Bagaimana Jika Bagaimana Kalau V: Disiplin

Tadi saat istirahat, Bu Rita memberikan selembar kertas kepada saya. Tugas anak-anaknya kelas 1 SD. Saya diminta untuk melihat jawaban salah satu anak yang kita sebut saja namanya Arick.

Tulisan Arick seperti ini:

Pengalaman yang menyenangkan aku adalah waktu makan es krim di mall. Boleh makan sebanyaknya terserah boleh milih rasa apa aja terus jalan-jalan ke Bali. Pengalaman yang tidak menyenangkan adalah waktu dadaku diinjek ayah terus waktu aku dipukul pake gesper sama ayah.

Saya membacanya, kemudian tercenung.

Ini anak yang di rumahnya ada CCTV-nya itu?

Bu Rita mengangguk.

Beberapa saat yang lalu, Bu Rita memang sempat bercerita. Salah satu walimurid anaknya adalah seorang pejabat polisi. Dia benar-benar ingin menerapkan disiplin di rumah. Maka setiap ruangan dipantau CCTV.

Mungkin rumah dengan CCTV bukanlah hal yang benar-benar aneh, walaupun asing. Mengingat bahwa si pemilik adalah pejabat. Mungkin memang perlu sebagai tindakan pengamanan.

Tapi ternyata bukan itu saja.

Bu Rita termelongo saat sang ayah menjelaskan fungsi CCTV itu salah satunya adalah alat pemantau anak-anak. Bukan keselamatan mereka, tapi kenakalan mereka. Dengan adanya CCTV, maka semua ulah usil nakal anaknya bisa terekam yang tentu saja, akan ada hukumannya.

‘Saya ingin anak-anak saya disiplin, Bu.’ Kata sang pejabat kepolisian. ‘Kalau mereka melakukan kenakalan, ya, harus dihukum.’

Dan kami berdua terus menatap selembar kertas dengan bertanya-tanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s