Matematika Bahasa Inggris = Sukses

Tadi saat lewat tempat les matematika, rada terkejut dengan tagline itu diatas. Saya baru sadar bahwa ternyata itu sudah menjadi bahan perbincangan di internet sejak tahun 2007. Maka, ketauan pula betapa telatnya saya, huehehe…

Dan saya juga gak mau menggugat macam-macam. Saya kira, semua orang bisa berpendapat apapun. Iklan itu wajar. Mengingat bahwa yang dijual tempet les tersebut memang matematika dan bahasa inggris. Dan kata-kata yang tertulis pun wajar. Bahkan bisa dibilang, memang benar juga. Kemampuan matematika dan bahasa inggris sangat penting dan dihargai ketika memasuki dunia kerja. Khususnya kemampuan bahasa inggris. Dan kalau kita pinter matematika di sekolah, kita bisa masuk jurusan-jurusan yang nantinya punya gaji besar.

Maka sekali lagi saya katakan bahwa, iklan tersebut, bisa dimengerti. Walaupun bagi saya sebagai seorang guru, rasanya cukup menohok dada. Menyiletkan rasa sedih. Sebab saya khawatir, bahwa kalimat yang pada saat ini benar tersebut, akan didewa-dewakan.

Saya hanya teringat dengan kisah dalam film I Not Stupid. Salah seorang anak yang punya bakat menggambar dan melukis. Dia anak baik-baik yang tidak banyak tingkah yang merisaukan. Lalu betapa setres ibunya yang sampai melakukan kekerasan untuk memaksa anaknya belajar demi nilai matematika yang tidak pernah membaik. Padahal, sang anak bukan tidak mau berupaya. Dia pun belajar mati-matian. Namun entahlah mengapa, rasanya memang bahasa matematika tidak pernah dapat ditangkapnya dengan baik. Mengenai pelajaran lain yang tidak bermasalah, tidak pernah dipersoalkan. Bahkan tidak pernah mendapat perhatian. Tapi satu pelajaran yang tidak sanggup di mengerti sang buah hati membuatnya malu luarbiasa.

Maka saat melihat iklan tersebut, yang saya khawatirkan adalah anak-anak kita.

Mengenai sukses itu sendiri, namun apakah kita dapat menikmati pencapaian? Apakah kita merasa bangga dengan diri kita sendiri? Lalu bagaimana dengan wawasan terhadap dunia di sekitar? Saya yakin, kita gak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan orang yang peduli dengan orang lain.

Salah satu artikel di internet membuat saya tersenyum sedih. Dikatakan seorang anak yang les matematika di sini dan disitu, telah banyak mendapat penghargaan dari lomba matematika. Anak itu dikatakan telah sukses. Padahal dia masih SMP, namun sudah sukses.

Harga les matematika ini cukup besar juga. Membelalakan mata. Tigaratus ribu perbulan dengan pertemuan hanya 2 kali kalau tidak salah. Harga segitu pun laku keras. Karena jelas terlihat hasilnya. Nilai anak-anak meningkat dalam pelajaran matematika. Walaupun ada tulisan menyatakan bahwa setelah mencapai level tertentu, anak mulai kelabakan dan berjatuhan. Sebab gak bisa terkejar lagi segala PR yang diberikan, serta waktu dalam mengerjakan worksheet hanya 15 menit. Gak kuat, bok!

Mengenai PR ini emang jadi kesulitan tersendiri. Sebab beberapa kali anak-anak saya yang les di tempat ini musti mangkir PR sekolah dan bahkan gak siap ulangan tertentu dengan alasan bahwa lupa atau gak ada waktu lagi. PR di tempat les itu banyak banget.

Beberapa saat yang lalu, saya pernah menyebutkan tempat les ini kepada ibu saat mencari les untuk adik bungsu saya. Sebab anak-anak saya yang nilai matematikanya bagus les-nya disitu. Lalu adik saya yang lain, Anne, langsung menggelengkan kepala. Dia tidak setuju. Bukan karena hasilnya, tapi Anne tidak suka dan tidak setuju dengan proses belajarnya. Kata Anne, belajarnya bener-bener individualis. Siswa hanya diberi selembar kertas, kemudian mengerjakan soal secepatnya. Pada level tertentu, kecepatan ini terus ditambah. Udah gitu, ngitung gak boleh di kertas tapi di kepala. Ngeri bener, gak, tuh! Seru Anne. Kayak nyuruh anak jadi kalkulator.

Memang konon maksudnya untuk menyimpan di bawah sadar.

Saya agak bingung dengan ngitung harus dikepala gak boleh di kertas. Bagaimanakah cara si anak nanti belajar jika dia salah? Pada bagian mana? Langkah yang mana dia salah itu? Maka apakah jika satu soal salah maka ya sudah, salah ajalah semua? Gak ada evaluasi lagi? Dalam kehidupan nyata, sikap ini berbahaya. Pun susah pula jika soal tersebut adalah soal cerita yang justru bobotnya lebih berat karena tidak hanya menyuruh anak menghitung, tapi memahami dan memecahkan persoalan yang dikemukakan kepadanya. Anak-anak itu jatuhnya pada soal cerita, loh! Bukan hitung-menghitung.

Namun yang saat ini saya pikirkan adalah, pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan guru di sekolah. Sebab, berjamurnya tempat-tempat les ini yang sejenis kemudian jadi membuat orang kepikiran apa sih kerjanya guru di sekolah?

Dan ini perbedaannya.

Tempat les mengajarkan cara instan. Nilai akan terdongkrak naik. Itu benar. Tapi sekolah mengajarkan cara yang panjang dan bertele-tele. Sekolah mengajarkan konsep. Betapa untuk membuat anak paham apa itu pembagian, guru SD kelas 2 musti jungkir balik ngos-ngosan. Bawa benda kemudian dibagi sana sini, gambar, cuap-cuap, dan sebagainya. Butuh waktu berhari-hari bahkan minggu untuk itu semua. Les memberikan rumus singkat, sekolah berupaya agar anak menemukan jalan, bereksperimen, belajar dari salah, tekun dan sabar dalam menguraikan kasus yang dihadapinya, belajar untuk bekerja sama dan mengoptimalkan apa dimiliki. Dan jangan lupa, memikirkan orang lain. Jadi, kenapa gak kita melihatnya sebagai partner yang saling bergandengan? Jangan terlalu sewot dengan tempat les yang katanya serba instant atau guru les yang cuma pengajar doang. Juga jangan kepikiran bahwa kenyataan berjamurnya tempat les sebagai tanda guru sekolah gak melakukan apa-apa. Karena saya pernah membaca bahwa salah satu institusi beken di Indonesia tidak mengeluarkan ijazah. Saat ditanya, jawabannya sederhana namun melegakan. Ijazahnya adalah kemampuannya. Iya, iya… mungkin bisa diperdebatkan pernyataan itu. Nilai diatas kertas juga penting, loh! Tapi, nilai di atas kertas tidak menggambarkan semua hasil belajar di sekolah. Tidak menggambarkan semua perjuangan seorang peserta didik di sekolah.

Bagaimanapun, kita bertahun-tahun sekolah toh bukan sekedar untuk dapet sekolah bagus lagi selanjutnya aja. Seharusnya kan upaya mendewasakan, melebarkan cakupan berpikir, mempersiapkan peserta didik untuk dapat berdiri diatas kakinya sendiri. Nanti mereka, mau tidak mau, harus menghadapi persoalan dalam hidupnya. Gak bisa dipecahkan secara instant.

Eniwei, beberapa hari yang lalu, saat mengunjungi Kirsan sahabat saya, sempet bicara-bicara gak jelas yang awalnya dari kelucuan saya melihat Fauzan, bayinya Kirsan yang hobi banget mengamati orang-orang bicara. Bukan bicara gak jelas becanda. Tapi kalau ibunya bicara serius, dia mengamati dengan berkerut kening seakan mencoba untuk paham. Fauzan juga hepi ngeliatin guru lagi menerangkan di depan kelas. Anteng, bok! Maka saya bilang ke Kirsan, ni anak tumbuhnya di sekolah. Baru satu tahun, udah ngider di playgroup. Nanti umur 3 tahun masuk SD. Umur 17 tahun udah jadi sarjana.

Itu tentu hanya becanda.

Kirsan ketawa dan menimpali.

’Iya, trus bunuh diri karena gak tau mau ngapain lagi.’

Hmm…

Iklan

3 pemikiran pada “Matematika Bahasa Inggris = Sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s