Can’t Take My Eyes of You II: Affair?

Permasalahan anak-anak kadang sungguh gak disangka. Beberapa minggu sebelumnya kami bingung setengah mati sekaligus geli plus heran saat terjadi pertengkaran antar dua anak perempuan. Yah, bertengkarnya sih biasa hanya saling sewot saling mengadukan satu sama lain. Hanya yang menjadi permasalahannya ini loh yang bikin kita ruwet dan heran. Dua anak ini ternyata saling bete gara-gara mereka sama-sama ‘suka’ kepada satu lelaki yang sama. Dan lelaki itu adalah guru.

*gabruk*

Kebayang dong kita yang menghadapinya gimana?

Saya kira pelajaran buat kita semua adalah bahwa jangan melupakan kalau sebagian dari anak-anak kita ini sudah remaja. Tapi, yah, namanya kita berada di sekolah dasar, kadang selalu lupa dan kita terus-menerus melihat mereka sebagai anak kecil. Kebanyakan anak kan memang masih kecil. Sedangkan hampir setiap guru SD itu suka dengan anak-anak. Sayang pada anak-anak. Biasa ikut berceloteh bersama mereka, bermain, bercanda, atau menyemangati mereka. Gak ngeh kalau sebagian dari mereka bisa memaknai lain.

Minggu kemarin, saya mendapatkan kisah baru. Salah satu guru, laki-laki juga, bukan orang yang direbutin dua anak kasus tadi, tau-tau curhat panjang lebar kepada saya. Minta pendapat. Gara-gara ada anak perempuan suka meng-SMS dirinya.

Jaman sekarang guru biasa, kan, SMS-an sama anak-anaknya? Facebook-an? Twitteran. Itu biasa. Maka saya tahu rekan saya pun menanggapi SMS dari anak-anak itu biasa. Dan gak pernah menanggapi dengan berlebihan. Hanya menjawab pertanyaan ini dan itu saja.

Tapi si anak ternyata memperlakukan sang guru sama dengan teman-temannya sesama remaja labil lain.

SMS terus-terusan.

Miscall setiap saat.

Saya kira Anda tahu bagaimana seorang anak ABG itu gak pernah lepas HP dari tangannya. Lengket terus. Berdering terus. SMS terus.

Kebayang.

Masalahnya adalah, ini ternyata membuat kehidupan rumah tangga sang guru jadi memanas saat sang istri mulai mempertanyakan mengenai seorang cewe yang suka SMS dan misscall suaminya. Cemburu. Berantem. Ini anaknya susah padahal sudah gak pernah dibales dan diangkat tapi tetep saja SMS tetep nelpon tiap hari berkali-kali.

Sang Guru curhat dan tanya-tanya gimana yah caranya minta itu anak berhenti SMS dan nelpon tanpa bikin itu anak merasa dikecewain sama gurunya?

Sebenernya yang jadi pertanyaan di benak kami adalah sebenarnya bagi anak-anak ini bagaimana sih? Apa maksud mereka? Apa suka itu maksudnya nge-fans? Atau apa? Sungguh membingungkan mengingat bahwa segede-gedenya anak kita itu kan masih SD.

*sigh*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s