Why So Serious?

Lima tahun yang lalu saat pertama kali menjadi guru, salah satu masalah yang saya hadapi adalah berhubungan dengan seorang anak perempuan bernama Putri yang mengganti namanya menjadi Jessika. Anak saya kelas TK B.

Tahun pertama saya mengajar jadi gurunya TK B sekaligus walikelas 2 SD. Hebat, bukan? Itu membuktikan betapa kerennya saya, huehehe…

*PLAK*

Gak, sih! Sebetulnya, ada kekacauan di sekolah saat itu. Yah, itu aja udah keliatan sih! Mana ada sekolah waras (atau guru yang waras?) yang menempatkan satu orang di dua posisi sekaligus? Dan kebingungan ini bukan hanya dialami saya. Kirsan juga harus menjadi guru playgroup sekaligus walikelas 1 SD. Udah gitu kepseknya Cuma satu untuk dua tingkat pendidikan itu. Mana kepseknya bukan pendidikan guru dan gak pernah jadi guru, pula! Beliau lulusan psikologi.

Okeh, sekilas memang kayaknya gak gitu masalah, kali, ya.. Mengenai wilayah pendidikan Sang Kepsek. Toh dia belajar mengenai prilaku manusia. Wilayahnya dia juga mengenai perkembangan anak-anak.
Tapi kenyataannya, enggak. Beliau bikin puyeng segenap guru tiap hari. Alasannya, yah, karena ada kejadian apapun akan ditanggapi secara serius yang sangat lebay…

Misalnya ada seorang guru menegur anaknya.

’Hey, Reno (E)S Lilin,’ Nama anak ini Reno S. ‘Kamu buang sampahnya salah tempat lagi salah tempat lagi. Awas nanti ibu kutuk jadi patung cebol penunggu tempat sampah!’

Anak-anak lain ketawa. Termasuk Reno-nya juga. Sang Guru ini memang begitu. Saya kira anda dapat membayangkannya. Dia jauh sekali dari yang disebut guru yang jahat. Begitulah cara dia menegur yang selalu dicampur dengan humor.

Tapi di hadapan kepsek, itu soangat masalah. Sang Guru mendapat teguran keras karena telah menghina seorang siswa. Kepek bahkan membuat rapat darurat yang membicarakan bahwa hal seperti itu akan melukai hati anak sampai dewasa nanti. Betapa beratnya beban yang ditanggung anak. Dan sebagainya yang bikin kita melongo bingung antara mau ketawa atau sewot kepadanya.

Yaelaaaaahhhh!!!

Kembali ke Putri yang mengganti namanya jadi Jessica. Pada suatu hari, dia menyatakan kepada saya bahwa namanya adalah Jessica. Ketika saya tanya, dia tidak menyatakan alasannya apa. Pokoknya hari ini namanya adalah Jessica. Mungkin besok berubah, mungkin besok masih Jessica. Saya bilang, baiklah. Gak apa-apa. Toh David kemarin kekeuh ngotot setengah mati kalau dirinya adalah pagar kebun sekolah.

Begitulah anak-anak. Begitulah kelas TK. Kemarin David adalah pagar kebun, hari ini Putri jadi Jessica. Mungkin besok Divi dan Ranu bertengkar karena sama-sama pengen jadi Spiderman. Itu hak anak-anak untuk berimajinasi. Hak anak-anak untuk tak beralasan. Hak anak-anak untuk tidak logis.

Jangankan TK, deh! Kelas saya tahun ini aja, nih, ya… Kelas lima. Ada satu anak laki yang beberapa minggu yang lalu tiba-tiba menyatakan diri untuk tidak terlihat di foto sekolah manapun. Dan berungguh-sungguh. Tiap kali foto, dia ada, tapi mukanya menghadap ke belakang, dihalangi oleh buku, menunduk, atau ditutupi dua tangannya. Dia menyatakan anak melakukan itu sampai akhir tahun ajaran. Alasannya? Gak ada. Cuma lagi pengen begitu aja.

Tapi bagi Kepsek, itu ternyata sungguh mengkhawatirkan.

Diawali dari gambarnya Putri ada diatas meja saya. Namanya, Jessica.

Kepsek: Bu Alifia, emang ada yang namanya Jessica di kelas TK B?

Saya: Oh, itu Putri.

Kepsek: Loh, kok, jessica?

Saya: Iya, dia pengen jadi Jessica.

Kepsek: Loh, tapi bagi ibu itu gak apa-apa?

Saya: Emangnya ada masalah, ya, Bu? (bingung)

Kepsek: Yaaa, begini. Ini kan tanda kalau ada sesuatu salah di Putri.

Saya: Misalnya?

Kepsek: Kepercayaan diri yang rendah. Apa ada masalah dengan keluarganya. Ibu pernah baca gak buku judulnya Sybil?

Saya melongo tambah lebar. Geleng-geleng kepala. Bener juga kata rekan-rekan, batin saya. Kalo ada apa-apa, khususnya cerita lucu anak-anak, jangan ke orang ini. Biarkanlah dia di ruangannya dengan setumpuk kertas itu.

Jauhkan dari anak-anak.

Tapi itu gak selalu bisa dilakukan. Misalnya ketika seorang anak pendiem rada susah bergaul namanya Divi yang kehilangan sahabatnya yaitu David. Divi diam saja di kelas saat istirahat. Maka saya tanya kenapa.

Divi: David gak ada.

Saya: David kemana?

Divi: Gak tau.

Saya: Kalau begitu, ayo kita cari dia.

Saya menyodorkan tangan, tapi tidak menghampirinya. Dia yang lari menggandeng tangan saya. Saat kami berjalan ke lapangan itu bertemu Kepsek yang sedang mengisi cangkir kopinya.

Kepsek: Hai, Divi. Mau kemana?

Divi gak jawab malah ngumpet di balik pinggang saya.

Saya: Mau cari David, Bu. Davidnya ilang, nih.

Kepsek: Divi sayang, berteman gak selalu sama David aja. Sama yang lain juga Divi harus mau berteman, ya..

Divi mengangguk. Tau-tau Kepsek mengatakan bahwa dia ingin mengajak Divi ngobrol di kantornya. Saya mau bilang apa? Masuklah Divi ke kantor kepsek. Pintu ditutup. Beberapa menit kemudian, dia keluar lagi langsung memeluk saya.

’Bu Guru,’ katanya. ’Lain kali kalo nyari David jangan lewat sini…’

Loh, emang kenapa, nak? Kata Bu Guru Kepsek gak boleh lewat sini?

’Aku gak mau ketemu sama Bu Guru Kepsek, Buuu…’

……………………………………….
Hihihi…

Iya, iyaa… Maaf, ya. Sekarang, ayo kita cari David.

3 thoughts on “Why So Serious?

  1. saya mao jadi cinderella malem ini,.. eh tapi kok ntar jam 12malem hrs jadi upik abu lagi yak *males ah, jadi setap dudulnya boss yg tukang ngeles ajah, siap-siap bobok AL..

  2. hahahaa..
    Kepseknya seperti itu karena pgn mengaplikasi ilmu psikologi apa emg kepribadiannya yg bikin apa2 dibawa serius?
    Aku sbg mahasiswa psikologi miris jg bacanya..
    Apalagi pas menanggapi perubahan nama putri jd jessica, tega bgt Kepsek nya langsung menduga si putri menderita kepribadian ganda..

  3. Kalau yang kasus pertama (es lilin), saya setuju dengan kepsek. Jangan lah memanggil anak didik dengan nama-nama aneh, lha wong ortunya jg ud susah2 kasih nama yang baik. Tapi untuk kasus selanjutnya, kok seperti memaksakan ya? Atau mungkin beliau bercanda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s