Exhuming Mr. Rice: Not How Long You Live, it’s How You Live Your Life

Suatu waktu saya terbangun di depan TV yang menyala. Itu lewat tengah malam beberapa tahun yang lalu. Ternyata filmnya cukup bagus. Maka alih-alih mematikan TV, yang saya lakukan adalah lanjut menonton sampai habis dengan mengutuk dalam hati:

Damn! Ini film bagus begini kenapa di pasang di jam kuntilanak nonton TV kayak begini, sih!

Beberapa tahun kemudian saat mencari Freak the Mighty, saya baru tahu apa judul film yang saat itu baru saya saksikan.

Exhuming Mr. Rice.

Tokoh utamanya adalah Owen, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang adalah penderita kangker . Ya, ya, ini memang film yang mengharu biru. Tapi jika Anda menyangka bahwa sepanjang film ini bakal ngeliat anak laki-laki botak terbaring di rumah sakit menulis buku harian atau puisi, Anda salah!

Satu kelas dengan Owen ada juga penderita kangker. Anak laki-laki bernama Simon. Sudah terminal juga. Owen tidak suka dengan Simon. Anak kecil kurus botak yang ringkih itu terlihat semakin kesakitan dan menderita dari hari ke hari dan Owen benci melihatnya. Tapi sementara Owen selalu menghindar, Simon justru mencari cara untuk berteman dengannya. Simon yang kesepian dan di bully setiap hari menganggap Owen semacam pahlawan. Bagi Owen, Simon adalah perwakilan dari apa yang paling ditakutinya: menjadi lemah dan tidak berdaya.

Owen hanya pengen menjalani hari-hari yang normal seperti anak lain. Dia berjanji, sesakit apapun, tidak akan memasang muka penuh derita ataupun bersikap lemah. Dia kuat, aktif, dan seperti anak-anak seusianya yang lain, terkadang badung dan bikin orang dewasa marah. Yang terakhir itu yang tidak pernah Owen dapatkan. Tidak ada seorangpun yang memarahinya atau menghukumnya atas kenakalan macam apapun yang dia lakukan baik di sekolah maupun di rumah. Orangtua, Guru, dan kepala sekolahnya hanya menghela nafas kepadanya, lalu memaafkan. Di sekolah, justru anak lain yang dia nakali yang biasanya dinasihati atau diperingati untuk mundur. Padahal jelas-jelas dia yang salah dia yang bikin masalah. Begitupun di rumah. Orangtuanya dengan sigap datang dan memohon maaf kepada tetangga atau orang lewat yang ketiban sial dijahilin Owen. Maafkan anak saya, kata mereka. Dia sedang mengalami hari-hari yang buruk. Anda tahu, dia menderita kangker. Harapan hidupnya hanya tinggal hitungan bulan saja.

Owen benci sekali mendengarnya. Dia marah dan terluka.

Tidak kepada semua tetangganya Owen bikin masalah. Ada Mr.Rice yang menjadi kawan Owen. Walaupun masih terlihat muda tapi Mr. Rice mengaku telah hidup ratusan tahun. Ini semua karena Mr. Rice punya satu rahasia, bahwa dia, memiliki dan meminum air ajaib yang mampu membuatnya hidup terus dan menyembuhkan penyakit apapun. Kalau memang benar, nampaknya itu air ajaib sudah habis karena kenyataannya, Mr, Rice meninggal dunia juga. Tapi tidak sebelum dia memberi tahu kepada Owen bahwa dia telah menyisakan sedikit air yang akan dapat menyembuhkan Owen. Sebelum meninggal, ditinggalkannya berbagai macam petunjuk agar Owen dapat menemukan air ajaib itu.

Maka petualangan pun dimulai.

Sebenernya bukan petualangan mencari air ajaib itu yang penting. Memang cukup bikin penasaran. Tapi saya kira, sejak awal kita sudah menyangka bahwa nampaknya Mr. Rice ingin memberikan hadiah kepada Owen. Bukan keajaiban tapi pelajaran. Atau paling tidak, sebuah petualangan di mana Owen dapat merasa hidup dan memandang dunia melewati awan gelap yang menyelimutinya. Dalam hati saya mengutuk juga. Ini permainan berbahaya, Mr.Rice. Anda memberi anak itu harapan palsu. Mungkin dia akan menjalani hidup lebih lega selepas ini, tapi mungkin justru akan merontokannya berkeping-keping.

Bagi saya menarik saat melihat bagaimana orang-orang di sekitar Owen. Bagimana orangtuanya melewati hari-hari penuh emosi yang melelahkan. Mungkin yang saya saat ini rasakan rada sama-sama adalah bagaimana menjadi gurunya Owen.

Di kelas saya ada seorang anak yang memiliki kondisi khusus juga. Sejak awal saya sudah tahu bahwa memiliki beberapa kelainan yang saya kira, hidup sudah penuh kesusahan untuk seorang anak berusia 10 tahun. Badan kanak-kanaknya dimasukin berbagai macam alat penopang hidup. Tapi itu belum cukup nampaknya karena beberapa minggu kemudian, orangtuanya mengirim berita bahwa anaknya sedang bolak balik rumah sakit lagi. Kali ini, ginjalnya yang bermasalah. Saya hanya dapat menghela nafas saja. Berharap bahwa keadaan akan lebih baik untuknya. Saat ini anak special saya itu sudah kembali ke sekolah.

Yep, dia juara!

Kenyataan bahwa dia datang dan berada di kelas sudah membuatnya juara.

Dia tertawa dan bercanda seperti anak saya yang lain begitupun kadang bikin ulah nakal atau males-malesan persis seperti anak yang lain. Seperti orangtuanya Owen, saya cenderung membelanya saat dia bikin ulah dan mendapat laporan. Begitupun rekan-rekan sekelasnya. Mereka mudah memberikan alasan yang merupakan pembelaan kepadanya. Mungkin ini tidak benar, tapi memang begitu kenyataannya. Apakah anak special saya juga merasa kesal dan marah karena itu semua? Saya  berharap tidak. Karena sungguh sangat susah untuk marah kepadanya. Sangat susah untuk memberikan hukuman kepadanya.

Terkadang saya bertanya-tanya dengan sedih saat menatapnya. Bagaimana sih perasaan dia sesungguhnya? Bagaimana wajah dunia ini dari balik benaknya? Apa artinya kehidupan baginya?

Saya kira, itulah yang ingin diutarakan oleh Exhuming Mr. Rice.

One thought on “Exhuming Mr. Rice: Not How Long You Live, it’s How You Live Your Life

  1. Hasrat nonton pelem tengah malam jadi mengebu2 lagi setelah baca tulisan Bu Al hehe
    Pernah juga tuh bela2in nonton pelem bagus, sampai jam setengah empat pagi
    ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s