Guru dalam Buku dan Film: François Marin (Entre Les Murs)

Entre Les Murs adalah film dengan gaya dokumenter dari Perancis yang mengambil kisah keseharian di dalam satu kelas, di satu sekolah, selama satu tahun ajaran. Seluruh adegan adalah apa yang terjadi di dalam sekolahan. Kamera mengambil gambar hampir seluruhnya adalah di dalam kelas, kemudian beberapa kisah pun diambil di ruang guru, dan lapangan. Mengikuti dari keseharian François Marin, seorang guru Bahasa Perancis. Tentang bagaimana dia mengajar dan memanajemen kelasnya. Sebenernya, film ini diangkat dari semi-otobiografi novel karya François Bégaudeau, yang menceritakan pengalaman-pengalaman kesehariannya sebagai seorang guru sekolah menengah.

Saat menonton film ini, saya langsung garuk-garuk kepala, dagu, dan jidat memperhatikan sabarnya Pak Guru menghadapi anak-anak yang rasanya ingin saya pentung kepalanya satu-satu saat menit-menit pertama menyaksikannya. Beuh, kalo saya, sebagai guru di negara timur ini, mungkin gak bakalan sanggup kali ya menghadapi anak-anak yang bagi saya preman di dalam kelas. Ngomong seenak bacot, ketawa dan berperilaku. Kayak gak ada aturan aja! Ngelus dada menontonnya! Tapi, yah, mungkin beda kultur aja. Di sini, kita terdidik untuk diam di dalam kelas gak berani ngoceh dan kalo bisa, menghilang biar gak perlu ngoceh. Di film ini anak-anak bahkan berani menanyakan terang-terangan di depan sang guru apakah dia seorang homoseksual dan mengkonfrontir sampai sang guru menyatakan dengan tegas ya atau tidak di depan kelas. Saya sebagai guru gak senang dan gak sependapat dengan kelas yang harus hening mencekam. Berusaha  agar itu berubah. Tapi juga gak demen liat gaya sejauh itu! Melihat anak-anak yang ngomong sambil nyender ngunyah pemen karet nguap-nguap kadang nunjuk-nunjuk guru dengan sewot rasanya gak banget!!

Bagaimanapun, sebagai guru dimana-mana memang nampaknya menghadapi hal-hal yang sama. Permasalahan kelas, putar otak membuat anak bisa memahami pelajaran dan berusaha mengubah prilaku untuk lebih bertanggung jawab. Tapi menonton kisah mengenai guru, selalu ada pelajaran yang dapat diambil. Bagi Anda yang bukan guru, mungkin menarik memperhatikan bagaimana kisah di sekolah yang menurut saya, disajikan dengan cukup blak-blakan. Dari sisi profesional sampai adegan saling curhat dan ambek-ambekannya guru saat kesabaran mereka ditantang sebegitu jauh.

Saya kira yang paling menarik perhatian saya adalah pada saat akhir tahun, ketika Pak Marin menanyakan kepada anak-anak mengenai apa yang telah mereka pelajari selama satu tahun ajaran ini. Disini hampir setiap anak ditanya, dan diminta untuk bicara mengenai apa yang mereka dapatkan. Jawabannya beragam tentunya. Ada yang bicara bahwa dia belajar mengenai hukum pitagoras, sistem reproduksi manusia, tata bahasa, dan sebagainya. Paling menarik saat ada salah satu anak menyatakan bahwa dia tidak belajar apa-apa.

Guru: Tapi kamu gak mungkin berada di dalam kelas selama 9 bulan dan tak belajar apapun.

Murid: Saya bukti nyatanya.

Guru: Apakah kamu belajar sesuatu dari buku yang kita baca?

Murid: Buku-bukumu jelek.

Guru: Bagaimana?

Murid: Gak ada gunanya.

Guru: Okey, bagaimana dengan buku yang kamu baca sendiri selain pelajaran?

Murid: Buku yang aku baca?

Guru: Ya..

Murid: Okeh, ada Republik.

Guru: Republik-nya Plato?

Murid: Ya..

Guru: Kamu baca?

Murid: Ya..

……..

Guru: Apa isinya?

Murid: Gini, ada seorang laki-laki namanya…. Ngng…

Guru: Socrates..

Murid: Oh, iya, Socrates. Dia menghentikan orang-orang di jalan dan bertanya, apakah kamu yakin memikiran apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu yakin mengerjakan apa yang kamu kerjakan? Orang-orang jadi bingung. Lalu mereka tanya dan… banyak

Guru: Apa yang kamu pelajari dari buku itu?

Murid: Banyak. Tentang manusia, Tuhan, cinta.. Macem-macem.

Guru: Bagus sekali kamu baca buku itu.

Murid: Memang. Itu baru buku yang keren.

Pertama, seandainya saya punya guru seperti Pak Marin ini. Kebanyakan guru hanya peduli bahwa siswa mereka menguasai pelajaran. Dapet nilai bagus. Sesimpel itu. Padahal, dunia gak sesempit ruang dalam kelas. Begitu banyak yang dapat di pelajari di dunia ini dalam waktu yang tersedia tidak terbatas pada kurikulum yang ditentukan saja.

Kedua, saya mengambil perhatian tentang bagaimana siswa diajak bicara mengenai apa yang dia pelajari di kelas. Sebenernya, ini penting sekali. Sepanjang sekolah dulu, saya tidak pernah diajak diskusi mengenai hal itu. Saya kira, memang dulu jarang ada guru yang mengkomunikasikan apa tujuan pembelajaran. Hasilnya? Jelas, kita tumbuh dengan rasa yakin bahwa gak belajar apa-apa di sekolah. Padahal, itu tidak benar juga. Kita belajar sesuatu, hanya kita gak ngeh bahwa guru memang mengajarkan sesuatu. Sebab kita gak pernah diajak untuk mereview apa yang sudah kita pelajari. Kita cuma disuruh ngerjain soal doang yang terkadang, hanya menggambarkan sedikit saja.

Film ini banyak mendapat penghargaan dan saya kira cukup menarik bagi penonton yang bener-bener berniat menyaksikannya. Ini bukan tipe film yang bisa bikin kita duduk gak bergerak menyaksikan sampai habis. Rada ngebosenin, euy! Mungkin karena gaya dokumenter begitu pun interaksinya orang-orang Perancis yang asing sekali bagi kita. Saya yang benar-benar berniat ingin nonton sampai habis pun musti dua kali gagal dulu sebelum akhirnya berhasil menyelesaikan, termangu, terinspirasi, lalu memutuskan untuk tidak akan menontonnya lagi. Sekali udah cukuplah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s