Mau Boleh Main Bola? Makanya Belajar!

Saya tidak pernah menghukum anak atas nilai yang jelek, tidak pernah. Menurut saya, nilai jelek itu bukan pelanggaran. Dan sesungguhnya pula, nilai jelek sendiri sudah merupakan hukuman bagi mereka-mereka yang males belajar, ngeyel dan memilih untuk bersenang-senang, ataupun kelalaian. Maka menghadapi nilai yang jelek, alih-alih marah, saya biasanya malah mencoba merengkuh mereka.

Tahun ini saya belajar bahwa hal itu terkadang tidak efektif.

’Kamu ini bisa, kalau kamu mau berusaha. Jangan main melulu. Menurut Ibu, kamu anak yang pintar sebenarnya..’

Kata-kata diatas tidak dapat diberikan kepada setiap anak. Jelas anak-anak saya tahun ini, bukan anak-anak yang sebaiknya diberikan kata-kata itu.

Mereka malah makin ngeyel.

Maka, selepas ulangan harian terakhir, saya ganti gaya. Panggil beberapa anak yang paling doyan becanda satu-satu, lalu saya omelin.

‘Coba liat ini nilai ancur-ancuran! Kamu kira kamu ini kelas berapa? Kelas 2? Kelas 3? Ibu gak mau tau loh, ya. Kalau kamu gak berhasil mendapat nilai minimal 70 di setiap mata pelajaran, kamu gak naik kelas. Mendingan gak usah naik kelas sekalian daripada nanti bikin malu sekolah gara-gara gak lulus UASBN.’

’Kamu tau gak? TKI yang disiksain di luar negeri itu lulusan apa? Kamu tau gak ART itu lulusan apa? Mereka itu lulusan SMA! Minimal SMP! Kalau lulusan SMA aja disiksa orang, gimana kalo gak lulus SD? Kamu mau jadi apa?’

Tau, gak ternyata berhasil, lowh! Anak-anak yang nilainya gak pernah lewat dari 30 (bayangin betapa geregetannya saya) tau-tau pas ulangan umum dapet nilai diatas 80 semua. Yang memang sebetulnya itulah kemampuan mereka kalo sekaliii aja menepiskan kesempatan untuk bikin orang lain ketawa.

Jadi berasa kayak Prof. McGonagal ngadepin Fred dan George Weasley, gak, sih?

Bagaimanapun, akhirnya saya bisa cengar-cengir girang juga melihat hasil ulangan umum anak-anak saya yang nampaknya sudah mulai sadar. Yah, kecuali satu pelajaran yang secara umum anak-anak saya gagal yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah matematika.

Lebih dari setengah anak mendapat nilai di bawah tujuh puluh.

Bikin Pak Kepala Sekolah (Guru Matematika Kelas 5 dan 6) marah-marah karena kebanyakan masalahnya gara-gara gak teliti doang.

’Ya Allah, Bu Alifia. Masa si Endrie 10 dikurangin 6 ditulis 3. Yaudah, dari sini salah semua ke bawahnya.’

Sepanjang ngoreksi Matematika kelas lima, Pak Kepsek mengeluh.

Uring-uringan…

Setress…

Anak-anak kelas 5 dikumpulin di kelas.

’Bapak tau, kalian ini gak teliti karena pengen cepet-cepet istirahat, kan? Pengen cepet-cepet main bola, kan?’

Beberapa anak menggeleng, banyak yang diam saja.

’Coba, tunjuk tangan siapa yang ketika mengerjakan ulangannya buru-buru karena pengen main bola.’

Ternyata memang hampir semua anak tunjuk tangan.

Kalau begitu, khusus kelas lima, Bapak larang main bola selama 3 hari.’

Semuanya bengong..

‘Ya Allah, Bapak…. ‘

‘Gak boleh sama sekali?’

’Tiga hari… Gak boleh… ’

Anak-anak mengeluh dan protes sama saya yang cuma ketawa saja.

Saya bilang kepada mereka, jangan anggap hukuman. Mungkin Pak Kepsek ingin kalian belajar untuk menahan diri. Bagaimanapun, kalian jadi mikir, kan?

Maka hari ini, Senin, adalah hari pertama hukuman itu. Anak-anak saya seharian hanya bisa duduk pasrah di pinggir lapangan menatap kakak-kakak dan adik-adik mereka main bola dengan riang.

’Rasanya seperti di neraka, Bu..’ kata salah satu anak. Saya menimpalinya dengan senyuman saja. Baru begitu aja dibilang kayak di neraka. Idih, ganteng kok lebay!!

Anak-anak ketawa. Tapi ketawa mereka berhenti saat Kakak Nouval kelas 6 nyeletuk keras dari tengah lapangan bola:

Mau boleh main bola? Makanya belajar!

 

 

3 thoughts on “Mau Boleh Main Bola? Makanya Belajar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s