Tak Ada Alasan

Ingat saja tadi Bu Lynn tanya-tanya mengenai kok saya bisa keliatan biasa aja begitu. Kalau saya, kata dia, mungkin udah gak sanggup deh ketawa-tawa. Paling enggak, gak akan menceritakan sakit sambil berbinar-binar exited gitu. Gak bakalan bisa cerita tentang segala pemeriksaan dengan gaya penu petualangan kayak gitu. Rekan-rekan yang lain angguk-angguk kepala setuju. Pak Kelas Tiga bilang saya gak waras, huehehe…

Saya cuma bilang kalau emang naik turun tapi saya juga gak mau turunnya ke mana-mana. Maksud saya, apa juga fungsinya sahabat, coba? Walaupun pernah ada yang bilang jangan letakkan semuanya dalam satu keranjang, tapi saya malah cenderung seperti itu. Hanya tentu saja, kita bener-bener harus punya keranjang yang jempolan, gak bocor dan bisa meringankan beban, ya, kan? Saya tiba juga nangis-nangis bombay berjam-jam di telpon kepada satu orang. Hanya satu orang tertentu itu. Dan itu sudah berlalu. Gak pengen untuk sampai ke titik itu lagi.

Lagian juga, apa fungsinya dunia maya, coba? Bagi saya sih, dunia maya ya dunia maya. Bukan tempat untuk tebar pesona. Karena saya tetap memilih dunia nyata tempat saya berpijak, dan dunia maya tempat saya bisa seenaknya sendiri tanpa takut, Walau tetap dengan hati dan kepala yang dingin. Itulah kenapa saya memilih menggunakan nama pena. Orang-orang di dunia nyata saya gak perlu tahu.

Bagaimanapun, sesungguhnya tidak ada alasan untuk lama-lama mengasihani diri sendiri. Gak pernah ada alasan cukup untuk kita berhenti mensyukuri keadaan kita. Bahkan di tempat seperti ini. Saya terus-terusan diingatkan mengenai betapa beruntungnya saya.

Tadi malam saya tertinggalkan di salah satu ruangan di lantai paling atas gedung ini gara-gara dokter yang lagi meriksa saya tiba-tiba dipanggil untuk suatu keadaan darurat di ruang sebelah. Maka saya menghabiskan waktu dengan berbincang dengan orang-orang lain di ruangan.

Ibu yang ini menggendong bayinya. Berkata bahwa bayinya itu akan diambil darah. Lalu kami berbincang dan saya tertegun mendengar kisahnya. Sang bayi terlahir dengan berbagai macam kelainan. Sistem pencernaannya tidak lengkap. Tidak punya anus. Ditambah kelainan jantung yang membuatnya tidak berhenti batuk dan membiru. Sementara ibu yang satu lagi memangku puterinya yang seusia kelas 3 SD. Dia berkisah bahwa sudah 3 tahun bolak balik dirawat di rumah sakit. Ini adalah rawat inap menjelang operasinya yang kedua. Ketika menatap wajah Sang Puteri, saya sadar bahwa saya tidak punya alasan untuk komplen mengenai keadaan saya.

Saya bersyukur bisa menjalani masa kecil dengan tanpa beban.

4 thoughts on “Tak Ada Alasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s