Hukuman Buat Teman

Dua tahun yang lalu, satu anak saya tidak diajak bicara oleh seluruh rekan sekelasnya. Anak kelas lima. Merasa sudah besar jadi gak cerita-cerita tentang apa yang sedang dialaminya. Saya baru tahu setelah hampir dua minggu berjalan dan itupun dari sang bunda yang menceritakan kembali curhat yang diceritakan anaknya di rumah. Selidik punya selidik, ini adalah hukuman social yang dijatuhkan oleh rekan-rekan si anak. Tidak diajak bicara. Kesalahan sang anak yang dihukum itu karena dia tidak dapat menjaga mulutnya. Bicara selalu kasar dan menghina, senang mencemooh teman, serta mengata-ngatai orangtua teman. Karena masalahnya adalah mulut, maka dibalas dengan mulut juga. Tidak balas mengata-ngatai atau menghina, tapi berhenti bicara kepadanya.

Sampai kapan?

’Sampai dia mau berubah, Bu. Sampai dia bisa menjaga lidahnya dari hal-hal yang buruk.’

Dan sebelum itu, kalian gak akan ngajak bicara?

’Iya..’

Trus, gimana dia tahu kesalahannya kalau kalian gak kasih tau dia kesalahannya apa?

……. (bingung)

’Yaa, pastilah dia tahu lah! Masa sih dia gak tau…’

Gimana dia tahu kalau kalian gak kasih tau. Emangnya dia punya kekuatan super bisa baca pikiran orang?

Salah satu hal menarik bagi saya sebaga guru adalah memperhatikan pola interaksi anak-anak. Mereka sedang belajar menjadi warga, menjadi bagian dari komunitas. Mereka belajar untuk bersosialisasi, bersitegang, berkonflik, juga juga belajar untuk menyelesaikannya. Anak-anak khususnya kelas kecil adalah yang paling banyak kelihatan ada masalah. Anak ngadu karena gak ditemenin atau dianiaya teman adalah makanan sehari-hari. Bisa dibilang, guru kelas 1 dan 2 SD jarang bisa duduk, lah! Tiap saat ada saja anak yang datang…

Ngadu temannya ini dan itu…

Bilang dipukul ditendang didorong…

Curhat diambil makanannya sama teman….

Tentu saja, anak usia segitu kan lagi belajar banget menjadi bagian dari kelompok sekaligus berpendirian. Mereka bukan lagi manusia yang digandeng ortunya yang membawa mereka ke sini dan situ. Untuk pertama kalinya, mereka sendiri. Berada di tengah-tengah orang seusia mereka. Benturan selalu terjadi.

Yang ini mau ini yang itu mau itu tapi yang itu gak berani ngomong akhirnya ikut ini.

Selesai?

Tentu gak.

Si itu memang ikutan ini tapi dia sesungguhnya kan maunya itu. Maka terpendamlah kekesalan itu di dalam dadanya. Keluar nanti di kelas saat pelajaran uring-uringan gak mau dengerin guru. Atau dilampiasin di rumah nangis-nangis sedih.

Memang begitu.

Pada setiap persoalan di sekolah, guru selalu terlibat. Tapi tidak secara langsung. Terkadang guru harus lompat mejadi penengah, terkadang menjadi pengamat. Orang yang memeluk si anak yang terluka. Terkadang anak yang terluka itu adalah si pembuat masalah.

Tapi sekolah adalah tempat siapapun belajar, dan bukan diazab. Paling tidak, seharusnya begitu.

Salah satu hal menarik adalah bahwa hukuman tidak selalu datang dari guru.

Suatu hari, salah satu anak saya dinonaktifkan sebagai striker tim futsal tidak resmi sekolah (maksudnya bikinan anak-anak aja gitu bukan tim resmi sekolah) gara-gara dia bikin masalah terus saat main. Ngajakin berkelahi setiap anak. Berdebat, saling adu argumen, akhirnya sang striker pemarah ini dinonaktifkan selama satu minggu. Sampai dia bisa mengontrol emosinya. Sedih banget yang bersangkutan tentu saja dan kita, guru, cengar-cengir juga memperhatikannya.

Hukuman dari teman sendiri, kadang lebih kena. Bahkan jauh lebih kena dibanding dinasehatin guru.

Hari ini, salah satu anak kelas 2 dihukum oleh temannya. Dan dia adalah…

Jreng… jreng….

Adli si anak ABK.

Tau-tau aja masuk ruang guru duduk mojok diaaaaam aja. Mukanya ditutupin tangan. Beberapa detik kemudian, sang shadow teacher masuk. Setengah geli dia membujuk Adli.

’Makanya Adli sih yang salah bikin temen-temen marah, kan, gimana? Adli sudah melakukan yang gak boleh. Jadi adli dihukum. Adli harus terima hukumannya.’

Beberapa saat kemudian, sang shadow teacher cerita, begini:

Seperti yang kita tahu, Adli suka banget nangkepin belalang dan kodok. Akhir-akhir ini, dia lebih senang nangkep belalang dan kodok itu dengan teman-teman daripada sendirian. Wah, kami senang sekali. Adli akhirnya tertarik untuk bersama orang-orang bersama teman. Dan rekan-rekannya ini pun membantu. Mereka mau menemani Adli menangkap belalang dan kodok kapan aja selama itu saat istirahat tapi dengan dua syarat:

  1. Adli harus mau ikutan shalat berjama’ah dhuhur (Biasanya dia gak mau shalat dengan alasan bahwa Adli itu bukan orang Islam tapi orang Cina. Tu anak gak mau terima saat dibilangin bahwa Adli orang Indonesia keturunan Cina yang beragama Islam)
  2. Belalang atau kodok (atau binatang apa ajalah) itu tidak boleh disakiti. Pokoknya Cuma boleh ditangkap dan diletakkan di dalam kotak.

 

Adli setuju.

Maka tiap hari Adli dan teman-temannya ngegerusuk semak nyari belalang dan kodok. Kalo ketemu, diberikan ke Adli. Nanti saat pulang sekolah, semua binatang itu dilepaskan lagi di semak.

Jadi cuma diculik sebentar aja gitu, hehe…

Sampai hari ini saat Adli anteng banget duduk di belakang. Gak komentar apa-apa gak bawaannya pengen melarikan diri dari kelas menuju ujung bumi ini.

Duduk anteng.

Tenang.

Sampai salah satu anak, rekannya, berteriak.

’ADLIIIII…. Belalangnya kamu apain, iniiiii….’

Semuanya nengoklah ke Adli.

Dia nyengir lebar memperlihatkan giginya. Di atas meja, belalang-belalang itu sudah berubah warna. Si belalang di cat hitam sama Adli.

Maka teman-temannya marah, lah!

’Adli kan janji gak akan menyakiti binatang, Dli…. Pokoknya, kita gak mau nemenin Adli nyari belalang sama kodok lagi selama 4 hari. Itu hukuman buat Adli…’

’Iya, Adli dihukum sama kita….’

Adlinya langsung kabur dari kelas dan nangis dalam hati di pojok ruang guru.

 

One thought on “Hukuman Buat Teman

  1. Sanksi sosial dr warga kelas. Masih kecil, masih mengena, karena mereka berusaha utk selalu diterima kelompok. Menarik bgt ceritanya mpok. Salut ama guru SD yg kuat banget terima pengaduan murid2… Salut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s