Kisah Keluarga I: Akta Kelahiran

Bu Rita lagi pusing bener. Bukan ada masalah ngejelimet, cuma dinamika di sekolah aja. Warna dan warni yang bikin pekerjaan kita jadi menarik.

Pada awal tahun ajaran, setiap anak kelas satu dan anak baru selalu diminta untuk mengumpulkan fotokopi akta kelahirannya sendiri, untuk kepentingan administrasi kelas. Memang, di TU pastilah ada itu akta kelahiran (atau surat kenal lahir untuk anak-anak yang tidak jelas siapa orangtuanya), tapi walikelas yang pertama selalu minta lagi untuk kemudahan aja. Biar gak mesti bolak-balik ke kantor TU yang terletak di gedung lain setiap kali membutuhkan.

Satu anak ini, belum kunjung memberikan salinan akta kelahiran. Sampai pada saat penulisan rapot, data diri anak ini masih kosong. Bu Rita menulis di buku penghubung. Beberapa hari, tidak ada balasan. Maka Bu Rita meminta salinan dari TU.

Okeh, sampai disini nampaknya sudah selesai, kan?

Harusnya sih sudah.

Ternyata, pada hari yang sama dengan Bu Rita mendapatkan salinan akte kelahiran dari TU, ada kabar dari rumah. Disampaikan lisan saja oleh sang anak.

’Bu Guru, kata mamaku, akta kelahirannya gak boleh dibawa ke sekolah. Akta kelahiran yang di sekolah juga gak boleh dipake buat nulis rapot.’

Si anak memberikan selembar kertas yang isinya data diri anak yang ditulis dengan tulisan tangan sang ibu.

’Kata mamaku, ini buat Bu Rita nulis rapot.’

Begitu Bu Rita baca, ternyata ada perbedaan antara salinan akta kelahiran dan data yang dibawa sang anak. Perbedaannya adalah nama sang ibu.

Laaaah? Jadi gimana ini?

Selidik punya selidik, ternyata ibu sang anak yang sekarang adalah istri sang ayah yang baru. Bukan perempuan yang sama dengan yang membawa si anak pertama kali ke sekolah ini. Ibu kandung anak ini sudah pisah dengan sang ayah. Mengenai apa masalahnya sih bukan urusan kita, lah, yah! Pokoknya sang ayah ingin anaknya menganggap istri yang baru ini adalah ibu kandungnya sendiri.

Gak boleh sebut-sebut lagi ibu yang sebelumnya.

Dan kepinginnya, nama ibu yang tertulis di rapot sang anak adalah perempuan yang sekarang jadi istrinya ini. Bukan perempuan yang melahirkan anaknya. Alasannya sih, katanya biar anaknya gak sedih kalo ibunya sudah gak ada.

Lahdahlah! Ya, Bu Rita-nya bingung. Menurut aturan administratif kan nama orangtua di rapot itu adalah nama orangtua kandung sesuai dengan akta kelahiran. Dan setiap rapot itu tercatat, ya, di diknas setempat. Jadi gak bisa slebor ganti-ganti rapot karena ada nomor serinya yang diterbitkan oleh diknas yang akan dipasangkan dengan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional). Jadi gak sembarangan aja. Orang absensi setiap siswa saja dilaporkan ke diknas setempat setiap bulan, kok. Nilai ulangan umum setiap anak, setiap semester, di setiap pelajaran diknas pun dilaporkan. Bagaimana dengan rapot?

Saat dijelaskan panjang lebar, sang ibu menjawabnya dengan dengan jawaban yang paling sering kita dengar dari mulut ibu-ibu:

’Aduh, gimana, yah, Bu. Saya takut suami saya marah.’

Kyaaaaaaa!!!!

Trus gimana, nih?

Yah, kalo dicari selanya sih bisa aja sebenernya. Kalo memang mau begitu, tinggal bikin aja akte kelahiran yang baru di kelurahan, ganti nama ibu. Itu cukup. Sama dengan jika kita mau anak kita sekolah tapi umurnya belum cukup untuk diperbolehkan masuk tingkat tertentu itu. Bikin aja akte kelahiran yang baru kalo emang mau ngotot. Tapiii, itu kan sama aja kita memberitahu orang untuk curang? Sah, tapi gak bener juga. Gak peduli lah mau apapun salahnya sang ibu kandung kepada suami atau mungkin anaknya, tapi itu gak bisa merubah fakta bahwa dia adalah perempuan yang melahirkan sang anak. Orang yang bertaruh nyawa untuk mengantarkan anaknya ke dunia. Bahkan jika kita mengadopsi anak terlantar pun tetap saja kita tidak diperkenankan untuk menghapus ayah dan ibu biologis sang anak jika memang tercatat. Kalau pun tidak jelas siapa orangtuanya, tetap kita tidak diperkenankan untuk mengakui anak itu sebagai anak kandung kita. Paling tidak, menurut agama yang saya anut seperti itu aturannya.

Trus jadinya di rapot yang ditulis nama siapa?

Kami berniat tetap menuliskan nama yang ada di akte kelahiran. Bagaimanapun, itu aturannya. Ini kan institusi yang resmi. Namun, tentu saja, sebelumnya kami akan mengajak bicara dahulu sang ayah.

2 thoughts on “Kisah Keluarga I: Akta Kelahiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s