Menahan Takut

Salah satu sahabat saya  dirujuk ke RS Pusat Kangker Nasional lalu setelah dua kali datang, dia mulai merasa putus asa untuk kembali lagi. Dia bilang dia gak punya duit sebanyak itu. Saya bilang kepadanya bahwa saya tahu bukan itu. Dia terlalu muda dan terlalu cerdas untuk gak berusaha demi dirinya sendiri. Saya tahu bahwa dia takut. Dia setuju. Butuh keberanian untuk menghadapinya. Sungguh! Saat dokter memberitahu kita apa yang terjadi pada diri kita. Jadi saya tidak heran kalau sahabat saya melirik pengobatan alternative.

Tau-tau saya tidak heran lagi kenapa orang berbondong-bondong mendatangi bocah ajaib tempo hari. Orang-orang bicara mengenai uang dan uang. Bahwa orang-orang ini tidak punya biaya makanya pergi ke bocah dengan batu ajaibnya itu. Padahal mereka jual barang-barang demi pergi ke tempat itu.

Karena memang bukan masalah uang.

Bukan semuanya masalah uang.

Uang bisa diusahakan.  Tapi tetap ada sesuatu yang lain yang diberikan oleh orang pintar. Mereka melihat harapan. Mungkin lebih tepatnya, harapan yang (lebih) muluk. Orang pintar bicara dengan bahasa yang tidak menakutkan. Sementara rumah sakit adalah tempat dimana penuh orang yang merintih, mengerang, batuk, demam, berbau obat yang menusuk sampai ke lambung. Lalu dokter yang bicara dengan bahasa yang ruwet.

Saya ngerti kenapa sahabat saya memutuskan tidak datang ke RS lagi. Sebenarnya, saya pun sama saja. Kabur kaburan. Disuruh datang dua hari kemudian, saya datang satu minggu kemudian. Disuruh datang seminggu kemudian saya datang sebulan kemudian. Berbagai macam alasan saya kemukakan kepada orang-orang terdekat saya yang setia mengingatkan padahal alasan sesungguhnya cuma satu: takut.

Takut yang bagaimanapun tetap harus saya hadapi. Maka saya menghadapinya. Dimulai dengan muntah-muntah pada subuh karena khawatir belebihan dahulu, lalu saat nama saya dipanggil yang rasanya saya malah pengen pergi jauh-jauh. Maka hari menjelang dan pulang dari RS adalah hari yang melankolis. Sekali lagi, saya tidak menyatakan kalau dokter saya itu kerjaannya nakut-nakutin. Beliau baik sekali sesungguhnya membesarkan hati saya. Cuma sayanya aja yang ndablek.

Beberapa kawan menanyakan kenapa saya gak memilih pengobatan alternative saja? Kenapa kok rasanya saya sama sekali gak tertarik dengan obat-obatan herbal?

’Dokter mah kebanyakan teori.’

Nah, gua pengen tau teorinya itu gimana, hehe…

Well, saya kira penjelasannya simpel aja. Orang takut pada apa yang tidak dia mengerti. Setakut-takutnya saya sama penjelasan dokter, saya merasa lebih takut lagi kalo musti berhadapan sama orang pintar. Ini saya, loh, yaa.. Saya lebih ngerti dan percaya dengan dokter karena saya melihatnya dengan kepala saya sendiri. Saya ditunjukkan, dengan perantara peralatan canggih, bagaimana keadaan diri saya. Orang pintar kan bicara-bicara aja kadang bentuknya aja udah nyeremin banget.

Yang ada malahan saya kaburnya beneran.

Lagian, setiap kali kembali ke RS, saya bukan hanya diingatkan tentang diri saya sendiri, tapi saya juga bertemu dengan orang-orang yang punya masalah yang sedikit banyak sama. Tidak sama karena nampaknya tiap kasus beda-beda dengan komplikasi yang berbeda-beda juga. Tapi, yah, sama juga.

Suatu kali, saya bertemu dengan dua orang perempuan. Mereka datang dari jauh. Dari pulau yang lain. Sudah berminggu hidup gak jelas di penginapan yang apapun seadanya. Mereka bercerita mengenai seseorang yang datang dari jauh juga, yang bahkan tidak sanggup menyewa kamar menitipkan barang-barangnya di kamar mereka.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang anak SMP kelas IX dengan kondisi dalam beberapa hal jauh lebih parah dari saya, duduk di ruang tunggu sambil tekun membaca buku pelajarannya. Dia akan menempuh UN akhir tahun ini sementara sekolah sudah dia tinggalkan sepanjang satu bulan padahal itupun belum apa-apa. Pihak sekolah seratus persen mengerti tapi dia tahu, dia musti bekerja keras untuk mengejar ketinggalannya kalau mau lulus dengan nilai yang cukup baik hingga nantinya bisa diterima di SMA yang baik.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang anak kelas 3 SD yang sudah bolak balik sejak lima tahun yang lalu. Banyak komplikasinya dan sudah menjalani operasi pertama, sekarang sedang menunggu jadwal operasi selanjutnya.

Kemarin saya bertemu dengan seorang ibu bermata sembab. Dia baru tahu mengenai kondisi anaknya dan merasa seakan disambar petir. Menangis semalaman. Dia gak punya uang gak tahu mau bagaimana. Hanya yang dia tahu, dia harus memperjuangkan anaknya. Maka pada subuh, dia masukkan pakaian ke dalam tas, pamit pada suami, seraya menggandeng tangan anaknya dia langkahkan kaki menuju terminal naik bus menyusuri separuh pulau jawa ke Jakarta. Ke kota dimana dia tidak pernah menginjakkan kakinya berbekal beberapa ratus ribu rupiah hasil penjualan cincin mahar pernikahannya dan nama RS yang disebutkan oleh dokter yang memeriksa anaknya sebelumnya.

Kemarin saat duduk di ruang tunggu, saya melihat seorang anak laki-laki dibawa masuk melintas. Dia terbaring di tempat tidur, dengan seragam sekolah dasar dan selang oksigen menutup mulut dan hidungnya. Tempat tidurnya sempat dihentikan di depan saya dan saya berdiri, menatapnya. Dia balik menatap saya. Caranya menatap saya tidak berbeda dengan cara anak-anak saya melihat saya di kelas.

Suatu kali saya yang bosan setengah mati nunggu giliran melangkahkan kaki ke ruang perawatan, bertemu dengan dua anak kecil yang gantian main sepeda seraya tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju rumah sakit yang longgar yang memperlihatkan luka besar bekas operasi yang belum sepenuhnya sembuh di dada. Mereka tertawa, sedangkan saya melihatnya sambil meringis. Pengennya sambil ikutan main sama sepeda roda tiga sama mereka tapi saya tahu kalau itu tidak mungkin, hehehe… Maka saya belajar tertawa bersama mereka. Belajar untuk menahan takut seperti mereka.

Ditulis di ruang tunggu di rumah sakit.

4 thoughts on “Menahan Takut

  1. Masalahnya, ketika mendengar tentang “operasi” atau “tindakan medis” sejenisnya di Indonesia, sering ditemukan adanya “komplikasi” atau “mal praktik”. Itu mungkin yang membuat sebagian orang merasa takut untuk melakukan hal tersebut.

  2. Ping-balik: Lesson Learned II: Hidup dan Mati | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s