Jualan Sekolah

Tulisan di Jurnal Perempuan 67 membuat saya teringat dengan kisah yang diceritakan oleh Bu Rita and the Gank. Tulisan itu membahas megenai pentingnya kecantikan pada industri media. Bukan, yang dibahas bukan mengenai pesohor, tapi jurnalis yang ternyata gak cukup pintar saja. Bahkan, yang pintar disembunyikan di belakang yang cantik. Well, saya jadi nyengir sendiri. Jangankan pada industri media, deh!

Beberapa tahun yang lalu, ada surat dari OTW di kotak saran. Salah satu isinya, menyarankan agar pihak yayasan mempertimbangkan penampilan saat akan menerima seseorang sebagai guru. Bagi kami itu menggelikan sekali. Saya kira, sepreman-premannya, kita berangkat mengajar pastilah bersih dan rapih. Dalam pikiran saya saat diberitahu mengenai saran tersebut bahwa jangan sampai ada guru yang mengajar dengan awut-awutan.

Lah, emangnya kita ini masih mahasiswa, ya?

Soalnya waktu mahasiswa dandanan saya awut-awutan banget, huehehe….

Ternyata ini memang masalah god looking atau enggak. Karena beberapa OTW terang-terangan menyatakan:

’Kayaknya kalau kita bicara sama guru yang cantik itu lebih enak. Lebih oke…’

Hekkk!!!!

Beberapa tahun kemudian yaitu tahun ajaran kemaren, kami banyak mendapatkan rekan baru yang hampir semuanya berasal dari satu sekolah yang sama. Semuanya perempuan dan semuanya cantik. Sampai bikin heran benerlah, kok bisa ya ini para guru semuanya cantik?

Kemudian kami tahu bahwa itu bukan kebetulan. Memang disengaja cantik.

Tidak tahu bagaimana proses penerimaan guru baru di sekolah tetangga kami itu yang jelas, berpenampilan cantik adalah kewajiban setiap karyawan termasuk guru. Maka sebelum bertugas, setiap dari mereka diwajibkan ikut kelas kecantikan dan rias wajah.

Sumpah, sumpah!! Saya aja termelongo-melongo mendengar kisahnya. Ini mau jadi guru apa costumer service?

Bel masuk pukul delapan pagi tapi setiap orang wajib hadir paling lambat pukul setengah tujuh pagi. Mereka semua diwajibkan untuk berapih-rapih dulu. Bukan hanya seragam yang disediakan, tapi juga peralatan rias lengkap dengan perfume mahalnya dan aksesoris. Pihak yayasan bahkan dengan royalnya memberikan bonus-bonus yang tak beralasan kepada para guru berupa hadiah-hadiah yang bisa dan harus mereka kenakan seperti jam tangan, tas, sepatu dan perhiasan.

Saya sama sekali gak mengatakan bahwa rekan-rekan guru di sekolah tersebut cuma cantik doang, lowh, ya… Mereka rekan-rekan yang menyenangkan, kreatif, dan berdedikasi. Beberapa bulan setelah mereka pindah mengajar ke tempat ini semuanya kembali ke asalnya. Simpel dan gak ribet-ribet amat lagi. Segala make up sejembrengan itu gak pernah lagi saya lihat. Maka saya mengerti bahwa yang sebelumnya adalah bentukan.

Bagaimana ya rasanya menjalani hari menjadi apa yang bukan kita?

Lalu saya tahu bahwa, itulah yang menjadi alasan kenapa mereka ngacir dari tempatnya yang dulu.

Penampilan guru memang merupakan hal yang penting saat kita mau jualan sekolah. Beberapa teman saya, yang semuanya mengajar di sekolah yang berlainan, menyebutkan hal-hal yang sama. Ini membuat saya terpana. Kok bisa-bisanya sih semuanya ngomongin hal yang sama?

Jadi teringat kutipan di salah satu novel Nawal El Saadawi:

Di negeri ini segala harga naik kecuali warga negaranya.

Rekan-rekan saya yang berbeda-beda sekolah itu (tapi tetap satu jua masalahnya) harus menghadapi getirnya putus hubungan kerja. Bukan karena mereka telah melakukan kesalahan, bukan karena mereka adalah guru yang tak berkualitas. Tapi karena kebijakan di atas sana, untuk mengurangi jumlah guru pribumi. Demi menambah guru asing di sekolah. Guru-guru bule berstatus WNA yang berbicara Bahasa Indonesia dengan terpatah-patah itu jauh lebih disukai, dan lebih menjual nama sekolah. Semakin banyak guru asing, maka semakin berebutan orang untuk memasukkan anaknya di sekolah itu. Ini adalah klimaks dari panjangnya pahit yang dihadapi oleh rekan-rekan saya dalam menghadapi diskriminasi di negerinya sendiri, yang dilakukan oleh saudara pribuminya sendiri. Betapapun beban kerja antara guru pribumi dan guru asing ini sama, bahkan cenderung lebih berat guru pribumi karena jika ada apa-apa OTW bisa memaki guru pribumi tapi sungkan protes ke guru asing. Walaupun guru-guru pribumi itu kualitasnya setara dan berbicara bahasa asing juga, upah yang mereka terima jauh berbeda. Guru asing bisa tinggal di apartemen sementara guru pribumi tetap ngontrak tiga petak ke sana kemari dengan motor kreditan. Dan itu semua demi satu kata: menjual.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Jualan Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s