Menatap Wajahmu

Waktu anak-anakku kelas 2 SD, rasanya capek fisik. Mulut juga capek. Ngeladenin si mungil-mungil yang ngoceh tanya-tanya. Lalu sekarang anak-anakku kelas lima, capek juga, huehehe…

Kok rasanya jadi kayak ngeluh, ya? Gak… Ini bukan ngeluh-ngeluh…

Okey, dari ulang….

…………………………………….

Waktu anak-anakku kelas 2 SD, mulut berbusa-busa ngejelasin ini itu. Makhluk-makhluk mungil di hadapan saya itu lagi seru-serunya mencoba memahami dunia di sekitar mereka. Maka jelaslah mereka banyak bertanya yang tentu saja banyak mikir. Tapi dalam beberapa hal yang berkaitan sebagai tugas saya sebagai guru yaitu ngelarang ini itu (huehehehe….), rasanya lebih sederhana. Sebab anak-anak kelas 2 SD lagi pengen-pengennya menjadi apa yang diharapkan orang yang mereka panuti yaitu orangtua dan guru.

Anak-anak kelas 2 SD: Bu Guru, kita boleh gak ini itu… blabla…

Saya: Gak boleh

Anak kelas 2 SD: Ooooi, kata Bu Guru gak boleh tau!

’Kata Bu Guru gak boleh…’

Anak kelas 2 SD: Bu, masa anak-anak laki pada main pintu.

Bu Guru: Bilangin, kata Bu Guru gak boleh main pintu…

’Kata Bu Guru gak boleh main pintu…’

‘Ih, kamu gimana sih. Kata Bu Guru gak boleh tauuuuu….’

Kemudian, tau-tau saya berhadapan dengan kelas lima yang pikirannya udah beda lagi.

Kelas lima, seperti kita semua tau, terkadang sudah masuk ke pintu remaja. Walaupun gak selalu. Dan remaja adalah saat bahwa apapun kata otoritas kita, maka seharusnya, dan sepantasnya, dilawan. Atau paling tidak, di debat dulu, lah!

Pernah suatu kali saya bertemu dengan mantan guru SD yang begitu tau saya jadi walikelas lima, langsung nyeletuk begini:

’Wah, kelas lima kan kelas yang paling ngedongkolin, tuh! Paling badung se SD itu kelas lima. Mbak jadi guru kelas lima pasti orangnya sabar banget!!’

Oh, iyalah.. Saya kan guru paling sabar, manis, dan baik hati… (senyum manis sekali)

*ditampar sampe waras lagi*

OKEH!! Balik lagi.

Dan bayangin aja detik-detik awal kelas lima, saya terkejut-kejut mendapati bahwa apapun larangan saya itu dilawan. Dipertanyakan. Diprotes. Didemo.

Jadinya tambah banyak ngomong saling tarik urat syaraf.

Tapi, saya mulai mengerti anak-anak yang saya hadapi ini. Mereka anak yang ogah dilarang-larang. Kalo dilarang, mereka ngelawan. Saya pun capek jadinya musti berantem terus sama anak-anak saya. Maka saya pun belajar untuk mendengarkan, dan banyak mencoba memahami mereka. Kemudian mengerti, kapan saya bisa untuk focus tegas, kapan saya membiarkan mereka. Dan bagaimana caranya untuk mengkomunikasikan larangan itu agar mereka mengerti, bahwa itu demi mereka sendiri.

Tahun kemarin, anak-anak kelas lima adalah anak-anak yang dewasa. Secara positif, loh, ya… Dan benar-benar menyenangkan karena saya gak perlu banyak berkata ‘tidak’ lagi. Karena setiap kali mereka meminta pendapat saya mengenai sesuatu, saya hanya perlu memberi pandangan.

Jika kamu begini, Nak, maka nanti kamu begini, loh…

Menurutmu bagaimana jika ada orang yang melakukan hal seperti ini padamu?

Sekarang kita coba bayangin apa sih hal-hal buruk yang nanti akan datang jika kamu begini. Apa yang baiknya. Lalu coba bandingkan, antara manfaat dan mudharatnya, mana yang lebih besar? Dan apakah kamu rela mendapatkan konsekuensinya demi hal itu?

Mereka mengerti..

Walaupun teteup juga pelanggaran itu ada. Tapi, yah, itulah artinya menjadi anak-anak, bukan?

Maka hal yang buruknya adalah, saya jadi terbiasa dengan gaya perenungan kayak tahun kemarin itu. Padahal anak-anak saya tahun ini adalah figur-figur yang jauh berbeda. Tidak seperti dua kelas lima sebelumnya yang lebih suka diberi pilihan atau diajak untuk memikirkan konsekuensi, kelas saya tahun ini lebih nyambung dengan aturan yang jelas, tegas, dan tidak bertele-tele. Sementara saya masih bergaya tahun kemarin. Maka jadi gak matching.

Seperti kejadian beberapa minggu yang lalu, sebelum bula puasa. Saat anak-anak Tanya apakah boleh ke miimarket sebelah sekolahan untuk beli minuman.

Peraturan sekolah jelas mengatakan tidak boleh.

Tapi tahun kemarin, berdasarkan pengalaman, kalo saya jawab tidak boleh aja, anak-anak langsung memepertanyakan, mendebat, sampai merayu-rayu.

Maka jawaban saya seperti ini:

Begini, selama orangtua kalian belum ada, atau tidak ada di sekolah, kalian gak boleh keluar dari gerbang depan. Sebab selama kalian di sekolah, kalian tanggung jawab guru. Taggung jawab sekolah. Sementara kalau kalian keluar, maka gak ada yang mengawasi. Kalau ada apa-apa, misalnya kalian di culik, atau tertabrak mobil, berarti gak ada yang bertanggung jawab mengenai itu.

…….

Saya terkejut karena anak-anak saya kok gak ada yang ngomong apa-apa lagi. Mereka pergi aja gitu….

Saya kira, mereka sudah paham. Saya kira mereka ngerti. Ternyata yang sampai di benak mereka adalah…

Jreng…. Jreng….!!!!

Bu Alifia gak ngelarang kita pergi ke minimarket sebelah sekolah.

Yaudah, mereka pun menerobos satpam depan dengan PD abis bilang kalau sudah izin dari saya. Satpam percaya. Yaaa, karena mereka keliatan yakin bener. Apalagi karena Pak Satpam juga tau banget kalo saya guru paling metal di sekolah. Maksudnya, gak gitu nyinyir, gitu… Maka bagi Pak Satpam, kenyataan bahwa saya mengizinkan anak-anak saya ke minimarket sebelah sekolah adalah MUNGKIN SEKALI.

Yah, gak bakalan jadi masalah kalau gak ada anak kelas 3 SD yang diam-diam ikut rombongan kelas 5 itu ke minimarket gak keliatan satpam. Dan parahnya, anak kelas 3 SD itu ternyata bermasalah. Dia tertangkap tangan ngumpetin jajanan di kantungnya.

Ya Allah….

Maka datanglah pengelola minimarket itu ke sekolah. Masalahnya ditangani oleh Pak Kelas 3 tentu saja. Tapi saya pun ikut-ikutan repot menghadapi anak-anak saya itu yang baru ngeh kalo ternyata saya gak pernah mengizinkan.

Beberapa rekan guru rada nyalah-nyalahin saya.

’Ibu sih gak tegas.’

’Ambil Bu belanjaan anak-anak, buang tempat sampah. Biar mereka kapok!!’

Tapi saya gak melakukan itu. Saya hanya menyuruh anak-anak untuk menyimpan makanan, dan meminta mereka untuk mengeluarkannya nanti saja di rumah. Jangan ada yang cerita-cerita tadi ke minimarket sebelah. Biar adik-adik kelas gak ngikutin.

Gak boleh keluar gerbang sekolah, untuk alasan apapun. Kecuali dua kondisi. Satu, ada izin tertulis dari walikelas. Dua, kalian didampingi oleh orangtua atau wali kalian. Mulai sekarang, detik ini juga, sampai selanjutnya.

……….

Iya?

’Iya, Bu…’ kata anak-anak saya.

Guru itu bukan satpam. Bukan cuma si tukang ngelarang, ngomelin, dan menghukum. Menjadi guru, itu artinya menatap wajah kalian, Nak. Melihat tembus ke dalam matamu. Mencoba untuk mengerti dan memahamimu. Sehingga kami dapat mengambil tanganmu dan menggandengmu menuju hal-hal yang ingin kami tunjukkan kepadamu.

Iklan

3 pemikiran pada “Menatap Wajahmu

  1. Sebuah kenyataan memang, bahwa setiap anak memiliki karakternya sendiri-sendiri. Oleh karenanya, orangtua tidak bisa menyamakan cara penanganan kepada semua anaknya. Kejadian yang Cekgu Al alami adalah contoh nyatanya… 🙂

    Selamat Idul Fitri Cekgu, mohon maaf lahir batin ya…
    Salam buat anak-anakmu, bilang secara tegas kalau Om Vizon titip salam, gitu ya… hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s