Alternate Ending II: Pengakuan dan Penyesalan

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film Jepang berjudul Kokuhaku. Penasarannya sudah lama sejak membaca resensi dari Ando. Tapi mencari film ini tidak mudah. Dan itu semua sepadan. Saya sudah menontonnya dua kali dan masih tertarik untuk menontonnya lagi. Bagi yang ingin tahu silahkan klik saja disini dan baca resensinya. Saya akan mengutipkan satu paragraph dari tulisan tersebut.

Film dibuka dengan suasana ceria murid-murid SMP kelas 1B di hari terakhir sekolah sebelum liburan naik kelas. Mereka minum susu kotak yang dibagikan oleh wali kelas ibu guru Yuuko Moriguchi (Takako Matsu). Selama acara minum susu, para murid tak terlalu mengidahkan kehadiran Moiguchi sensei, malah asyik sendiri dengan aktivitas masing-masing. Barulah setelah acara minum susu selesai, perhatian para murid sedikit mucul ketika Moriguchi sensei membuat pengakuan pertama yaitu beliau berhenti mengajar sejak hari itu. Pengakuan itu disusul dengan pengakuan lain yaitu Manami, anak perempuan Moriguchi sensei yang berusia 4 tahun, tewas dibunuh. Pengakuan terus berlanjut dengan penyataan Moriguchi sensei bahwa pembunuh anaknya adalah 2 orang murid yang ada di dalam kelas, dan Moriguchi sensei mengakui 2 siswa tersebut tak bisa dijerat hukum kriminal karena masih dibawah umur. Karena itu, sang ibu guru memutuskan untuk mengambil alih tanggung jawab tersebut dengan tangannya sendiri. Moriguchi sensei mengakhiri hari terakhirnya sebagai guru dengan pengakuan final yaitu memberikan darah yang terinfeksi HIV ke dalam susu yang diminum 2 orang siswa yang membunuh anaknya. Sejak itu, dimulailah kisah kelam nan suram akibat pengakuan Moriguchi sensei di depan murid-murid kelas 1B, terutama 2 orang siswa pembunuh yang dijulukinya dengan nama siswa A dan siswa B.

Kenapa sebuah film dikatakan keren? Bagi saya sendiri, sebuah film itu keren bukan karena adegan-adegan dahsyat bombastis penuh visual effect atau cerita yang selalu rumit. Tapi sebuah kisah yang membawa perasaan atau membuat kita berpikir, terkenang, dan jika mendengar, membaca, atau menyaksikannya kembali akan memberikan sebuah perspektif baru. Sebuah kisah yang ketika datang kepada kita dapat menggeser sebuah nilai yang kita terima sebelumnya menjadi tidak lagi aman. Sebuah kisah juga saya anggap keren jika kisah itu dapat membawa saya dan orang lain terlibat percakapan mengasyikan beberapa waktu kemudian. Sebuah percakapan yang panjang dan seringnya penuh adu argumentasi. Sebuah kisah yang memberikan kepada kita sebuah keleluasaan dalam memandangnya dari berbagai sudut pandang. Kokuhaku memberikan itu semua bagi saya dan beberapa rekan yang saya ajak nonton juga.

Tapi, tulisan ini hanya ingin saya ungkapkan penyesalan.

Ada anak remaja dalam kisah ini yang diabaikan. Dia seorang siswa yang cerdas bahkan mungkin jenius, yang menginginkan tidak lain hanyalah pengakuan dari dunia di sekitarnya. Sejauh yang saya tangkap pada kisah ini, dia tidak mendapatkannya. Ibunya pergi meninggalkannya sejak kecil dan tidak pernah kembali lagi kepada hidupnya. Ayahnya menepikannya. Anak ini berusaha sekuat tenaga agar dilihat orang. Dia membangun sebuah website dimana dia mengumumkan inovasi-inovasi yang diciptakannya namun tidak ada yang berkomentar. Media massa sibuk memberitakan hal-hal buruk yang dilakukan oleh orang-orang sebayanya. Kekerasan. Bullying. Bagi media, berita buruk adalah berita yang bagus jadi siapakah yang akan peduli dengan seorang anak 13 tahun hobi ngutak utik barang-barang elektronik? Sungguhpun pada akhirnya anak ini memenangkan penghargaan bergengsi, toh dia hanya berada pada berita kecil pada halaman sekian. Tertutupi oleh tindakan kriminal yang dilakukan oleh rekan sebayanya.

Ini kan yang sedang terjadi di sekitar kita? Tindakan kriminal, kekerasan, dan pornografi itu terus yang dibahas dengan semangat berlebihan pada media sedangkan anak-anak kita yang berprestasi semakin kecil semakin hanya tertinggalkan gema yang nyaris tak terlihat.

Satu adegan yang saya soroti ketika si anak memamerkan inovasinya yaitu dompet anti pencuri kepada sang guru yang langsung ditanya dingin mengenai perbuatan sang anak yang tidak baik. Saat menontonnya untuk ke dua kali saya bertanya-tanya jika pada saat itu sang guru bukannya bertanya macam-macam dan memuji anak itu, apakah yang akan terjadi kemudian? Adegan itu menyiratkan bahwa inilah pertama kali mereka bertemu (sia anak bertanya guru mengajar apa), kemungkinan besar anak itu hanya ingin memamerkan kelihaiannya. Dia hanya ingin dilihat orang lain. Seorang guru yang seperti ibunya. Mungkin saat itu dia menawarkan dirinya sendiri untuk diambil dibawah sayap sang guru. Lihat, Bu, saya bisa melakukan ini. Saya pintar, kan, Bu? Banggakah ibu kepada saya?

Pada akhirnya dompet itu memang memenangkan kejuaran inovasi yang nampaknya cukup bergengsi. Maka memang layak seharusnya dia mendapat pujian yang membesarkan hatinya dan bukan langsung di serang mengenai apa yang sesungguhnya sebagai wujud frustasi dirinya.

Kenyataannya, memang kita, guru maupun orangtua, lebih mudah menyerang kekurangan anak-anak kita dibanding membesarkan hatinya. Walaupun sesungguhnya kita tahu, bahwa anak-anak ini, langkah kakinya belum selebar kita. Maka jarak yang bagi kita kecil ini harus ditempuh dengan payah, pun kita hanya melihat kelambatannya.

Kenyataannya, kita mungkin juga lebih dipenuhi prasangka, seperti yang ditunjukkan pada kisah ini.

Maka apa yang terjadi jika sang guru saat itu merangkul sang anak alih-alih bersikap dingin?

Saya membayangkan sang anak akan bercerita dan memamerkan berbagai macam penemuannya yang lain. Mengundang sang guru ke tempatnya yang terasing. Saya membayangkan sang guru akan, dengan bertahap, menanamkan nilai lebih positif ke dalam diri sang siswa untuk menekan ketidakpeduliannya terhadap jiwa orang lain. Saya membayangkan sang guru mau membantu sang siswa untuk menemukan ibu kandungnya sehingga dia tidak lagi merasa diabaikan oleh seluruh dunia. Toh pada akhirnya seseorang akan memperlakukan lingkungannya sebagaimana dia merasa diperlakukan oleh lingkungannya itu. Maka lingkungan yang seperti apa yang akan kita berikan kepada anak didik kita? Keramahan ataukah pahit yang mengergak tenggorokan?

PS: Film Kokuhaku ini bagus juga ditonton bagi para orangtua. Saya kira akan ada beberapa bahan pemikiran mengenai dunia anak-anak remaja.

11 thoughts on “Alternate Ending II: Pengakuan dan Penyesalan

  1. aku selalu tertarik dgn film2 yg bu Al ulas di sini, sprtinya semua film yg bu Al tonton bagus (berbobot dari segi cerita) dan seru . Aku kagum bgt dgn bedah film yg bu Al tulis.😀
    Pgn bs nonton filmnya, tp ga sempet buat download.. *sedih

  2. Hiks, *terharu baca keseluruha isi post*

    Saat menontonnya untuk ke dua kali saya bertanya-tanya jika pada saat itu sang guru bukannya bertanya macam-macam dan memuji anak itu, apakah yang akan terjadi kemudian?

    saya bisa membayangkan, pembunuhan itu tidak terjadi.

    BTW, saya juga pengen ngulang nonton Filmnya, tapi tunggu lupa dulu sama ‘resensi’nya. For me, it’s quite help lah untuk memurnikan pendapat.😛

  3. Bu Al,, aku gak sabar buat nonton pelem ini
    Iyah nih, aku juga selalu tertarik dengan pelem2 yg dibahas Bu Al

    Jadi semacam penyegaran juga di sela2 rutinitas nonton serial remaja n komedi situasi :p

    Thanks ya sudah berbagi

  4. bu al, abis baca ini aku langsung cari film nya, dan setelah di tonton
    miris banget.
    aku menyesalkan media massa yang pake prinsip bad news is a good news,
    m

  5. Ping-balik: Kokuhaku (Confessions) – Gray Zone of Revenge and Morality « Journal of Sienvisgirl

  6. film yg bner2 mengganggu kemanusiaan kita..eh, hati maksudnya..

    tapi ane bertanya-tanya waktu di ending, ane ga yakin,
    *spoiler!*
    apa bom bener2 meledak?…yg kita liat kan itu cuma bayangan di kepala Shuya aja, plus di akhir Moriguchi sensei berkata..just messing with u…(?)
    ada kemungkinan kan itu cuma permainan psikologi yg dilakuin Moriguchi buat “ngalahin” Shuya…

  7. Ping-balik: [J-Movie] Kokuhaku (Confessions) : Gray Zone of Revenge and Morality | Little Paradox

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s