Maju ke Depan

Temple Grandin adalah sebuah film TV yang ditayangkan oleh HBO beberapa waktu yang lalu. Diangkat dari kisah nyatanya Temple Grandin, seorang penyandang autis yang berhasil mendapatkan gelar sarjana dalam bidang Psikologi, master dan doctor dalam bidang Ilmu Hewan, lalu Profesor. Filmnya ringan dan bisa dinikmati, inspiratif, serta cukup banyak memberikan pemahaman kepada saya pribadi tentang penyandang autis dalam beberapa hal. Sesuatu yang sedang saya butuhkan saat ini. Hanya saja mungkin rada kecewanya karena di film tidak banyak dikupas mengenai masa-masa awal sekolah Temple Grandin melainkan dimulai beberapa saat sebelum beliau memasuki masa perkuliahan. Masa kecil hanya diperlihatkan sedikit sekali. Itu pun hanya berupa kilasan saja. Begitu juga pada masa SMA.

Ada beberapa adegan yang mengesankan saya. Salah satunya adalah bahwa sang ibu begitu ngotot menyuruh anaknya kuliah. Padahal Temple Grandin merasa senang tinggal di peternakan bibinya. Dia merasa, disini dia punya tempat. Dalam pikiran saya saat menyaksikannya, duileeeh! Meni si ibu maksa bener!

Kalau saya jadi ibunya Temple Grandin, saya gak akan maksa anak saya untuk menjalani apa yang menjadi siksaan baginya. Dia bisa tumbuh dengan baik, dan dalam beberapa hal, mandiri. Dan dia bahagia tinggal di peternakan. Kenapa gak biarkan saja dia menjalani hidupnya dengan bahagia. Saya kira, itulah akhirnya.

Tapi kemudian, saya berubah pikiran.

Temple mungkin masih harus berjuang, mengalami rasa pahit yang lebih panjang. Namun pada akhirnya, dia bisa hidup bukan hanya untuknya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Memberikan banyak kepada dunia. Kepada orang-orang yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dia bisa melakukan sesuatu. Dan nampaknya dia sendiri pun mengerti pada akhirnya. Bahagia juga.

Terkadang, kita sampai pada titik aman dimana kita merasa sudah cukup puas dengan hidup kita. Bahwa kita sudah hidup dengan baik, cukup memberikan kepada lingkungan kita. Walau sedikit. Paling tidak, kita merasa bahwa kita hidup sudah berarti. Tanpa kita sadar, bahwa jika kita mau lebih keras menyingkirkan rasa nyaman itu dan menghadapi rasa sakit, mungkin kita bisa lebih berarti lagi.

Orang baik umurnya pendek, orang hebat umurnya panjang.

Jangan mengartikan umur itu sepicik masa kita bernafas.

Download Tempe Grandin disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s