Hari Ini Gak Kan Kembali

Fildtrip tahun ajaran ini kembali ke statusquo. Maksudnya, kembali sebagaimana sebelumnya. Gak barengan. Hanya bahwa setiap tahun ajaran, setiap kelas mendapat jatah dua kali fieldtrip dan satu kali outbond. Kegiatan yang terakhir selalu serempak dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Fieldtrip, biasanya terpisah.

Kecuali tahun ajaran kemarin yang semua kegiatan rame-rame.

Pengennya sih, fieldtrip itu terpisah tiap tingkatan kelas. Idealnya kan begitu, ya, gak? Jadi bisa benar-benar sesuai dengan pelajaran di tiap tingkatan. Tapi terbentur biaya dan terbatasnya jumlah guru, maka jadilah hanya terkelompok tiga. Semuanya pada bulan November.

Kelas 1 dan 2 duluan dapet giliran. Mereka pindah belajar ke planetarium dan museum tekstil. Kesannya, yaaa, gausah ditanya. Hepi banget!!! Sampe sore tiba kembali di sekolah semuanya tepar kecapean. Tapi begitu mobil berhenti juga sudah pada lompat girang lagi. Melambai-lambai memamerkan sapu tangan batik dan patung-patung keramik mungil acakadul buatan mereka sendiri.

Kelas 3 dan 4 yang menghabiskan dana paling gede. Mereka dapet jatah ke Kidzania. Kembali ke sekolah juga sudah sore dengan anak-anak kegirangan gurunya pucet semua. Muntah-muntah!!! Kabarnya, gak ada guru yang bertahan tanpa muntah. Saya cengar-cengir aja. Ingat dua tahun yang lalu saya juga tepar muntah-muntah besoknya sakit pasca mendampingi anak-anak saya ke tempat itu. Entahlah mungkin karena berjam-jam (lima jam!) di ruangan tertutup yang banyak orang. Iya, sih, full AC dan cukup nyaman. Tapi tetep aja tertutup yang itu artinya sirkulasi udaranya terbatas. Kemudian ditambah suara-suara bising menggelegar terompet yang tiap jam pasti di tiup nyaring-nyaring, lagu, teriakan anak-anak, plus cahaya gemerlapan. Dan kita di situ gak santai, loh, ya… Mendampingi anak-anak yang artinya, ngurusin dan ngasuh anak-anak yang lari ke sana kemari.

Belum kalo ada yang susah diatur tau-tau meleset ngilang.

Belum kalo ada yang doyan ngambek gak mau ngantri.

Belum kalo ada yang doyan nangis atau ngadu ini itu.

Belum kalo yang doyan bikin ulah memancing perselisihan dan perkelahian dengan rekan satu sekolah maupun anak sekolah lain yang akhirnya bikin ruwet. Ruwetnya akan berpangkat tiga jika si doyan bikin masalah ini nyari gara-gara sama anak yang berada di sana bukan ikut rombongan sekolah tapi bersama orangtuanya. Sebab guru sekolah lain selalu bisa saling mengerti tapi orangtua kadang enggak mau tau.

’Ibu bisa gak sih jadi guru?’

Hekkk!!!

Mana kagak boleh bawa makanan dan minuman ke dalam karena disediakan makan siang yang mahal tapi sama sekali gak enak malah bikin eneg aja.

Maka, begitu jatah lima jam selesai sampai di luar kembali rasanya begitu lega. Perasaan yang sama persis saya rasakan tiap kali lepas menempuh perjalanan dari jakarta ke Jatinangor naik bus ekonomi yang penuh dan super lelet.

Legaa……

Tau-tau pusing.

Daaaan…

Hoekkkk!!!!!

Muntah-muntah…..

Sakit kepala.

Malamnya gak bisa tidur karena terlalu capek kemudian paginya demam.

Okeh, cukup flashbacknya. Kelas 5 dan 6 praktis sebenernya hanya mengunjungi museum nasional, walaupun sengaja muter-muter  melewati kantor-kantor pemerintahan yang anak-anak akan norak sekali.

Hay, itu gedung DPR!!

Ih, itu kantor komisi yudisial! Ooo, kayak gitu…

Markas besar kostrad itu TNI angkatan darat, ya, kan, Bu?

Departemen Keuangan. Kantor ayahku disitu, Bu, disituuu…..

Bunderan HI!!!! Tapi kok sepi, yah? Kok gak ada yang demo?

Waduh, beneran kita guru-guru tercabik antara senang dan geli banget! Seneng karena anak-anak antusias. Lihat-lihat, ini loh yang selama ini cuma di bayang-bayangin aja. Sekarang apa yang guru koar-koarin di kelas mereka bisa lihat sendiri.

Geli yah karena anak-anak saya ternyata ndeso banget, da, ah! Anak-anak pinggiran yang dibawa ke kota ngeliat gedung tinggi-tinggi aja takjubnya amit-amit!

Shalat sengaja sekalian di istiqlal yang juga bikin anak-anak saya bengong.

’Bu, ini masjid gede banget, sih?’

Iya ini masjid terbesar di asia tenggara.

’Gede, yah, Bu…. Tapi kok gak ada jemaahnya?’ Gelar sejadah.

Aduh anakku, ini kan jalan menuju tempat wudhu. Shalatnya di atas bukan disini, Nak…

‘Aku bingung, Bu…’ seorang anak kelas 5 terdiam di tempat wudhu.

Bingung kenapa?

’WC-nya banyak aku jadi bingung mau milih yang mana..’

Yaelah, pliss, deh…

’Alhamdulillah ketemu juga. Tadi kita nyasar, Bu…’

Di dalam masjid nyasar?

Tapi hal yang berbeda pada fieldtrip kali ini adalah untuk pertama kalinya saya bisa menikmati bersama anak-anak. Saya bisa tenang belajar mengenai apa yang dipamerkan di museum tanpa terganggu sama sekali. Pertama kalinya saya membebaskan dan melepaskan anak-anak berkeliaran mengamati apa saja yang mereka maui tanpa saya giring ke sana kemari saya paksa-paksa untuk lama atau terlau singkat di sini dan di situ. Karena setiap individu itu punya ketertarikan pada hal-hal yang berbeda.

Kami hanya mengatakan bahwa mereka semua bebas berkeliaran di dalam museum tapi tentu harus bertanggung jawab mengikuti peraturan. Tidak melakukan hal-hal yang nantinya akan merusak atau pun tindakan kriminal. Sampai jam sekian, semuanya diharapkan kembali berkumpul di ruang depan.

Begitupun di dalam kendaraan. Kami tidak lagi menceburkan diri bersama anak-anak. Duduk di bangku belakang mengawasi mereka berinteraksi. Sepanjang tidak terjadi bullying, tidak terjadi tindakan kriminal. Seperti kata Pak Satria sang guru olahraga.

’Sedih sih pas harus belajar untuk nerima kalau anak-anak itu udah gede. Udah punya dunia sendiri. Kita juga harus belajar untuk tidak terlalu khawatir dan mengekang. Biar saja mereka gembira bersenang-senang. Selama tidak menyakiti orang lain atau diri mereka sendiri. Biar mereka becanda tertawa. Hari-hari ini gak akan kembali. Iya, kan? Mereka gak akan pernah kembali ke saat ini lagi. Begitu sudah terlampaui, ya, cuma bisa maju terus.’

Yaaa, dibilang sedih pas Pak Satria ngomong itu pastilah. Anak-anak ini, saya tahu mereka waktu kecil. Waktu gigi mereka masih copot satu-satu. Tau-tau, sekarang udah remaja. Udah besar. Tau-tau, saya bukan lagi ‘ibu’, tapi lebih kepada ‘teman’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s