The Mighty: His Heart Just Got Too Big For His Body

Every word is part of a picture.

Every sentence is a picture.

All you do is let your imagination connect them together.

If you have an imagination, that is.

(Kevin Dillon)

Tadinya saya ingin memasukkan tulisan ini di bawah judul ‘Guru dalam Buku dan Film’. Saya menuliskan tentang Bu Guru Wei Minzi yang baru berusia 13 tahun sebelumnya. Tapi memang cukup mencari-cari juga, sih, yaa…

The Mighty adalah film keluarga yang dirilis pada tahun 1998. Salah satu film layar lebar pertama yang saya saksikan dan saya mengingatnya sangat jelas sampai pada kalimat-kalimat yang diutarakan oleh Max. Kalau saya menutup mata bahkan, saya dapat seakan menyaksikan kembali kisah ini di putar di benak saya. Sedalam itulah film ini meninggalkan kesan kepada saya.

Diangkat dari novel remaja karya Rodman Philbrick, Freak The Mighty mengisahkan tentang petualangan, dan tentu saja, persahabatan dua anak remaja yang nampaknya memang ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain.

Maxwell Kane sang penutur membuka kisah dengan memperkenalkan dirinya sendiri sebagai seseorang yang kalah. Kenyataan bahwa sampai kelas 7 ini dia tidak kunjung dapat membaca sudah membuktikan bahwa dia hanyalah anak idiot. Anak idiot berbadan besar yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Jangankan berdiri untuk melawan anak-anak lain yang sering menyakitinya, bahkan menyatakan apa yang ada di kepalanya pun dia tidak berani. Itu kalo memang ada sesuatu yang terlintas di kepalanya. Max selalu merasa bahwa hidupnya adalah tidak ada pilihan lain. Dia sekolah, hidup, dan dirawat oleh kakek dan neneknya juga karena mereka tidak punya pilihan lain.

Kevin Dillon penyandang cacat yang bersekolah di tempat yang sama dengan Max. Dia menderita kelainan tulang belakang yang membuatnya bergantung pada tongkat dan penyangga, ditambah kelainan jantung yang membuat hidupnya tinggal dalam hitungan bulan saja. Tapi sakit yang menggerogoti tubuhnya ternyata tidak mampu menghalangi untuk datang ke sekolah. Untuk belajar. Untuk terus merasa tertantang dengan dunia. Cita-citanya ingin menjadi pemain basket, dan menjadi ksatria. Menjadi laki-laki yang berdiri membela kebenaran dan keadilan. Persis seperti pada kisah di buku-buku yang menjadi dunianya. Kebalikan dengan Max, Kevin adalah anak yang cerdas yang hampir tidak dapat menutup mulutnya. Dia tidak takut menyatakan pendapatnya yang terkadang dilontarkannya dengan sangat tajam dan kasar.

Pertemanan mereka diawali saat Kevin ditugaskan untuk menjadi tutor Max dalam pelajaran membaca. Tidak mudah sesungguhnya membimbing seseorang yang sudah merasa kalah duluan, tapi Kevin memang nampaknya orang yang tepat. Rasa pesimis Max dihadapkan dengan sarkasme-nya Kevin yang langsung menusuk ke hati. Apatis Max terhadap seluruh dunia dilawan dengan antusiasme Kevin yang meluap-luap. Tidak lama ketika kemudian mereka menjadi sahabat dan tahun terakhir Kevin Dillon pun menjadi penuh petualangan seperti yang dia dambakan.

Cerita yang bagus, musik yang pas dan acting yang hebat. Film ini menyentuh sekali dan pas sebagai tontonan keluarga.

4 thoughts on “The Mighty: His Heart Just Got Too Big For His Body

  1. Halo kak Al… Namaku Valen, aku salah satu silent reader kakak.. Aku suka blognya🙂
    aku mau tanya soal film ini, apa dalam film ini ada adegan dimana si Kevin digendong oleh Max ? Makasih kak..

  2. Ping-balik: Exhuming Mr. Rice: Not How Long You Live, it’s How You Live Your Life | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s