Suka Lupa

Kadang-kadang, saya lupa. Lupa atas kesewotan saya sendiri tentang betapa orang lebih suka membesar-besarkan kesalahan dan tidak mau mengapresiasi kebaikan. Kadang, saya juga lupa..

Akhir-akhir ini, saya sering lupa.

Saya capek! Karena kesibukan yang kian menghempit dan melelahkan. Masalah pribadi saya (biar bagaimanapun, sisi hidup saya kan bukan Cuma guru. Sebagaimana semua orang, masalah ada saja.), tentang kekhawatiran saya terhadap sakit yang saya derita. Ditambah musti menghadap kelas yang energinya seakan gak pernah habis untuk bikin ulah usil yang ada saja kejadian-kejadian tiap hari.

Kadang saya lupa, dan mulai melihat anak-anak saya sebagai anak-anak yang gak mau diatur, tukang bikin onar, dan bikin naik darah. Tiap hari.

Tadi siang, kelas saya berantakan banget! Saya tidak mau koar-koar. Masuk duduk saja di meja saya. Diam memperhatikan. Sampai 10 menit, barulah anak-anak mulai beranjak tertib. 15 menit baru mereka benar-benar duduk diam. Lalu, seperti yang saya tuliskan, saya benar-benar sudah males. Jadi langsung pula saya masuk pelajaran.

Sebetulnya, saya agak malu. Karena sekarang saya kan tidak lagi sendirian di kelas. Ada Bu Shadow Teacher yang berada di kelas juga. Saya bertanya-tanya, bagaimana pikirannya The Shadow Teacher melihat saya ogah-ogahan begini, ya?

Selesai pelajaran saya adalah adzan Dzuhur. Seusai saya menutup kelas, anak-anak saya langsung meleset pergi dengan membawa perlengkapan shalat masing-masing. Meninggalkan saya, the Shadow Teacher, dengan siswa ABK saya.

Maaf, ya, Bu, kata saya kepada The Shadow Teacher. Anak-anak kelas ini susah-susah diaturnya. Maklum deh, manja-manja.

‘Ya Allah, Bu Alifia,’ kata The Shadow Teacher. ‘Segini mah udah lumayan banget kali, Bu. Kalo bagi saya, sih, anak-anak di sekolah ini shaleh-shaleh banget. Beda benget dengan tempat saya kerja dulu.’

Lalu tau-taulah The Shadow Teacher curhat. Tentang sekolah tempatnya bekerja dulu.

’Bu, di tempat saya dulu, yah. Satu kelas gurunya 4. Dua Shadow Teacher, soalnya murid ABK-nya ada 2 di setiap kelas. Dua lagi guru kelas. Ya ampun, itu kami berempat udah capek juga gak didengerin. Susah buat dengerin orang aja. Mana suka kurang ajar lagi sama guru.’

Saya melongo. Anak-anak saya dibilang sholeh-sholeh? Anak-anak saya yang ini?

‘Contohnya, ya, Bu. Saya tuh hari pertama disini udah terkesaaan banget! Pas istirahat, anak-anak pada ke masjid untuk shalat dhuha. Padahal saya gak liat ada guru yang tereak-tereak nyuruh-nyuruh. Paling ibu kan Cuma ingetin aja pagi-pagi, nanti istirahat jangan lupa shalat dhuha, ya, Nak.. Gak disuruh lagi, mereka udah pergi sendiri. Kayak sekarang, nih… Ibu gak nyuruh mereka ke masjid. Begitu ibu nutup pelajaran, mereka langsung ke masjid bawa alat shalat. Untuk anak seumur ini, itu luarbiasa, loh, Bu….’

Yaa… Saya suka lupa, ya….

NB: Nampaknya, saya beruntung sekali. Saya dikelilingi orang-orang baik yang mengigatkan saya setiap waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s