Tentang Keluarga III: Ayah, Tante, dan Nenek

Saat ngambil rapot tengah semester yang lalu, seorang ayah curhat penuh kesedihan. Sampai menitikkan air mata, jek! Waduh, pertamakalinyalah saya menghadapi seorang ayah yang curhat sampai meleleh air mata begitu. Membicarakan masalah anak pastinya. Bahwa Sang Ayah sedang kehilangan anak-anaknya.

Diawali dari kematian istrinya. Ibu dari anak-anaknya.

Jadi begini situasinya. Selama ini tulang punggung perekonomian keluarga memang lebih banyak terbeban di pundak sang istri. Bukan berarti sang ayah model laki-laki bencong minta duit sama istri, tapi memang penghasilannya sebagai ustadz di pesantren yatim piatu gratisan jauh lebih sedikit dibanding istrinya yang seorang manajer. Sang istri ini pada suatu hari sakit parah yang akhirnya meninggal dunia. Maka cerita pun dimulailah.

Ini bukan kisah mengenai jatuhnya keluarga secara ekonomi, bukan.. Saya hanya ingin menjelaskan sedikit situasinya. Keluarga ini mampu bertahan, namun sudah tidak ada lagi yang namanya bersenang-senang. Bagi anak-anak, ini mungkin sebuah pukulan.

Lalu adalah seorang perempuan yaitu si tante yang merupakan adik kandung Sang Ibu. Sang Tante ini belum menikah sehingga dari dulu memang sudah dekat dengan keponakan-keponakannya. Apalagi setelah Sang Ibu meninggal dunia, maka semakin jauh masuk ke dalam keluargalah dia.

Tentu awalnya meringankan banget. Paling tidak, anak-anak ini tidak sepenuhnya kehilangan figur ibu. Walaupun kerjanya ke sana dan kemari, Sang Tante selalu ada. Selalu nelpon. Gak pernah putus komunikasi dimanapun tante berada. Dia orang yang menyemangati, mengajak jalan ke sana dan kemari, mengirim hadiah, dan sebagainya.

Kemudian semakin jauh. Sang tante mulai sering meminta izin agar anak-anak tinggal bersamanya di kediamannya di pusat kota. Awalnya, sesekali saja. Lalu semakin sering. Kemudian, setiap libur sekolah, walaupun cuma sabtu dan minggu, sang tante pasti minta anak-anak menginap di tempatnya. Terkadang tanpa bilang lagi tau-tau mobilnya sudah ada di depan rumah.

Bagaimana dengan anak-anak?

Apa perlu ditanya? Tentu saja anak-anak senang sekali. Yah, bisa dibilang, di tempatnya sang tante kan semuanya ada. Domplang banget dengan keadaan di rumah yang serba kekurangan. Lagian, figur sang tante juga mendukung. Beberapa kali saya bertemu dengan tante dan juga sang ayah yang mau gak mau membuat saya membandingkan juga. Sang ayah adalah seorang pria yang sudah tidak muda lagi (jarak antaranya dengan almarhum istrinya cukup jauh) dan, bagaimana, yah, ustadz banget. Agak kaku memang kalau bicara dengannya. Sementara sang tante adalah apa yang disebut anak-anak remaja itu keren! Orang yang dinamis, intelek, ngeh dengan apa yang happening pada anak-anak remaja saat ini. Ngedomplang lagi.

Maka, apa yang terjadi kemudian?

Anak-anak jadi menyepelekan sang ayah. Bukan masalah kepatuhan saja, tapi memang sudah mulai tidak lagi menghormati ayahnya sendiri. Sampai beberapa kali membentak-bentak ayahnya di depan umum. Ketika sang ayah mulai bersikap tegas dengan menyita ponselnya, salah satu anak yang tertua kabur ke rumah sang tante. Sang tante sendiri kemudian berusaha untuk memulangkan sang anak kembali kepada ayahnya. Menekankan bahwa bagaimanapun, dia harus patuh kepada ayahnya. Sampai mengancam kalau dia tidak kembali dan tidak mau patuh kepada sang ayah, maka sang tante tidak akan pernah mengajak dia jalan-jalan lagi. Sang anak menuruti. Dia pulang.

Seakan sudah selesai, bukan?

Selesai kalau sang nenek (ibunya ibu) tidak ikut campur. Nenek mendengar apa yang terjadi, kemudian berbalik menyalahkan sang ayah. Karena ayahnya tidak bereslah maka anak-anak jadi kabur dari rumah. Sang nenek justru merasa lebih sreg kalo anak-anak tinggal sama tante saja.

Loh?

Sang nenek memang tidak pernah setuju dengan pernikahan puterinya. Dan sampai hari ini, sang nenek masih tidak suka dengan mantunya. Dan karena sang nenek kaya raya, maka dia sekarang menuntut hak asuh terhadap cucu-cucunya dengan alasan, sang ayah tidak kompeten sebagai orangtua. Sang ayah telah melakukan kekerasan psikis kepada anak-anaknya sampai salah satu anak kabur dari rumah. Dan untuk membuktikannya, Sang Nenek menghubungi psikolog anak dan mengancam sampai KPA kalau Sang Ayah tidak menyerahkan hak asuh anak kepada Sang Nenek dengan sukarela.

Sang ayah tentu saja merasa tidak berdaya jika harus berhadapan dengan mertuanya sendiri. Satu-satunya harapan, mungkin hanya dengan mengambil hati anak-anaknya.

Dan berdoa.

2 thoughts on “Tentang Keluarga III: Ayah, Tante, dan Nenek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s