Can’t Take My Eyes of You

Pada suatu kali, saya tersasar ke blog ini. Blog seorang guru yang ditulis dengan gaya yang ringan menceritakan pengalaman-pengalaman sang penulis. Tidak selalu pengalamannya saat mengajar, tapi juga kesehariannya beliau.

Well, sebetulnya saya tidak begitu tahu sih mengenai yang bersangkutan sebab selain saya hanya silent reader, nampaknya sang penulis juga jarang meng-update blognya sehingga kisahnya hanya sedikit. Hanya saya mengira-ngira, beliau adalah guru sekolah menengah yang banyak memberikan perhatian kepada siswa tuna grahita. Salah satu tulisannya, membuat saya tersenyum berkaca-kaca. Membekas sekali di dalam hati saya.

Sayangnya, tulisan tertentu itu sudah tidak ada lagi. Menceritakan pada suatu kali saat sang penulis sedang menyuapi bayinya sambil jalan-jalan sore, dia bertemu dengan sorang siswi yang dikenalnya dan mengenalnya juga. Salah satu penyandang tuna grahita yang bersekolah si SLB setempat. Sang siswi yang sudah remaja memberitahu Bu Guru bahwa dia telah punya pacar (sang siswi sudah SMA). Tersenyum-senyum malu memberitahunya. Sang pacar adalah teman sekelasnya juga di sekolah. Seorang pemuda penyandang tuna grahita plus tuna rungu.

Saya teringat-ingat lagi mengenai tulisan tersebut saat memperhatikan ketika dua orang siswa special kami nampaknya sedang jatuh cinta.

Beberapa saat sebelumnya, saya terkejut-kejut mendapati salah satu siswa ABK kami sudah puber. Sebenernya, mulai puber itu memang saatnya pada dua kelas akhir SD. Gak kaget lagi. Mungkin yang bikin shock adalah ketika saat-saat seperti ini dialami oleh anak autis maka tidak lagi tertutup seperti anak regular. Sang siswa ABK (autis) pada awal-awal suka tertangkap tangan sedang mansturbasi di dalam kelas. Dia seorang siswa kelas 4 SD (untuk ABK kelasnya memang lebih rendah di umurnya seharusnya) maka untungnya teman sekelasnya belum begitu ngeh dia lagi ngapain tapi kebayang dwong gimana kagetnya guru yang menemukan itu anak. Tahun pertama sekolah kami jadi inklusi ini, jek! Masih gagap, heuheuheu…. Tapi menurut tim ABK, kami jangan terlalu membesar-besarkan. Jangan membuat si anak menjadi merasa bersalah banget karena bagaimanapun, itu naluri. Maka yang kami lakukan adalah mendisiplinkannya. Membuatnya untuk terbiasa melakukan itu di tempat privat yang gak ada orang lain yang lihat. Mencoba untuk menghindarkan melakukan itu dengan memberinya kegiatan sehingga dia sibuk tidak ada waktu kosong. Sebab kalo ada waktu luang dan dia gak ngapa-ngapain, maka itulah yang akan dilakukannya.

Kalau saya baca-baca curhat-curhatannya OTW anak autis di internet sih nampaknya memang kebiasaan ini suka terjadi di sekolah karena di tempat itu, si anak merasa nervous. Dia merasa ditekan untuk bersikap seperti ini dan itu. Maka kegiatan itu dilakukan salah satunya untuk menekan rasa nervous itu. Dan kalau nonton kisahnya Temple Grandin juga sih, beliau menyatakan masa terberat itu awal-awal sekolah. Dia merasa sangat menderita. Tapi seiring berjalannya waktu, beliau akhirnya sadar bahwa itu semua adalah pelajaran untuknya bersiap menghadapi hidup dan dunia. Pada akhirnya, beliau merasa berterimakasih sekali kepada sang bunda yang menolak untuk menyerah dan memaksanya keluar untuk menghadapi hari sama seperti anak lain.

Hari-hari ini, ABK tersebut sudah tidak lagi terlihat melakukan kegiatan tersebut. Tidak terlihat di mata orang-orang maksudnya lagi pula banyak diberi kegiatan juga, sih. Kalau tidak di kelas atau terapi, kami masukkan dia di lab komputer mengutak-atik permainan edukasi.

Tapi sekarang ada kegiatan barunya yaitu mengikuti Bu Rita.

Nampaknya dia sedang naksir berat kepada Bu Rita. Sering duduk di lapangan ngeliatin Bu Rita sambil senyum sendiri. Kalau Bu Rita sedang di ruang guru, ni anak gak bergeser dari pintu ruang guru. Melongok Bu Rita. Senyum-senyum lagi.

Kami para guru juga senyum-senyum, dwong…

Terkadang kami panggil dia masuk.

’Nak, masuk aja ke sini. Mau bicara sama Bu Rita?’

Dia kabur untuk kemudian kembali lagi melongok ruang guru. Melongok Bu Rita.

Bu Rita? Kayaknya agak bingung tapi tidak marah dan jelas tidak tersinggung. Suatu kali mengatakan bahwa kalau memang benar itu anak naksir, dia mendapat kehormatan ditaksir sama orang yang istimewa, hehehe….

Gak semua orang loh dapet kesempatan di taksir sama penyandang autis.

Ngomong-ngomong, siswi ABK di kelas saya pun naksir salah satu guru, loh! Dialah…. Jreng jreng….

Pak Kelas Tiga!!

Dan kalau yang ini sudah sejak awal tahun ajaran dulu. Cuma karena yang ini cewe, maka gak terlalu dahsyat kelihatannya, kali, yaa….

Pokoknya, sang Shadow Teacher suatu kali bicara pada saya bahwa siswi special saya itu bener-bener, deh, kurang kosentrasinya. Nyaris gak sanggup memusatkan perhatian kepada pelajaran.

‘Tapi kalo giliran ngomongin cowok, aja, deh, Bu… Uh, nomer satu!!’

Siswi ABK kelas saya saat ini berusia 13 tahun. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, kelasnya memang lebih lambat dibanding anak regular.

Masa, sih?

‘Yah…. Dia tuh naksir sama Pak Kelas Tiga, Bu. Pokoknya kalau pelajaran Fiqh itu tenang banget. Gak lepas deh matanya liatin Pak Kelas Tiga melulu.’

Konon, siswa jatuh cinta kepada guru adalah hal yang sering terjadi. Sebab guru adalah tokoh superior, panutan, dan terkadang sampai menjadi idola. Maka siswa ngefans guru itu adalah salah satu warna warni di sekolah. Tapi bedanya dengan siswa ABK mungkin, siswa regular itu tidak terbuka memperlihatkannya.

Yah, begitulah! Sampai saat ini juga siswi special saya itu sering mampir ke ruang guru hanya sekedar mengucap sapa kepada Pak Kelas Tiga.

‘Hai Pak Kelas Tiga.’ Senyum-senyum. Lambaikan tangan.

Pak Kelas Tiga yang tampangnya galak (orangnya mirip Hellboy tapi tanpa tanduk) tapi baik hati itu hanya membalas dengan senyum. Kadang dia balas hai, kadang hanya semacam geraman dari kerongkongannya saja. Tapi bagaimanapun, kami, guru-guru hanya cengengesan saja ngeliatnya.

Well, cinta itu anugerah yang datang kepada siapapun. Dia juga datang kepada penyandang autis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s