Pertanyaan Pertanyaan IV: Batas Sabar

Sebaiknya baca ini dulu..

Konon Tuhan masih menerima taubat hambanya sampai nafas tiba di tenggorokan. Sedekat itu pada akhir, kesempatan masih terbuka. Tapi tentu saja, manusia bukanlah sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan dunia ini pun tidak hanya terdiri dari dua warna hitam dan putih saja.

Ingat kisah tentang temannya adik saya yang dikeluarkan dari sekolah. Malam ini saya mendengarkan kisah yang lebih lengkap dan semakin serba salah saja. Tiba-tiba kembali terbahas pada acara nongkrong depan TV karena sebelumnya, ada insiden terjadi. Sang Siswa kembali ke sekolah. Baru sampai gerbang saat Kepsek mengusirnya pergi. Kata adik saya, itu memang salah dia (siswanya) sendiri, sih!

Masalahnya tetap sama. Gara-gara madol. Tapi kali ini saya menerima versi lebih lengkapnya dari adik saya. Bahwa ternyata bukan pihak sekolah yang mengeluarkannya, tapi dia memang minta keluar tadinya.

Tahun ajaran kemarin, ini anak sering madol. Gak jauh-jauh, nongkrong di warnet atau di warung. Yah begitulah sambil minum-minum teh botol, becanda, dan ngerokok. Nah, suatu hari Sang Walikelas memergoki anak ini. Dan sebagaimana seorang madolers sejati saat ngeliat gurunya tentu ambil langkah seribu, dooong…

Padahal Sang Walikelas gak ruwet marah-marah. Beliau emang berteriak-teriak dari jauh:

’Mas… Mas…. Sini ayo masuk aja….’

(Udah celana biru dipanggilnya gak ‘Nak’ lagi, rupanya, yaa…)

Well, Anda yang punya anak usia SMP mungkin nyadar banget, dah! Umur segitu emang lagi berontak-berontaknya. Apalagi anak laki. Lagi degil-degilnya. Suka serba salah. Dikerasin nanti ngelawan, dilembekin nanti ngelunjak.

Tu anak-anak tetep lari. Nah sejak saat itulah dia makin jarang masuk sekolah. Dari rumah berangkat tapi gak tau kemana.

Saat ibunya mulai di panggil-panggil, si anak berdalih kalau ada masalah sama temen-temen. Padahal, menurut adik saya, Walikelas udah nyuruh semua temen-temen sekelasnya untuk menyuport dia kembali ke sekolah. Sampe bosen-bosen, deh, ngajakinnya. Akhirnya guru BK datanglah ke rumah. Menjelaskan bahwa tidak ada masalah apa-apa di sekolah.

Tapi kakak si anak kemudian memberi masukkan kepada Sang Ibu agar jangan terlalu percaya sama guru BK. Siapa tau memang ada masalah di sekolah, kata si kakak. Emang guru tau semuanya?

Mungkin memang ada masalah sebenarnya. Atau mungkin si anak merasa ada yang ngebelain saja. Pada akhirnya, dia menuntut untuk pindah sekolah.

Pokoknya dia gak mau sekolah disitu lagi, titik!!

Sampai disini saya agak bingung dengan kisah yang diceritakan dua orang ini yang dua-duanya saling mengiyakan. Si Anak ogah melanjutkan sekolah di situ lagi. Tapi kemudian si ibu sempat memohon-mohon pihak sekolah untuk tetap mempertahankan anaknya. Mungkin memang dua-duanya bener, kali, ya.. Mungkin sekolah, saat si anak udah gak punya keinginan untuk kembali, akhirnya agak mengendurkan perhatiannya. Lagian juga, ada 34 anak lain di kelasnya yang mungkin jauh lebih layak mendapat perhatian. Ngurusin satu anak melulu ya mau sampai kapan?

Bagaimanapun, ibunya tetep pengennya anaknya bertahan.

Sekolah kemudian mempersilahkan si anak mengundurkan diri.

Tapi anak-anak umur segitu kan memang lagi masa-masanya sok tau, tapi gak mikir panjang. Dikira nyari sekolah itu gampang. Dikira orangtuanya punya gudang duit. Sampai berminggu-minggu kemudian, si anak gak kunjung kembali ke sekolah. Sebab gak ada sekolah yang mau menerima dia atau tidak mampu dimasukinya.

Para guru masih belum menyerah. Mereka masih berusaha menghubungi dengan nitip salam sana sini.

’Kembalilah ke sekolah. Gak apa-apa, kok…’

Tapi tu anak membalasnya dengan perkataan-perkataan yang sengit yang bikin marah kawan-kawannya yang kebagian jatah dititipin salam. Namanya bocah ya ngadu sama gurunya.

’Gak mau, ah! Biarin aja! Dia juga gitu. Jauh-jauh dateng kasih tau malahan dikatain!’

Minggu terus berjalan nampaknya anak ini bingung juga. Mungkin jauh di dalam hatinya, dia sungguh menyesal. Mungkin dipaksa oleh ibunya. Mungkin juga ada alasan lain (kangen sama seseorang, mungkin?) Lalu, berangkatlah dia dengan memakai seragam seperti biasanya. Begitu tiba di gerbang sekolah, kepsek mengusirnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s