Caught in the Act III: Saat Bu Guru Gak Jujur

Mungkin karena saya adalah guru yang paling suka berkoar-koar kepada anak-anak tentang buku yang sedang saya baca jadinya anak-anak pun senang bercerita kepada saya mengenai buku-buku yang mereka baca. Bukan keluhan. Justru sebaliknya, saya senang sekali duduk ngobrol dengan mereka mengenai buku yang sedang mereka baca.

Rada ribetnya kalau semuanya kepengen minjemin saya buku tersebut.

Begini, bagaimanapun keadaannya, kecuali ada hal-hal tertentu yang merisaukan, saya akan bersikap seakan-akan buku yang mereka baca itu menarik sekali. Walaupun sesungguhnya bagi saya tidak menarik dan saya ogah membacanya. Cukup aman kalau saya belum membaca buku itu. Saya kan hanya butuh jadi pendengar yang sabar dan memasang muka berminat aja. Nah, kalo dipinjemin kan berarti kita harus siap berpendapat, tuh!

Sialnya, itu sering sekali terjadi. Anak-anak kan suka pamer, ya.

Pernah sekali menolak dengan alasan sedang supeeeeeer sibuk. Eh, si anak nampaknya kecewaaaa banget. Karena itu saya jadi gak pernah lagi menolak. Selalu mengambil buku yang ditawarkan. Masalah apakah bener-bener kita baca itu urusan belakangan.

Terkadang, anak-anak pun cukup puas kok dengan pernyataan bahwa bukunya sudah kita baca dan menarik sekali. Gak sepenuhnya bohong, loh, sebab buku tersebut memang sudah saya baca. Beberapa lembar saja. Dan gak bilang juga sudah baca sampai tamat, kan?

Ternyata, gak selalu itu mudah untuk dilakukan. Beberapa anak sudah cukup jeli membaca situasi, walaupun mereka masih sangat muda.

Ini awalnya saat saya mengajar di kelas 3 SD. Salah seorang anak yang sering saya tulis di blog ini yaitu Farhan sedang asik membaca. Seperti orang dewasa, buku yang dia baca dia masukkan ke dalam buku paket hingga jika sekilas, nampaknya anak ini asik aja menekuri buku paketnya. Maka, saat melewati mejanya, saya tarik itu buku saya bawa ke depan. Saya katakan padanya bahwa bukunya nanti akan saya kembalikan selepas pelajaran.

Tapi kalau nanti Farhan ketauan baca buku cerita lagi saat pelajaran, bukunya ibu ambil dan gak akan di kembalikan lagi.

Saat menarik buku itu pun saya sudah berasa heran. Buku yang di baca Farhan adalah novel. Bukan novel anak KKPK (kecil kecil punya karya) seperti yang selalu dibawa anak-anak kemana-mana, tapi novel dewasa bergenre sains fiksi. Fisika kuantum dan astronomi. Buku dewasa setebal 800 halaman!

Astaga! Ini anak udah gedenya nanti jadi apa, ya?

Tapi buku yang di baca Farhan itu adalah jenis buku yang saya ogah membacanya. Saya kira tampilannya yang bikin saya merasa lieur dengan jenis-jenis huruf keren dan teori-teori yang diletakkan secara kasar begitu saja membuktikan betapa pinternya si penulis.

Ini hanya bukan jenis buku yang saya pilih untuk saya baca.

Saat berbincang dengan Farhan selepas jam pelajaran, dia bercerita bahwa dia mendapatkan buku tersebut di rak buku ayahnya. Dia bosan sebab semua bukunya sudah dia baca sedangkan orangtuanya belum membelikannya buku yang baru.

‘Bu Alifia mau pinjem, gak? Tapi satu hari aja, ya. Ayo, Bu, bukunya baguuuus…’

Okey. Besok ibu kembalikan, ya, Farhan.

Saya letakkan buku itu di meja saya. Hanya saya buka-buka sekilas. Sampai besok saat pagi-pagi. Farhan sudah datang ke meja saya.

‘Gimana, Bu? Bukunya udah selesai, belum?’

Sudah ibu baca. Bagus banget! Keren.

Biasanya anak-anak akan menimpali dengan:

‘Iya, kaan. Kata aku juga apa. Buku ini keren, Bu.’

Tapi anak ini malah menimpali dengan.

‘Oh, ya? Menurutku juga. Menurut ibu, bagian mana yang paling menarik? Ibu paling suka sama siapa?’

Dia duduk dengan manis di kursi di depan meja saya. Memasang wajah serius-berminat mendengarkan saya.’

DOENG!!!

Ini anak berusia 9 tahun yang berhadapan dengan saya, ya?

Ngngng, yang mana, yah..

Saya ambil kembali buku yang sudah berada di tangan Farhan dan mulai membuka dengan sekenanya. Bandung. Itu saya lihat sekilas.

Waktu di Bandung. Menurut ibu, itu bagian paling menarik.

Farhan diam saja menatap saya yang tahu banget bahwa saya ketauan gak berkata yang sesungguhnya kepadanya. Maka saya jadi menyerah saja, deh!

Dengan beralasan.

Ibu juga belum baca serius Farhan. Cuma bolak-balik aja sekilas. Sebab ibu sedang banyak pekerjaan dan waktunya juga terlalu cepat. Menurut ibu ini buku yang keren karena banyak pengetahuan dan teori-teori di dalamnya, tapi agak bertele-tele jadi kita susah bacanya dalam waktu singkat. Harus lama kalau mau baca buku ini, Farhan.

‘Iya, sih. Aku juga baru sampai halaman 140 bacanya.’

DOEEEEENG!

Ini anak udah baca sampai sejauh itu? Wadow! Saya yakin banget kalau saya pamerin itu novel di ruang guru dan minta mereka baca, gak semuanya sanggup lewat halaman 50-an. Atau halaman duapuluh, deh! Ini memang novel yang butuh kosentrasi.

Mungkin Farhan sesungguhnya tidak mengerti. Dia hanya membacanya terus dan berniat sampai tamat. Mungkin dia memang mengerti walaupun saya kira, kemungkinannya kecil sekali. Ini anak memang cerdas, tapi gak jenius sejauh yang saya tahu. Jelas punya kegigihan dan sabar yang luarbiasa untuk bertahan maju terus sampai akhir.

‘Kalau gitu, gimana nanti kalau aku udah selesai baca, ibu bisa pinjem lagi.’

Baiklah. Ibu akan coba baca nanti.

*sigh*