Kodoknya Meletus!!

Kalau ada waktu, silakan baca yang ini dulu.

Hari ini insidennya tentang binatang.

Okeh, seperti yang Anda tahu, sekolah tempat saya bekerja ini bukanlah sekolah alam, tapi kebanyakan pengunjung atau orangtua murid menyangka bahwa sekolah ini adalah sekolah alam. Sebab terletak di dalam sebuah kebun.

Awalnya, tanah tempat berdirinya sekolah memang sebuah tanah kosong penuh dengan tanaman. Sebagian besar adalah pohon rambutan. Ada juga kepala sawit, kelapa, pala, pepaya, jambu, mangga, labu, kacang panjang, jahe, lengkoas, dan banyak lagi. Maklum, tanah ini terletak di tempat yang subur dan basah. Lalu sang pemilik yang seorang pengusaha pada suatu hari, tepat beberapa saat sebelum meninggal dunia, tiba-tiba memiliki keinginan yang besar untuk memiliki sebuah tempat pendidikan. Sebuah sekolah di dalam kebun. Lalu istri dan anak-anaknya yang sesungguhnya gak ada satupun yang memiliki latar belakang dalam dunia pendidikan ini mewujudkan impian yang gak kesampaian sampai akhir hayatnya itu.

Sekolah di dalam kebun, hmm…  Bukan sebuah tempat yang memang di buat khusus untuk menjadi sekolah alam, tapi memang kebun yang sama sekali gak disiapkan menjadi sekolah. Dalam beberapa hal, tentu rasanya seru. Anak dan guru sama-sama mengeksplorasi dan menemukan berbagai macam hal atau sudut yang gak pernah kita tahu sebelumnya. Tapi di sisi lain, rada ngeri juga kalau sudah berkaitan dengan hama. Misalnya, serangan ulat bulu yang selama beberapa tahun belakangan ini begitu mengerikan. Disinyalir gara-gara terjadinya kekacauan dalam ekosistem kebun ini. Predator si ulat bulu tersingkir tanpa sengaja menyebabkan populasi ulat yang meledak sampai membuat pusing tujuh keliling semua orang. Jangankan cacing, lintah pun terkadang nakal pisan naik-naik ke dalam kelas pada musim hujan. Kaki seribu (jangan bayangin yang kecil, ini ukuran raksasa jek!!) udah cerita biasa. Pernah kejadian ular ditemukan tidur nyenyak di salah satu pojok TK pada hari minus 3 sebelum awal tahun ajaran baru. Hari saat anak-anak belum datang hanya guru dan cleaning service serta tukang kebun menyusuri seluruh pojok kebun dan sekolah mengecek sana sini. Dan temannya ulat bulu yang suka meledak populasinya tapi lebih radikal menyerang ke dalam kelas adalah…jreng..jreng…

Kodok!!

Saat ini kodok lagi banyak, tuh! Dan anak-anak kelas kecil juga lagi hepi-hepinya ngumpulin belalang. Kebayang duooong, kelas gimana wujudnya!! Banyak makhluk kecil lelompatan yaitu belalang dan kodok.

Anak-anak sih hepi aja seru-seruan, gurunya yang blingsatan. Apalagi guru-guru cewek yang kebanyakan jijik sama kodok. Udahlah pasukan cleaning service dipanggil sana sini guna menghalau kodok keluar kelas.

Tapi di kelas saya, pagi-pagi, hebohnya bukan kodok. Malah kucing.

Haaah, kucing?

Iya, kucing!

Salah seorang anak saya menjerit kaget sekali gara-gara ada kucing beranak di dalam lockernya.

Giamana yah ceritanya itu kucing bisa masuk ke dalam salah satu locker siswa di lantai tiga? Sungguh misteri besar yang membuat kita semua bingung mati-matian.

Saat saya bercerita pada rekan guru, malah dibalas begini:

‘Ih, masih mending di dalam locker tau-tau ada kucing beranak. Masa di locker salah satu anak saya, tau-tau ada tikus beranak.’

Hiiiiy…. Trus gimana?

’Yaaaa, kita kan sempet pindah kelas dulu, inget kan? Tapi biar sekarang katanya udah gak ada lagi, tetep aja deh bawaannya ngeri.’

Oh, ya..ya… Kejadiannya tahun kemarin. Sempet disemprot hama segala. Dibersihin sampai ke sudut-sudut.

Eniwey, kucingnya kami letakkan di kardus bersama kain-kain bekas lalu kami letakkan di salah satu pojok kebun. Kami yakin mereka akan baik-baik saja.

Istirahat, Bu Rita walikelas 2A masuk ruang guru begidikan.

‘Iiih, saya ngeri deh… Tulung temen-temen, tulung saya. Ada kodok..’

Yaaa, kodok mah biasa atuh, Neng!

’Masalahnya, kodoknya digendong sama Adli. Kayak boneka gitu…’

Hallah, jijiiiiiik……..

’Saya mau ambil kodoknya malah kena tonjok si Adli, tuh!’

Kita keluar, dan sebagian besar guru cewek ngacir jauh-jauh lagi pas ngeliat kodok yang dipegang Adli itu gede, bok! Nampaknya sudah semaput! Bayangin aja dicengkram di lehernya gitu. Di goncang sana-sini.

Hayyyah, kasihan sekali itu kodok…

Gak usah sewot sama Adlinya, itulah kesulitannya dia. Penyandang asperger syndrom memang susah untuk menangkap bahasa non verbal. Dia susah ngerti apa yang tidak diucapkan. Baginya, emosi adalah hal yang hampir gak dapat dipahaminya. Makanya rasanya seperti tidak memiliki empati.

Dan bener juga, begitu kita mendekat, si Adli malah lari. Masuk ke ruang kelas 1 yang langsung disambut teriakan heboh anak-anak kelas satu.

Bu Rita masuk, lalu berteriak:

ADLI KODOKNYA LEMPAR!!

Dia mengkerut dahi.

BUANG KELUAR!

Dia melemparkan ke lantai. Satu detik saya dan Bu Rita sempat melihat nampaknya sang kodok memang sudah tewas. Gak heran karena lehernya dicengkram begitu keras.

Hanya satu detik saat Adli sudah berteriak:

’BUANG SAMPAH!’

Lalu dia angkat kakinya tinggi-tinggi, kemudian dihantamkannya ke badan sang kodok. Langsung pecah isi perutnya berhamburan menyembur dari mulutnya yang robek besar.

………………. (Saya dan Bu Rita bengong)

’Kodoknya meletus.’ Kata Adli. Lempeng.

Saya memejamkan mata mencoba mengusir adegan saat isi badan sang kodok mencrat keluar itu. Mengerikan! Untung anak-anak sudah keluar kelas semua. Kebayang deh saya aja sampe kebawa mimpi!

Bu Rita membawa Adli ke dalam kelas sambil bicara:

‘Adli gak boleh melakukan itu lagi sebab itu melanggar peraturan sekolah, ya… Kita gak boleh menyakiti makhluk hidup. Itu salah! Tidak boleh…….. (masih bicara-bicara)..’

‘Kodoknya meletus.’ Kata Adli.

2 thoughts on “Kodoknya Meletus!!

  1. zzz…untung aja Ibu berdua cuma bengong…Saya pasti udah teriak…wong baca aja udah hampir teriak….

    ckckck..semoga berhasil ya Bu..dengan para ABK-nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s