Bagaimana Jika Bagaimana Kalau VI: Cara Bikin Anak Pembangkang

Tadi Bu Rita menyeret satu anaknya ke dalam ruang guru. Sang anak tereak-tereak mengamuk memukul mukul sana kemari. Bu Rita tidak banyak bicara. Dia hanya berusaha setengah mati mendudukkan sang anak di salah satu bangku. Sang anak berontak, berdiri, berusaha kabur. Bu Rita menangkapnya, lalu mendudukannya kembali.

‘Kayla duduk disini. Gak bisa kembali ke kelas sebab kawan-kawan Kayka gak mau Kayla ada di kelas. Masih marah..’

Tu anak akhirnya diam. Duduk. Sebentar kemudian, berteriak.

’SAMPAI KAPAN?’

’Yaaa, sampai besok. Kayla mungkin gak pulang ke rumah hari ini.’

’Nginep disini?’

’Iya….’

’GAK MAUUUU……. Kayla mau kembali ke kelas. Kayla gak mau disini.’

’Kalo gitu, kasih tau Bu Guru apa yang musti Kayla rubah agar Kayla bisa kembali ke kelas.’

’………………’

’Kayla tadi bikin salah apa saja, sih?’

Anak ini, Kayla, baru saja membuat onar. Sepanjang istirahat, dia merampas dan mengambili makanan temannya. Saat diingatkan, dia memukul dan menendang. Semua anak kena pukul. Hampir semuanya nangis.

Tepat saat itu, Bu Eni sang guru BK (Bimbingan dan Konseling) masuk ruang guru.

’Bu Eni, ini kenalin Kayla yang ganteng ni loh, Bu. Tapi sayang, gantengnya agak berkurang sebab hari ini kurang sholeh. Bikin marah temen-temennya.’

Bu Rita mengatakan kalimat-kalimat diatas sambil pura-pura sibuk membereskan buku-bukunya. Bu Eni pun menanggapinya dengan seakan tidak menaruh perhatian khusus. Mengambil gelas dan menuang air panas dari dispenser di ruang guru.

’Kayla…. Oh, Kayla yang calon polisi itu, ya?’

‘Iya, Kayla yang gagah ini. Suka sekali makan es krim. Katanya pengalaman yang paling menyenangkannya makan es krim di mall. Kalo yang tidak menyenangkan pas waktu diinjek papanya di dadanya itu.’

’Oh, gitu….’ Bu Eni nyelup-nyelup teh di gelasnya, mengaduk-aduk, lalu menghampiri Kayla. ’Bu Eni juga suka makan es krim, loh! Emangnya Kayla makan es krimnya di mana biasanya?’

Begitulah. Tau-tau Kayla jadi ngobrol seru dengan Bu Eni. Tentang es krim, tentang di teman-teman, juga tentang di rumah.

Capeknya menghadapi Kayla adalah sikap membangkangnya yang mulai meletup-letup. Susah sekali dibilangin. Beda dengan anak seusianya yang bisa diajak dan dinasihati. Nampaknya bagi Kayla, butuh ancaman dan hukuman dulu agar ini anak mau mendengarkan orang. Begitulah selalu curhatannya Bu Rita.

Gak perlu banyak heran, bukan? Anak ini biasa diancam untuk patuh. Biasa ditakut-takuti untuk dapat bersikap.

Beberapa jam kemudian, Pak Kelas Tiga tau-tau curhat bahwa dia sedang kesal dengan kelas enam yang hari ini lagi susah diatur. Gak mau dengar sama sekali.

’Kelas enam itu kompakan. Kalo lagi susah diatur, semuanya susah diatur. Kadang jadi lebih ruwet dari kelas lima.’

Yaaa, kelas lima lagi, deh! Perasaan tahun ini anak-anak saya tukang bikin masalah banget, sih! Siapa sih walikelasnya siapa, siapa? Hah? Gak beres banget walikelas lima…

Pak Kelas Tiga yang sekaligus Ustadz Fiqh di kelas saya ketawa.

’Gak sih, Bu. Kalo dibilang nakal juga enggak kelas lima itu. Cuma terlalu banyak becanda aja.’

Ya, ya, ya…. Saya cuma baru dengar sekitar, sejuta kali mengenai anak-anak saya terlalu banyak becanda.

‘Saya kira, di kelas lima itu yang kelihatannya musti dapet perhatian lebih itu paling cuma si Doddy. Dia aja yang agak beda dibanding anak yang laen.’

Doddy itu anak yang OTW-nya menggebrak meja saya dan mengatakan ingin menggamparnya saat ambil rapot tengah semester yang lalu. Beberapa hari kemudian, saya menanyakan kepada Doddy apakah dia dipukul oleh orangtuanya. Doddy Cuma angkat bahu dan bilang kalo itu sudah biasa.

Memang Doddy kenapa, Pak?

’Anak yang lain itu tukang becanda. Itu aja. Kelas lima hobi maen silat-silatan kadang grusuk temen sana sini. Tapi Doddy itu, Bu, dia beda. Saya ngeliat dia memang benar-benar berniat menyakiti temannya. Kalau dibilangin juga maunya nantangin. Kalau diperingatin baik-baik, dia gak mau denger. Harus saya marah-marah dulu sama dia. Harus diancam hukuman dulu baru mau denger. Pernah, loh, saya seret dia keluar kelas saking bener-bener gak mau dengernya.

Bu Lynn mengangguk-angguk.

’Iya, Bu Alifia. Dia itu beda sama yang lain yang hanya badut-badut kelas susah serius. Sama saya dia juga gitu. Ngelawan terus. Mungkin sama ibu dia masih takut masih mandang walikelas.’

………………….

*sigh*

Well, jika Anda pengen punya anak pembangkang suka melakukan kekerasan itu gampang. Kalau dia bikin kesalahan, gampar, pukul, tendang, caci maki. Lakukan atas nama disiplin atau apapun yang Anda mau sebut. Maka dia akan menjadi tepat sebagaimana dia diperlakukan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s