Pada Saat yang Tepat

Salah satu rekan kerja saya sakit. Dia mulai tidak datang ke sekolah sejak hari kamis, dua minggu yang lalu. Bapak ini memang sakit-sakitan (flu dan magh), jadi sudah biasa bagi kami dia tidak masuk. Namun selepas tiga hari kami, rekan-rekannya, mulai khawatir juga.

‘Jangan khawatir,’ katanya pada hari Selasa yang lalu. ’Saya udah ngerasa baikan, kok. Temen-temen gak usah ngejenguk saya. Apalagi anak-anak. Nanti sore saya ke rumah sakit. Besok mudah-mudahan udah datang ke sekolah.’

Alhamdulillah kalo gitu, seru saya. Soalnya besok saya gak bisa masuk. Harus check up ke rumah sakit. Ribet juga kalau ada lebih dari satu guru gak masuk sekaligus. Maklum, jumlah guru di sekolah kami ngepas banget.

Lusanya saat saya kembali ke sekolah rekan-rekan memberi kabar kalau Sang Bapak Guru diopname. Kabarnya, dia gak bisa bicara. Dan hanya menyebut-nyebut nama saya. Cuma itu yang sanggup keluar dari kerongkongannya sebagai upaya penjelasan kepada teman-teman yang saat itu menjenguknya bahwa dia menderita sakit yang sama dengan saya.

Mungkin jenisnya beda, tapi di situ juga.

‘Dia sendirian, AL.’ kata seorang rekan yang kemarin menjenguk. ’Gak ada keluarga yang nemenin. Dia sendirian di rumah sakit. Nangis. Sedih banget. Kamu kalau ngeliat pasti nangis, deh!’

Dia patah.

Maka perjalanan pulang adalah keheningan yang panjang saat kami tenggelam pada pikiran masing-masing. Mengetahui seorang rekan yang secara umum sehat, gagah, dan gemuk mendadak terkapar tak berdaya tanpa tenaga.

’Kemaren, kita semua jadi kepikiran kamu.’ Kata rekan-rekan. ’Ngeliat Bapak Guru nangis gitu. Berarti kamu itu tabah banget, ya, AL. Kayaknya kamu cengar-cengir aja nyeritain sakit.’

Ah, teman, kebanyakan kalian gak tau sih kalo saya hampir tiap hari cengeng. Di twitter. Menye-menye! Begitupun di blog. Tapi orang bisa meng-unfollow saya di twitter kalo bosen dengan keluhan saya. Atau memutuskan untuk tidak membaca blog saya lagi. Maka mereka tidak akan terganggu. Namun di dunia nyata, jika kita bersama seseorang yang meredup, kita terjebak bersamanya. Atas nama persahabatan atau kasih sayang, kita diharapkan berada di naungan hujan badainya. Itu pasti akan menyebalkan sekali. Saya tidak mau orang-orang di sekitar saya ikut meredup bersama saya.

’Kok, kamu bisa kayak gitu, sih, AL?’

(Well, saya udah tumpahin ke orang-orang yang gak saya kenal soalnyaa, huehehe…)

Soalnya gua udah lewat masa itu, kata saya. Hancur-hancurnya itu kan waktu pertama-tama dulu. Lagian, Bapak Guru kan punya keluarga. Anaknya banyak, masih kecil-kecil semua pula.

Yep, saya sedang berada di titik aman jika memang terjadi apa-apa. Saya sudah menjadi apa yang saya inginkan. Hidup sesuai yang saya cita-citakan selama ini. Saya kan emang gak pernah punya impian yang besar, hehe.. Dan lagi, saya belum punya sesuatu yang memberatkan saya. Saya tidak punya anak, belum menikah. Dengan kata lain, tidak ada yang hidupnya bergantung atas keberadaan saya. Dan saya bersyukur karena itu.

Tuhan memberi cobaan seberat yang dapat ditanggung hambanya, pada saat yang tepat. Insya Allah.

3 thoughts on “Pada Saat yang Tepat

  1. aku percaya bhw segala penyakit yg kita derita mmg sudah ketetapan Allah. Dan Ia tdk akan memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya.
    Buu Al… aku akan selalu doakan yg terbaik buat ibu..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s