi cukup untuk membuat kita bisa melihat keseluruhan masalah. Hanya saja, walaupun saya cukup mengerti bahwa mungkin memang musti ada keberpihakan dalam mengungkapkan ketimpangan, saya kok melihatnya sebagai berlebihan. Terlalu hitam diatas putih bahwa perempuan-perempuan yang terkurung dalam asylum adalah orang-orang tak bersalah yang merupakan korban bulan-bulanan sementara para biarawati pengelola asylum semuanya… Yah, semuanyaa!! Adalah orang-orang yang korup, serakah, dan seakan tidak memiliki perasaan. Maka gaya hitam-putih ini saya rasa justru akan membuat kita akan melihatnya sebagai sesuatu yang mengandung kebenaran yang berkurang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s