Boys Don’t Cry

ayahku selalu berkata padaku
laki-laki tak boleh nangis
harus slalu kuat
harus slalu tangguh
harus bisa jadi tahan banting

Beuh, saya gak suka lagu yang liriknya saya tulis diatas itu. Bagi saya, itu adalah lagu yang menyedihkan. Susah bener, ya, perasaan jadi laki cuma nangis aja gak boleh. Tapi yah bagaimanapun, saya ini kan perempuan, bukan laki-laki. Jadi perihal apakah si bapak yang diceritakan oleh lyric lagu tersebut itu keras atau tidak, mungkin bukan kapasitas saya untuk menyatakannya. Hanya, tahun ini saya lebih banyak belajar mengenai bagaimana mengasuh anak-anak laki.

Awalnya, gaya saya masih seperti dahulu. Banyak ngomong banyak nasihat. Tapi anak laki tidak terlalu suka mendengarkan. Tidak seperti anak perempuan yang gampang terinspirasi dan terajak melakukan sesuatu. Anak laki, lewat lima menit kita bicara udah kelihatan matanya hilang focus menarik diri dalam lamunan yang jelas-jelas lebih menarik. Maka saya mulai banyak memperhatikan gaya bapak-bapak walikelas mengasuh anak-anaknya.

Tidak banyak bicara, langsung pada apa yang dimaksud. Dan begitu pula dalam menghukum. Saya melihat bapak-bapak walikelas kalau menghukum anak-anak laki mereka hampir selalu berupa hukuman tembak di tempat. Anak berbuat kenakalan, misalnya menonjok rekannya, push up lima kali. Simpel. Hindari ngomel panjang lebar tapi kita harus konsisten. Berbuat kesalahan push-up lima kali berbuat lagi push up lima kali lagi. Itu bukan tindakan kekerasan kepada anak. Saya melihat banyak yang salah kaprah dengan menyatakan bahwa hukuman fisik adalah tindakan kekerasan padahal tidak selalu. Namun bisa menjadi tindakan kekerasan jika berlebihan atau dengan tidak memperhatikan kondisi anak yang sedang sakit atau kelelahan. Di sisi lain, memukul, menampar, mencubit, dan seterusnya walaupun sedikit menurut saya adalah tindakan kekerasan.

Kemudian tentu saja tergantung situasi dan kondisi juga. Ini yang dikisahkan terbatas pada lingkungan sekolah dasar. Bagi sekolah menengah, mungkin berbeda lagi. Beneran, saya sering mengelus-gelus dada kalau adik laki-laki saya yang sekarang berada di SMP berkisah tentang kasus-kasus pelanggaran yang dilakukan teman-temannya. Rasanya kok yang enggak-enggak aja. Ya bawa golok dan clurit ke sekolah atau nyewain DVD porno ke tamen-temennya segala. Beberapa hari yang lalu adik bercerita bahwa salah satu rekan sekelasnya tewas saat terlibat perkelahian. Sebelumnya, sepuluh rekan sekelasnya tertangkap tangan membawa rokok di tas mereka. Mereka semua mengaku telah menjadi perokok reguler. Busyet, dah! Ini anak-anak SMP. Yaa, memang usia SMP itu yang paling rentan karena saat anak uji coba segala hal tapi ini kan anak-anak kita, loh!

Eniwey, kembali ke masalah anak laki menangis yang bagi saya gak masalah. Anak-anak saya sampai kelas lima yang laki suka menangis kadang-kadang. Dan sebagaimana seorang emak, yang saya lakukan adalah memberikan kenyamanan pada mereka yang ternyata bagi bapak-bapak walikelas itu agak mengkhawatirkan.

’Mereka harus belajar menyatakan apa masalahnya tanpa nangis, Bu. Jangan terus di fasilitasi. Mereka udah gede. Anak laki. Kasian nanti mereka pas SMP bisa tersisih karena dianggap cengeng.’

Baiklah, baiklah….. Saya coba.

Tapi susah, bukan?

Saya melihat Pak Kelas Tiga saat dua anak laki berselisih menyuruh dua-dua anak berbicara dengan jelas apa masalahnya. Satu anak saat datang sambil menangis.

‘Kalau mau bicara berhenti nangisnya. Berhenti! Kalau masih mau nangis diluar! Di kamar mandi, sana! Sudah selesai baru balik lagi ke sini.’

Si anak keluar sebentar, lalu kembali dengan masih berkaca-kaca tapi terlihat berusaha setengah mati menahan diri dan emosinya. Dia kemudian berusaha bicara dengan jelas dan runtut tentang perselisihan yang baru saja terjadi.

Beuh, kalo itu anak saya mah kayaknya saya yang gak mampu menguasai diri. Apalagi anak kelas tiga, masih kecil-kecil. Masih kelihatan anak-anak. Kayaknya naluri aja gitu langsung akan saya rangkul bahunya.

Memang harus begitu, kata Bu Lynn kemudian. Bagaimanapun di sekolah harus ada berbagai macam figur. Harus ada guru yang lembut, ada yang metal, ada yang streng, ada yang suntuk, musti juga ada yang tegas. Bayangin kalo setiap kali anak jatuh selalu dipeluk selalu disayang-sayang, bakal jadi bagaimana nantinya tuh anak. Musti ada orang yang menghardik menyuruh mereka untuk hati-hati kalo jalan jangan meleng.

Kemarin ABK di kelas empat mengintip-ngintip ruang guru. Saya kira dia mencari Pak Kelas Empat yang saat itu tidak di ruangan. Matanya merah dan terlihat terganggu sekali. Refleks saja saya ikuti sampai ke sebuah sudut di tangga dia duduk meleleh air mata. Saya duduk di sebelahnya. Kenapa, tanya saya.

Dia menangis tersedu-sedu.

Diganggu anak-anak laki, katanya.

Diganggu bagaimana?

Di tanya-tanya terus.

Saat itu Pak Kelas Empat melintas, dia memandang penuh tanya. Saya bilang kepadanya, anak ini nangis karena gak nyaman di tanya-tanya terus. Pak Kelas Empat hanya mengatakan kepada anak itu.

‘Seperti yang Bapak bilang kemarin, kemarin, dan kemarin lagi, kalau kamu merasa terganggu bilang saja sama mereka. Kalau masih tanya-tanya, kamu pergi dari mereka. Cari tempat lain, lakukan kegiatan lain, atau teman yang gak banyak tanya. Kalau teman yang ganggu itu mengikuti dan masih mengganggu, kamu bisa mengajukan komplen dan melaporkannya kepada Bapak.’

Dia mengangguk, lalu mengatakan akan bermain dengan adik-adik kelas tiga saja.

Hekkk!! Jadi kok tiba-tiba merasa jadi guru yang manjain anak-anak banget, yaaa… Pokoknya kalo anak laki saya ada yang nangis lagi, saya gak boleh cemen langsung sayang-sayangin. Saya harus kuat!!!

Baru aja bertekad tau-tau saat bel masuk berbunyi, salah seorang guru memberi tahu. Salah satu anak laki saya ada di bawah. Nangis. Baru saya berniat kembali ke bawah, si anak menangis itu sudah masuk kelas. Beberapa anak laki menirukan suara ayam.

Saya menyuruh mereka untuk diam.

Semua duduk di tempatnya masing-masing. Si anak nangis masih tersedu-sedu tapi kelihatan sekali berusaha untuk berhenti nangis, tapi gak bisa. Dia masih terus nangis.

Saya geregetan sekali ini pengen tahu ceritanya apa. Detik selanjutnya, saya akan menyuruh anak-anak yang lain tetap di kelas sementara saya seret si anak nangis keluar kelas untuk saya tanya-tanyai.

Tapi Pak Kelas Tiga keburu masuk kelas untuk memberikan pengumuman. Dia kaget saat melihat satu anak laki duduk di depan sedang nangis.

Pak Kelas tiga: ……………….(lagi bicara-bicara) maka bab yang akan diujikan pada ulangan minggu depan adalah….(mengerut kening)..

Pak Kelas Tiga: (beralih ke anak yang nangis) Ini kenapa kamu nangis?

Anak Nangis: (hiks…hiks…)

Pak Kelas Tiga: (menoleh ke saya)

Saya : (saya menjawab dengan kalimat pertama yang terlintas di benak saya) Kalah main bola.

Pak Kelas Tiga: Oooh, main…. Yaudah, kembali ke bab yang diujikan… (kembali ke anak nangis) Kamu diam… Coba berhenti nangisnya kamu itu udah gede… BISA DIAM GAK KAMU MENGGANGGU KELAS! Kalau masih nangis ke kamar mandi, sana!

Anak Nangis: (berusaha mati-matian mengendalikan nangisnya sampai benar-benar berhenti hanya sesuggukan yang masih sesekali)

Beberapa menit kemudian, si anak menangis sudah kembali senyum dan tertawa-tawa bersama teman-temannya. Sampai bel pulang saat saya bertanya-tanya pada diri sendiri apakah masih perlu bertanya mengenai kenapa dia nangis.

Saya memutuskan tidak memperpanjang saat melihat anak-anak laki saya, semuanya, berjalan pulang beriringan sambil becanda nendang-nendang bola. Mungkin memang bukan hal yang besar. Tapi tetap akan saya beri catatan apa yang terjadi hari ini sebab, saya belum tahu mengenai apa yang terjadi.

NB: Tulisan ini saya buat pada malam Kamis dan Kamis paginya saya diberitahu bahwa memang anak tersebut menangis gara-gara kalah main bola. Tujuh kosong, gimana gak nyesek!

7 thoughts on “Boys Don’t Cry

  1. Saya malah gak tau lirik diatas itu lagu yg dibawakan siapa.
    Saya cuma tau lagunya The Cure, Boys Don’t Cry. Tapi liriknya lucu, cuma cerita ttg cowok gak bakalan nangis didepan ceweknya supaya si cewek balik lagi ke pelukan si cowok tukang ngibul😆

    Ah iya, balik ke topik utama.
    Nangis itu boleh saja, asal jangan meratap:mrgreen:
    ..
    .
    .
    eh, apaan sih……

    • Ah, payah, nih! Kelamaan di negeri orang, sih, hehe… Itu lagunya Band The Lucky Laki yang personilnya anak-anaknya Ahmad Dani, tau!

      Okeh, jadi catatan, ya… Nangis boleh asal jangan meratap!

  2. thanks Bu for the story…

    jadi tau bagaimana sebaiknya menghadapi dua anak lelaki saya…..

    *saya seperti Bu Al yang cenderung membuat mereka nyaman dulu….

  3. Menghadapi anak laki-laki memang berbeda dengan anak perempuan. Tapi, saya tidak setuju dengan stigma “laki-laki gak boleh nangis”. Setiap kita berhak untuk berekspresi; sedih, gembira, marah, dsb. Menangis, biasanya adalah ekspresi kesedihan, ia tak mengenal jenis kelamin.

    Namun, kalau “cengeng”, saya pun setuju, bahwa itu tidak boleh. Dan lagi-lagi, ini juga tidak mengenal jenis kelamin, mau laki ataupun perempuan, tetap tidak boleh cengeng..🙂

    Mengenail anak laki cekgu yang tadi, menurut saya itu adalah cengeng, bukan lagi sedih. Jadi, jangan terlalu dimanja, nanti bertambah cengengnya, hehehe…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s