Tentang Keluarga II: Ayahku Mana?

Kisah ini terjadi kurang lebih tiga tahun yang lalu. Seorang anak laki-laki kelas 1 SD pulang sekolah segera menyeret Mami-nya ke meja kerja. Sang anak mengambil selembar kertas, lalu mulai menggambar. Seorang anak laki-laki.

‘Ini aku,’ katanya. Lalu dia menggambar seorang anak laki-laki yang lebih besar. ’Ini Abang..’ lanjutnya.

Gambar satu orang perempuan dewasa memakai kacamata.

’Ini Ibu..’

Gambar satu orang perempuan dewasa.
‘Ini Mami.’

Kemudian dia menggambar satu orang pria dewasa yang diberi tanda tanya diatas kepalanya.

‘Ayahku mana?’

Sang Mami menjawab, ‘gak ada.’

‘kemana?’

‘Emang gak ada. Adik gak punya ayah.’

’Gak mungkin. Semua orang pasti punya ayah.’

‘Kamu gak punya. Kan ada Mami.’

’Iyaa, tapi ayahku mana?’

Sang Mami terdiam cukup lama kemudian menjawab, ‘Ayo kita jemput Abang trus ke KFC.’

Saya hanya membayangkan adegan itu berdasarkan kisah yang diceritakan oleh Bu Kirsan yang diceritakan pula oleh Sang Mami. Itulah ternyata awal dari perubahan sikap sang anak di sekolah. Dia yang tadinya anak manis yang kritis berubah menjadi pemarah. Orang lain gak boleh salah sedikit dia mengamuk sejadi-jadinya. Mukul, nendang, dan dorong anak lain khususnya anak yang lebih lemah daripadanya.

Suatu kali, dia menolak untuk pulang ke rumah. Begitu sang Mami nongol di pagar sekolah, dia kabur ngumpet di perpustakaan. Dan dia benar-benar gak mau pulang ke rumah. Waduh, drama banget, da, ah! Sang Mami berurai air mata sang anak dikata gak mau ya gak mau. Anak ini akhirnya mau pulang juga setelah Sang Abang, yang saat itu sudah kelas 5 SD, menjemput ke sekolah dan mengantarkan pulang naik angkot. Sebab walaupun akhirnya mau pulang, si adik ternyata masih ogah naik mobil Mami.

Konon ini semua diawali di pelajaran saya yaitu IPS yang saat itu kami sedang membahas topik keluarga. Saat itu, anak-anak mengenali siapa saja anggota keluarga. Siapa yang disebut ayah dan ibu, kakek juga nenek, paman bibi, sepupu, ipar, dan lain-lain. Kami berdiskusi mengenai itu dan saya ingat pada hari ketika kita membahas keluarga mana yang kita tidak punya. Bukan sudah tidak ada karena meninggal, tapi tidak punya.

Gak semua orang punya kakak atau adik. Tidak semua orang paman atau bibi. Tidak semua orang punya sepupu. Dan hampir semua anak di kelas saat itu belum punya ipar, heheu….

Aku gak punya kakak, kata salah satu anak. Sebab aku anak pertama.

Aku tidak punya adik. Belum punya adik, sahut saya. Mungkin gak nanti kamu akan punya adik?

Mungkin-mungkin aja.

Aku belum punya kakak dan adik tiri, teriak Jojo.

Oh, ya, benaaar!!!!

Nah, anak ini, si Adik, berteriak. AKU TIDAK PUNYA AYAH.

Disambut dengan teriakan satu kelas: GAK MUNGKIN!!

Beneran, aku gak punya ayah.

Semua orang itu punya ayah, kamu gimana, sih? Semua orang pasti punya ayah dan ibu dan kakek dan nenek.

Kata Mami aku gak punya ayah.

Mungkin, kamu anak yatim. Ayahmu sudah meninggal dunia. Itu gak apa-apa. Nabi Muhammad juga anak yatim. Allah sayang sama anak yatim.

Aku bukan anak yatim. Aku gak punya ayah.

Tapi itu gak mungkin. Emangnya kamu Nabi Isa?

OOOOP!!! Saya menghentikan keributan. Gak semua keluarga terdapat anggota yang lengkap. Gak apa-apa, yang penting, kita saling menyayangi, kata saya. Kalau begitu, kenapa gak kita sebutkan anggota keluarga yang tinggal bersama kita.

Kisah kecil itu bergulir begitu saja yang nampaknya menjadi pemicu dari meledaknya ganjalan di benak sang adik. Saya bilang ganjalan, sebab sebelum ini, sewaktu dia masih TK, memang pernah bertanya-tanya mengenai ayah. Tapi saat itu, jawaban bahwa di gak punya ayah, sudah cukup. Sekarang, jawaban itu tidak lagi dapat masuk akal.

’Mami nemu aku di panti asuhan, ya? Terus diangkat anak. Jadinya Mami gak tau ayahku, ya?’

Suatu hari dia bertanya. Lalu lain kali dia bertanya hal yang serupa dengan sekenario yang berbeda.

’Ayahku kuburannya dimana, Mami?’

’Ayahku lagi dilaut, ya? Kayak papanya Kakak Donny.’

Ayah, ayah, ayaaaah saja yang dibicarakan anak ini.

Kalau mereka berempat sedang makan bersama:

’Makanan kesukaannya ayahku apa, Bu?’ kepada sang Ibu.

’Kalo ayah datang Mami bilangin ya aku mau dijemput pake motor. Anak-anak yang lain kalo dijemput sama ayahnya pake motor.’

Sedih, yaa… Dan kenapa sih Sang Mami sebegitu ngototnya gak ngasih tau perihal Sang Ayah kepada anak-anaknya?

Well, kami hanya bisa bertanya-tanya. Saya pada saat itu bener-bener merasa gak punya clue bagaimana sebenernya keluarga yang rada mengherankan ini. Sang Mami bukan ibu dari si anak. Ibu kandung mereka, orang yang namanya tercatat pada akta kelahiran dan rapot, hanya ada di rumah pada weekend saja sebab dia bekerja di pulau lain. Dalam pikiran saya saat itu, mungkin Sang Ayah telah melakukan tindakan penganiayaan atau apaa, gitu, kepada keluarganya. Atau dia adalah seorang pelaku tindakan criminal yang sedang, atau sudah keluar penjara.

Pada suatu hari, marah si adik ini berhenti. Kami mengira mungkin jawaban sudah diberikan oleh Sang Mami. Ternyata tidak. Sang Adik hanya berhenti mendesak setelah dinasehati oleh Sang Abang.

’Kenapa sih selalu ngomongin itu terus,’ kata Sang Abang kepada Adiknya pada suatu hari. ’Ayah itu pasti ada. Gak usah terus-terusan nanyain. Kalo kita ungkit-ungkit soal ayah, nanti ibu nangis. Emang gak kasian sama ibu? Ibu itu nyari duit jauh-jauh buat kita. Jangan bikin ibu sedih. Jangan berantem terus sama Mami. Mami itu sayang sama kita.’

Itu terakhir yang diceritakan oleh Sang Mami kepada Bu Kirsan. Kemudian tidak lagi ada cerita mengenai pertengkaran hebat Mami dan Sang Adik mengenai hal itu.

Bahkan anak-anak itu mengerti saat harus menunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s