Pada Akhirnya Alhamdulillah

Widih, dua minggu ini bener-bener keteteran sama hidup yang rasanya satu hari duapuluh empat jam itu kurang, ya, gak?

Ya, yaaaa… sebenernya sih, sok sibuk ajalah! Hihihi…. Hal-hal yang biasa aja. Berputar antara sekolah, rumah sakit, dan saya. Lagi minggu ulangan anak-anakku. Dan seperti biasanya, satu ulangan sebelum ulangan yang terakhir adalah proyek dan presentasi. Baik itu IPS dan PKN. Dari kelas tiga sampai kelas enam. Dan jangan kira ini santai, yaa… Kelihatannya sih emang rasanya santai betul!! Bagaimanapun, kelihatannya emang gurunya gak ngapa-ngapain. Bahkan gak bikin soal. Hanya nyuruh anak-anak cari info tentang ini itu bikin ini itu lalu nanti presentasi.

Guru kipas-kipas!

Sebenernya gak begitu kenyataannya! Percayalah, malah justru lebih repot dan lebih menguras tenaga. Gak seperti ulangan reguler yang berlangsung dalam waktu dua jam pelajaran lalu selesai tinggal koreksi. Ulangan proyek artinya harus bersedia setiap saat setiap waktu dicari-cari anak-anak yang minta petunjuk atau curhat mengenai susahnya mencari bahan. Sibuk ngasih masukan dan pendapat. Kadang juga ruwet ikut memberi nasehat dan mencari solusi jika terjadi slek atau pertikaian didalam kelompok kerja yang selalu saja terjadi. Lalu presentasi yang gak akan bisa selesai dalam sekali masuk kelas. Sibuk juga memberi masukan kepada sang pembawa materi.

Intinya, saya teler bok!

Ditambah bolak-balik rumah sakit yang bukan cuma check up, tapi juga ruwet kesana kemari ngurus SKTM. Bagaimana lagi. Saya kan minta bantuan itu artinya saya juga harus bersedia untuk ribet dan dijutekin petugas yang saya datangi kadang-kadang. Bahkan dimarahin oleh dokter saya di puskesmas yang pertama kali mendeteksi penyakit saya ini. Tapi itu memang kesalahan saya. Menghilangkan surat yang oenting sekali. Terduduk aja di luar dengan bengong, hihi… Biasa marahin orang sekarang dimarahin rasanya nyelos juga. Tapi alhamdulillah, sudah selesai semuanya. Hanya tinggal memperpanjang setiap tiga bulan sekali. Syukurlah, tepat pada waktunya. Sebab dalam beberapa minggu, saya harus lanjut ke pemeriksaan selanjutnya yang saat saya minta info biaya, jawabannya walaupun gak membuat saya terkejut tapi tetep bikin tercekat juga.

Saya: Trus biayanya berapa kira-kira, ya, dok?

Dokter: sekitar sepuluh juta.

Saya: (bengong)

Gile, ini masih tahap periksa sana sini, lowh! Coba kalo gak ada itu bantuan sama sekali. Darimana itu biaya sebanyak itu saya cari?

Selain itu (dan sibuk hidup saya selain guru SD serta penderita KJB (kelainan jantung bawaan) yang tidak akan saya masukkan di blog ini tentu saja), tambahan tugas pula mempersiapkan anak-anak kelas 6 yang akan UASBN. Bukan cuma tambahan jam ngajar pastinya, tapi juga pikiran tentang gimana caranya kita bisa lulus dengan nilai baik sekaligus tidak membuat anak-anak tertekan.

Well, akhir dua minggu yang rusuh penuh jungkir balik untuk saya ini adalah laporan dari rekan-rekan saya:

‘Bu Alifia, itu anak-anaknya diapain? Perubahannya drastis sekali, loh! Sekarang udah jauh lebih bisa diajak bekerja sama. Bisa serius di kelas. Mau patuh dan dengerin guru.’

Alhamdulillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s