Tanda Tangan Orangtua

Hari Senin, saya menghukum beberapa anak saya dengan menulis yang harus di tandatangani orangtua mereka. Sebenernya, saya secara pribadi merasa hukuman ini rada kejam nian. Sebab dengan begitu, kemungkinan besar anak-anak akan mendapat hukuman dobel. Dari guru udah dihukum, begitu sampai di rumah dan orangtua baca, dihukum lagi. Atau paling tidak, diomelin lagi. Ini anak-anak SD. Pelanggarannya atau senakal-nakalnya toh masih gak berat-berat amat.

Hukuman biar bagaimanapun bukan masalah berat atau lamanya, tapi efektif atau tidak. Memperpanjang masa hukuman kadang membuat situasi jadi memburuk. Seorang anak bisa saja merasa menyesal sekali dan berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mengulangi perbuatannya pada 20 menit pertama dia menerima hukuman. Tapi pada jam kedua, rasa menyesal ini mungkin berubah jadi kemarahan, merasa diperlakukan tidak adil, dan seterusnya. Sama dengan nasihat, paling efektif itu yah pada menit-menit pertama. Terlalu lama cuap-cuap nasehat, cuma bikin bibir doer dan anak yang menerima jadi kesel ajah! Maka sebisa mungkin, saya tidak pernah memperpanjang kenakalan anak sampai rumah, kecuali kalau memang berat, sudah berkali-kali, atau dampaknya kepada orang lain (rekan sekelas atau adik dan kakak kelas), barulah masalah ini saya panjangkan ke rumah. Maksudnya, agar orang di rumah tahu. Jadi saya bener-bener berharap, jika sampai ke rumah musti dapet tanda tangan dan kejadiannya baru pertama kali, jangan terlalu panjang dimarahinnya. Gak usah terlalu panik. Tapi apakah saya panjangkan atau tidak, tetap saya punya buku catatan khusus tentang pelanggaran dan hukuman setiap anak saya walaupun itu sekecil-kecilnya. Walaupun hanya berakibat peringatan. Lengkap dengan tanda tangan saya, guru yang memberikan hukuman, serta tanda tangan sang anak sendiri. Ini sebagai catatan pribadi saya yang berguna menggambarkan perkembangan anak didik, juga sebagai bukti jika suatu saat nanti ada OTW yang komplen saat di rapor nilai kepatuhan anaknya turun. Pun bukti bahwa hukuman yang dilakukan tetap dalam koridor pendidikan. Kadang ada saja OTW yang sangat detil memperhatikan dan mempertanyakan. Saya anggap itu wajar. Saya tidak merasa hal tersebut sebagai ancaman atau bahkan intervensi. Ada saja loh guru yang merasa tersinggung berat. Tapi yah, namanya juga orangtua kalau melihat nilai kepatuhan anaknya turun pasti pengen tahu kok kenapa bisa gitu? Apa anaknya boadung banget? Ya, gak, sih? Kalo saya jadi orangtua sih pastilah pengen tau. Gak mau juga punya anak nilainya bagus tapi berbakat criminal. Dan hal-hal yang besar awalnya dari yang kecil-kecil dulu. Maka justru yang gak pengen tahu itu yang saya pertanyakan, huehehe…

Eniwey, hari Selasa, enam anak yang dihukum itu seharusnya menyerahkan kertas hukuman beserta tanda tangan orangtua mereka. Seharusnya, yaa… Tapi ternyata, yang mengumpulkan hanya lima orang. Satu orang belum menyerahkan. Pada setiap anak yang menyerahkan itu, saya tanya bagaimana tanggapan orangtua saat anaknya meminta tanda tangan.

Anak yang pertama:

‘Uuuuh, Bunda moarrahh! Saya dihukum gak boleh pake internet selama seminggu. Gak boleh ke warnet juga. Sedih saya, Bu… Sedih… Gimana dong, Buuu… Gimana?’

Ah, lebay deh! Yaaa, gimana atuh kamunya bikin salah.

Anak yang kedua:

’Biasa-biasa aja. Ibu saya gak komentar apa-apa.’

Tapi, kepada temannya dia berkisah gini:

’Aku sih tunggu pagi aja pas mau berangkat sekolah. Ibuku baru bangun, tuh! Trus biasanya kalo baru bangun suka gak ngeh gitu. Aku sama abangku kalo kasih kertas minta tanda tangan ya ditandatanganin aja. Gak bakalan dibaca, deh! Aman…’

Doassarrrr!!!

Anak yang ketiga:

’Dipelototin trus dimarahin. Udah…’

Anak yang kelimat:

’Ditanya ngomong joroknya apa. Trus ditanya dikasih hukumannya apa aja sama Bu Guru. Trus katanya saya gak bisa lagi ngasih kertas hukuman minta tanda tangan dari Ibu tanpa dihukum Ibu saya. Besok-besok, saya kalo gini lagi, dapet tambahan hukuman dari ibu saya, Bu..’

Anak yang keenam:

’Saya, huehehe… Ditanya mau ditanda tanganin sama ayah atau sama ibu. Kalau sama ibu, disuruh ngepel rumah dulu. Kalau sama ayah disuruh mijitin ayah dulu. Saya mendingan ngepel aja, ah!’

Saya bingungnya sama anak yang keempat. Saya sudah bilang, kalau besoknya belum ada tanda tangan, maka menulisnya saya tambah 10 lagi dan lagi jika hari berikutnya masih belum ada juga. Nah, anak keempat ini tidak mengumpulkan. Kisah dia adalah:

’Saya udah kasih ibu, terus dimarahin. Tapi kata ibu nanti tanda tangannya sama ayah aja. Tapi ayah saya belum pulang-pulang, Bu. Lagi dinas di luar kota.’

Laaah? Trus, pulangnya kapan?

’Gak tau…’

Kalau ayahmu dinas di luar kota berapa lama biasanya?

’Kadang-kadang, lama…..’

Iya lamanya itu apa seminggu? Sebulan?

‘Kayaknya lebih dari seminggu, deh! Trus gimana, Bu? Hukuman saya jalan terus, dong?’

……………………………………… (bingung)

Hari ini kamu tetep nulis 10 lagi. Trus dipending aja sampai hari ayahmu pulang ke rumah, ya…

 

One thought on “Tanda Tangan Orangtua

  1. Baru kali ini ada seorang guru yang memprhatikan anak didiknya.
    God Job!! I Like it..
    Hehehe… Rianty abiiizz.
    Sukses s’lalu aja deh!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s