Saat Orangtua Marah I: Gosip Ruang Guru

Beberapa saat selepas awal tahun ajaran baru, saat rapat guru, Pak Kepsek sempet menyinggung tentang suatu insiden yang menimpa beberapa orang guru. Tidak membahasnya di forum, hanya menyinggung dikit. Guru-guru yang lain tidak begitu ngeh. Tidak tahu bagaimana kisahnya secara lengkap. Namun kami tahu bahwa nampaknya beberapa orang guru baru saja kena semprot amarah dari salah seorang OTW.

’Jadi gini ceritanya,’ kata Pak Kepsek sambil cengar-cengir. ‘Ini kita saking rusuhnya awal tahun ajaran baru, sampai-sampai gak ngeh akan beberapa hal. Gara-gara begitu repotnya ngurusin 25 anak yang lain, ditambah masih kagok ngadepin ABK yang baru mendarat, luputlah satu anak yang gak masuk beberapa hari, gak keliatan. Akhirnya kejadian kena semprot, huehehe… Tapi gak apa-apa bapak dan ibu. Jangan terlalu ambil hati. Orang itu beda-beda. Jangan terlalu kepikiran banget. Paling tidak, jadi pelajaran buat kita.’

Kita yang gak ngerti cuma menerka-nerka saja. Kisah lengkapnya baru tadi kami terima. Di ruang guru. Saat semua sedang rusuh kerja dengan diselingi canda sana-sini.

Jadi begini ceritanya:

Ada 3 kakak beradik di sekolah, mari kita sebut mereka dengan A, B, dan C. Ini yang nulis lagi gak kreatif bikin naman samaran. Lagi lieur banyak kerjaan, huehehe…

A adalah siswa kelas 4, B siswa kelas 3, dan C adalah siswa kelas 1 SD. Nah, si B sakit dua minggu. Sejak awal tahun ajaran ini sama sekali gak masuk sekolah. Pak Kelas 3 sudah mendapatkan kabar bahwa B sakit, tapi tidak dirawat di RS. Sakit mata biasa. Sementara itu si C yang baru duduk di kelas 1 SD agak kesulitan dalam membaca. Bukan tidak bisa. Dia bisa baca dengan cepat dan lancar, namun terbalik! Kebayang bukan? Dari kanan ke kiri. Ini rada bikin sang walikelas bertanya-tanya. Kok bisa begini, ya? Dicoba baca dari kiri ke kanan gak bisa. Seakan baginya, itu adalah salah total! Baca itu ya dari kanan ke kiri. Maka sang walikelas C sudah merencanakan untuk menemui OTW untuk sekedar mencari informasi kenapa bisa begitu. Gimana ceritanya kok bisa bagi si C membaca itu harus kanan ke kiri dan menolak keras baca dari kiri ke kanan.

Minggu kedua, giliran si kakaknya yang A sakit tidak masuk. Maka, sudahlah 3 guru ini berinisiatif datang ke rumah. Dua guru bermaksud menjenguk, satu guru sekalian mau tanya-tanya tentang kesulitan anaknya. Bertiga-tiga mereka riang mendatangi rumah kakak beradik ini pada suatu sore yang disambut dengan kata-kata ketus sang ibu.

’Ooo, akhirnya datang juga, ya.. Saya udah bertanya-tanya tuh! Guru macam apa walikelasnya anak saya sebenarnya. Salah satu muridnya sakit kok rasanya gak ada perhatian sama sekali. Gak malu bapak-bapak dan ibu-ibu makan gaji buta? Pantesan aja dunia pendidikan kita kacau balau begini. Dipenuhi orang-orang seperti kalian ini, sih!’

DOENG!!!!

Pak Kelas Tiga langsung berasa banget, dooong. Soalnya, anaknyalah yang sudah seminggu gak masuk itu.

‘Iya, ibu.. Kami minta maaf. Baru sempat menjenguk sekarang…’

’Oh, gak gak!! Gak ada alasan, dong! Sebab yang namanya kepentingan anak itu nomor satu! Gak bisa ditunda-tunda dengan alasan apapun.’

Dalam hatinya Pak Kelas Tiga:

 

Alasannya adalah ada 25 anak lain di kelas yang salah satunya autis yang musti saya urus dan ini tahun pertama saya menjadi walikelas. Jadi saya juga masih kagok bingung. Saya kira hanya menelpon ke rumah bertanya kabar apa saja sudah cukup. Istri saya baru melahirkan saya musti pulang cepat untuk bantu-bantu nyuci popok anak saya. Selepas mengajar di sekolah ini saya masih harus mendatangi beberapa rumah untuk memberi les privat buat nambah-nambah biaya hidup. Ah, tapi ibu gak perlu tahu lah apa yang musti kami semua jalani setiap hari.

Maka ya udah, tuh! Tiga guru berdiri di depan rumah dinasehati panjang lebar oleh salah satu OTW. Saat pulang, dan pada hari-hari selanjutnya, mereka bertiga nampaknya diam-diam tanpa kata sepakat bahwa kejadian itu tidaklah perlu terlalu dipersoalkan. Tidak dibahas kecuali dengan Pak Kepsek yang juga tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Pak Kepsek hanya menelpon sang ibu dan meminta maaf jika dia merasa kalau anaknya tidak diperhatikan.

Lalu kenapa tau-tau dibahas?

Sebenernya, gak dibahas. Hanya cerita-cerita saja dikarenakan ada salah satu guru baru, masih muda sekali, dan belum pernah mengajar pun bukan lulusan ilmu pendidikan (dia guru pelajaran mulok) yang pagi-pagi dikirimi surat cinta melalui buku penghubung. Gara-gara dia salah hitung nilai salah satu anak kelas 2 SD. Seperti yang kita semua paham, OTW kelas 1 dan 2 biasanya super duper kritis. Jangankan ulangan, PR pun dikoreksi lagi kerjaannya guru. Sebenernya gak aneh, sih! OTW kami berasal dari kalangan terdidik dan saat anaknya kelas 1 dan 2 SD itu lagi masa-masanya idealis banget!! Musti perfect sesuai dengan artikel-artikel perkembangan buah hati. Nanti saat anak mulai menginjak kelas 4, mulai deh berasa kalau ternyata segalanya gak seperti teori. Pun pelajaran sekolah udah ngejelimet bikin OTW angkat tangan menyerah. Boro-boro mau mengkritisi lah orang kadang mereka pun pusing ngerjainnya. Apalagi saat itu sang adik sudah ada. Jadi perhatian tidak tertumpah pada satu anak saja.

Sang guru baru ini menangis sesunggukan di ruang guru. Gara-gara kalimat seperti ini:

Tolong dong, Bu. Lebih teliti! Masa sih ngoreksi soal aja salah-salah, sih!

‘Saya capek..’ kata sang guru baru. ’Saya musti ngoreksi ulangan Bahasa Sunda dari kelas 1 sampai kelas 6 dalam waktu dua hari. Saya sampai begadang-begadang ngerjainnya.’

Beuh!! Saya bilangin, yah! Namanya ngoreksi soal paling berat itu adalah soal-soal Bahasa dan Ilmu Sosial. Tau kan alasannya? Soal Ilmu Sosial gak jauh dari pendapat dan analisis. Apa gak keriting tuh mata baca tulisan anak-anak yang kadang susaah bener dimengerti. Dan Bahasa… Bersyukur tahun ini saya gak megang kelas bahasa apapun lagi. Capek, bok!! Bukan cuma baca kalimat-kalimat (apalagi kelas besar yang disuruh bikin kalimat majemuk setara dan sebagainya), juga pengen muntah-muntah ngoreksi EYD-nya. Soal pelajaran bahasa itu berlembar-lembar, kali jumlah anak, kali jumlah kelas. Mimpi buruk, lah!!

Menghadapi itu, kita jadi pada cerita ajalah pengalaman pertama diomelin OTW. Maksudnya sih, biar dia gak gitu merasa sendirian. Toh hampir semua guru pernah mengalaminya. Termasuk saya.

Lucu-lucu juga jika kita mau melihatnya dengan humor (tragis?) sebagai pengalaman yang mendewasakan dan mendidik kita sabar yang ternyata, bukan hanya kepada anak-anak saja. Tapi kadang, pada orangtuanya juga. Yaaaa, kita ini kan berkecimpung di dunia jasa. Orangtua bayar mahal untuk menyekolahkan anaknya (yang sebenernya sih lebih ke bayar fasilitas fisik yang mahalnya), jadi pastilah pengen yang terbaik. Kita sebagai guru juga pengen memberikan yang terbaik, namun kadang tidak mampu untuk itu setiap saat.

Maka kisah-kisah diomelin OTW ini nyaris selalu sama. Ada saat dimana guru dalam keadaan tidak dapat optimal memberikan tenaga dan pikirannya lalu melakukan kesalahan, OTW menegur yang terkadang dengan cara yang tidak halus. Tentu juga mungkin karena OTW sendiri pun sedang ada sesuatu. Pernah kejadian salah satu rekan saya dicaci maki sepanjang empat halaman buku penghubung. Baru selesai rekan saya baca, sang ibu nongol di sekolah dan menjelaskan bahwa saat itu dia sedang betul-betul emosi. Suaminya dirawat di RS, bayinya juga sakit, tau-tau anaknya datang mengadukan masalah yang sebenernya sepele, tapi keadaan bikin sang ibu spaneng berat. Langsung pula dia tulis itu kesewotan berlembar-lembar yang kemudian dia sesali.

Satu kisah bikin saya deg-degan juga. Mengenai salah satu OTW-nya anak saya sekarang. Anak ini memang nilainya rada awut-awutan. Saat kelas 3 dulu, tiap ambil rapot, ibu sang anak marah-marah kepada sang walikelas. Saking sewotnya sampai OTW yang lain, saat sang otw yang marah itu sudah pergi, pada merubungi walikelas tiga. Bicara-bicara:

’Gak usah diambil hati, Bu. Dia emang orangnya gitu. Dari dulu juga gitu. Semua guru dimarahin sama dia.’

’Iya, Bu… Udah gak usah dipikirin..’

Huehehe…..

Tapi saya dengar, saat kelas 4, sang ibu udah gak marah-marah lagi. Atau paling tidak, saya gak denger kisah itu terulang lagi.

Ternyata, tetep tuh! Pak Kelas 4 baru bercerita hari ini.

’Saya mah yang paling berkesan itu ambil rapot bayangan semester 1 tahun lalu. Dari awal aja udah salaaaah melulu. Itu rapotnya xxx, hilang! Meni kebingungan sayah. Gak taunya, jatuh dari laci meja ke bawah dalam meja. Mungkin karena rapotnya paling atas, dan waktu nutup saya kekencengan. Satu rapot hilang. Begitu OTW mau ambil, langsung sewot gara-gara rapot anaknya gak ada. Marah-marah. Akhirnya saya lari ke bawah buat print lagi (rapot sekolah saya bentuknya print-out yang tinggal dimasukan di albumnya saja). Eh, nilainya jelek-jelek, tambah panjang marahnya. Pokoknya, paling berkesan lah saat itu.’

Saya kaget, duooong!!

Loh, Pak, saya kira pas kelas empat mamanya xxx udah gak suka marah-marah lagi..

’Masih, Bu.. Cuma saya males cerita-ceritanya…’

Yailah, bikin deg-degan aja. Hari Kamis kita ambil rapot, nih! Dan nilainya anak itu kan hampir semuanya di bawah KKM. Waduh, kena marah juga saya nampaknya, ya?

‘Yaaa, hadapi saja dengan senyum dan sabar, ya, Bu… Siapkan tisu siapa tau ibu gak tahan…’

Huaaaaa…

 

Catatan: OTW yang suka marah ini hanyalah sebagian kecil saja. Jangan Anda berpikir bahwa semuanya seperti itu. Kenyataannya, justru sebagian besar OTW adalah partner kami yang baik dan pengertian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s