Mati Rasa

Salah seorang rekan saya sedang merasa tertekan. Begitu khawatirnya dia sampai sakit berhari-hari. Masalahnya pertikaian antar anak-anak di sekolah. Dua anak ini yang satu tukang emosi yang kalo marah segala caci maki bahasa binatang bisa keluar, yang satu lagi cerdas-licik. Gara-garanya, sama sekali gak penting lah. Saya juga ribet kalo musti menuliskannya. Tapi saya kira, anda bisa membayangkan.

Si anak A dengan gampang dimain-mainkan oleh anak B yang memang akalnya jalan. Di pancinglah si A sampai mengeluarkan kata-kata tak senonoh di socmed. Begitu kena pancing, si anak B langsung melaporkan kepada keluarganya. Keluarganya yang hanya tahu berdasarkan kisah sepihak dan bukti yang sesungguhnya berdasarkan provokasi ini kemudian melaporkan ke sekolah. Dengan segala kemarahan dan berkoar-koar UU dibawa-bawa. Anak A dan B dinasehati oleh guru tapi ternyata yang A tidak terima. Malamnya sang ayah menelpon dan memaki-maki sang guru lengkap dengan ancaman akan membuka semuanya di media massa.

Rekan saya ini buta hukum pun gak gitu ngeh dengan perkembangan di luar. Ancaman ini adalah pukulan yang sangat berat untuknya. Dia curhat kepada suaminya yang bekerja sebagai satpam yang menyelesaikan masalah dengan cara yang dia tahu yaitu balik marah besar kepada istrinya. Melarang sang istri  untuk datang ke sekolah besoknya.

‘Kamu itu mikirin anak orang tiap hari padahal bapaknya maki-maki kamu. Ngancam kamu. Buat apa? Kamu kerja gaji kecil dihormati juga enggak. Gak usah kerja lagi!’

Beberapa saat setelah masalah itu lewat, saya dan dia masih membicarakannya terkadang. Saya tertarik saat dia berkata bahwa insiden itu benar-benar menghantam dadanya. Mengubah beberapa hal dalam sikapnya terhadap pekerjaannya. Hatinya sudah berkurang terhadap apa yang dia lakukan.

’Orang selalu mengagung-agungkan guru, Al.’ Katanya. ’Padahal kenyataannya, kita tetap orang-orang rendahan yang gak berarti apa-apa. Setiap orang hanya ingat apa-apa yang buruk yang kita lakukan. Saat kita marah atau menghukum mereka. Itu yang mereka ingat sampai dewasa. Mereka gak tau seberapa besar pengorbanan kita. Kita Cuma bekerja yang gak ada habis-habisnya. Tapi itu gak pernah ada. Mereka Cuma ingat kesalahan kita aja. Buat apa kita menghabiskan waktu kita mikirin anak orang yang gak menghargai kita? Mereka merasa orang pinter yang gelarnya lebih banyak dari kita. Guru itu jadi guru karena gak diterima kerja dimana-mana dan terlalu goblok untuk jadi dokter atau pengacara. Kita orang yang harus sabar menghadapi apapun. Kamu tau apa kata para orangtua? Saya udah bayar mahal jadi anak saya harus bisa. Kita gak beda sama pembantu, Al. Orang yang dibayar mereka. Yah, tapi kalau pembantu gak perlu berdebat sama kain pel. Kain pel selalu nurut sementara anak-anak suka membangkang. Tapi apapun yang terjadi, betapapun malas atau badungnya si anak, orangtua tetep gak mau tau. Nilai anaknya harus bagus.’

Saya terdiam lama mendengarnya bicara sebelum mengiyakan.

Kayaknya, setiap dari kita akan sampai pada titik ini. Gua cuma kepikiran apakah semua guru pada akhirnya sampai ke sini? Apakah guru-guru kita sebelumnya juga sampai ke sini?

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat seorang rekan saya mengundurkan diri. Dia merasa sakit hati dengan salah satu orangtua murid yang menulis panjang lebar di buku penghubung. Isi tulisannya adalah makian. Gara-gara anaknya mengadu bahwa tadi dia bertengkar di kelas dan guru tidak melakukan apa-apa mengenainya. Tanpa konfirmasi, sang orangtua memaki-maki sang guru melalui buku penghubung.

Rekan saya hanya tersenyum pahit menanggapi tulisan dari orangtua tersebut. ’Gak tau aja dia kalo aku sayang banget sama anaknya,’ kata rekan saya.

Saya tahu. Paling tidak, saya tahu anaknya itu gak mau makan. Susah disuruh makan. Dan rekan saya, setiap hari, setiap makan siang, duduk di sebelah sang anak untuk merayu sang anak makan. Terkadang disuapinya. Karena itu rekan saya selalu terlambat makan. Sebab pada saat seharusnya dia makan siang, dan mendapat sedikit waktu istirahat, sudah habis demi mengurusi anak orang makan.

Rekan saya hanya menuliskan kalimat singkat bahwa dia minta maaf. Hari yang sama dia menulis surat pengunduran dirinya.

’Kamu belum pernah menghadapi hal kayak gitu, ya?’ kata rekan saya.

Sebenernya, sudah. Berkali-kali. Tapi belum pernah ada yang sampai masuk ke hati saya. Sampai beberapa minggu yang lalu. Saat salah satu orangtua murid saya mengeluh kepada bos saya bahwa saya tidak pernah beramah tamah menegurnya.

Saya kira saya hanya sedang sensitif saat itu. Di tengah-tengah kesibukan ke rumah sakit yang gak berhenti-henti yang setiap kalinya bikin tambah setres, bos saya memberi tahu mengenai kejadian itu. Bos memberi tahu di sela-sela obrolan kami mengenai beberapa perencanaan sekolah ke depan. Jadi bukan peringatan atau yang seperti itu. Hanya bagi saya itu masuk sungguh dalam.

Saya tahu siapa orangnya. Dan memang tiap hari datang ke sekolah untuk mengantar anaknya. Saya jadi heran sendiri apakah harus saya menegurnya dan beramah tamah setiap kali berpapasan dengannya? Saya ada disini kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan. SMS saya 24/7 juga saya balas. Kalau tidak, well, saya bukan tipe orang yang senang ngobrol atau berbasa-basi. Saya gak ngerti bagaimana berbincang kepada orang yang bukan teman saya tanpa ada topik yang jelas. Dan saya kira saya sudah bekerja dengan baik mengasuh puterinya dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore di sekolah. Apakah itu belum cukup? Masa saya musti berbual-bual tiap hari tiap pagi kepadanya? Tentu ini baginya penting karena kalau tidak ngapain dia sampai mengeluhkan itu kepada atasan saya?

Itu memukul saya.

Seperti apa kata rekan saya. Bagaimanapun, kekurangan kita lah yang dilihat.

‘Apa itu bikin kamu kayak aku sekarang?’ Tanya rekan saya.

Gak tau, kata saya. Saya lagi tertekan saat itu maka yang kepikiran adalah beberapa kejadian serupa yang pernah lewat. Kejadian-kejadian serupa yang dialami rekan saya ini atau beberapa rekan yang lain. Itu membuat saya mati rasa untuk beberapa saat.

Tau gak rasanya sakit jika kita menaruh perasaan kita kepada pekerjaan kita. Maka saya mencoba untuk mati rasa. Saya datang dan mengajar. Mengasuh anak-anak. Tanpa menaruh perasaan saya. Tanpa antusiasme. Saya hanya melakukannya sampai waktu menunjukkan saat saya bisa pulang. Saya sayang anak-anak tapi bagaimanapun, mereka bukan anak-anak saya. Dan orangtuanya pun tidak selalu menghargai apa yang saya lakukan untuk anaknya.

Tau tidak, rasanya okey saja. Lebih ringan.

5 thoughts on “Mati Rasa

  1. tapi sedih..

    saya selalu mengagumi guru. meski ga semua hal baik saya ingat, saya yakin mengajar itu ga gampang. apalagi mendidik.

    jangan bu, jangan mati rasa. karena di situlah bedanya guru TK-SD dengan guru SMP-SMA. guru TK-SD menghadapi manusia2 kecil yang berjuang menghadapi dunia dengan berdiri sendiri. kepada guru TK-SD lah manusia2 kecil ini ‘dititipkan’ untuk diberi dasar menjadi manusia dewasa: kasih sayang dan memahami.

    dan pahalanya luar biasa. mengantarkan satu manusia pada hidayah, lebih baik daripada dunia dan seisinya. apalagi berpuluh2 manusia?

    saya suka guru SD, karena hangat melebihi guru2 lainnya. karena menyertakan hati.

    maaf ya buguru, saya soktau. saya juga toh bukan guru. tapi saya ingin jadi pendidik, semoga bisa.

    salam senyum🙂

  2. Bu Al..
    Saya sedih baca kisah yg ini..
    Dan semakin menyadari..keluhuran budi, kearifan hati..adalah sungguh suatu hal yg semakin sulit didapat akhir2 ini..
    Karenanya, guru yg mau dan mampu mengasuh dengan hati, sungguh saya benar2 menaruh hormat dan salam ta’zim..
    Percayalah bu…
    Diantara beberapa orang tua yg terkadang “lupa diri” tadi..masih beribu jumlahnya yg benar2 memahami..tugas berat guru dalam mendidik generasi, dengan mengedepankan hati..dan mendoakan smg Allah SWT membalasnya dgn kebaikan yg berlipat ganda..
    Tetap semangat ya bu..

  3. saya juga pernah ngalami Al, dapat surat dari walimurid. Gara2nya saya negur anaknya yang berbuat salah, yang saya anggap sebagai salah satu tugas guru (meluruskan mereka ketika salah). Tapi orang tuanya tidak terima, kemudian nulis surat ke sya.
    Walaupun suratnya pendek, tapi cukup membuat saya down dan sedikit ‘trauma’ kalau berhadapan dengan anak itu.
    Tapi saya berfikir, inilah resikonya sebagai pendidikan.
    Keep spirit!

  4. Bu, aku ngerti perasaanmu
    Aku selalu pakai hati dalam bekerja(bahkan hampir dalam hal apapun), jadi kalau jerih payah seperti tidak dianggap
    Jadinya nyesek banget

    Tapi kalau kemudian kita jadi berhenti sepenuh hati, kok kayaknya hidup tidak seperti hidup ya? Melakukan pekerjaan untuk sekedar beres aja. Hmmm gak banget🙂

  5. duh bu guru, aku kira di sd ak aja gurunya merasa tertekan dengan sikap OTW, tapi kayanya di sekolah bu Al kepseknya wise ga kaya di sini.. sudah di tekan dari OTW di salahkan juga oleh kepsek.. sepertinya saya sudah dalam taraf mati rasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s