Belajar untuk Menerima Kemenangan

Sebelumnya, silahkan baca tulisan yang ini dulu.

Sekarang lagi musim lomba-lomba lagi dan kali ini, saya bukan jadi si tukang nganterin kesana kemari. Paling kalau kebetulan ada waktu kosong aja pun bukan jadi pembimbing. Tapi guru yang iseng-iseng ikut, hehe..

Kemarin selama beberapa hari saya ikut nganterin tim futsal yang bertanding ke salah satu sekolah swasta di kabupaten kami. Jauuuuh… Tapi karena bukan di Jakarta, jadi tidak bete karena macet. Jalannya lancar. Rasanya seperti berdarmawisata saja.

Kali ini, tidak seperti tahun-tahun yang lalu, kami jauh lebih siap. Tentu saja sebab sekarang sudah ada eskulnya tersendiri, sih! Dan sudah ada pelatih. Tapi yang namanya norak anak-anak tetep aja gak ilang-ilang.

Lari ke sana kemari. Terus ilang, deh!

Heboh ketemu kantin (soalnya di sekolahan kita gak ada kantin ataupun tukang dagang) dan sussssah banget dibilangin untuk gak jajan.

Ngeliatin anak-anak yang pada bawa HP (anak-anak saya gak boleh bawa HP) ribut poto-poto. Eh, kalo itu yang norak anak-anak saya atau mereka, yah?

Sama noraknya!

Lucu pas selesai pertandingan anak-anak pada terkapar di lapangan ngeluh capek ogah kemana-mana padahal kita harus segera pergi karena spotnya mau dipakai tim lain yang bertanding.

Pak Satria: Ayo bergerak. Nanti bapak kasih remason.

Anak-anak: Horreeee!! Asiiik!!! (Bangun. Bergerak)

Anak-anak: Yang rasa jeruk, ya, Paak…

Saya: Loh? Heh?

Pak Satria: Iya, iya… Rasa apa aja deh yang ada.

Anak-anak: Aku rasa anggur… Eh, strawberry juga gak apa-apa.

Pak Satria: Iya, iyaaaa… Ayo, ah!

…………………………. Beberapa waktu kemudian.

Anak-anak: Mana, pak, remasonnyaaaa? Udah haus, niiih!

Saya: Emang remason apa?

Anak-anak: Minuman.

*hekk*

Well, biasanya kami kalah-kalah tapi kali ini menang-menang. Dan nampaknya, menyampaikan berita kemenangan nanti pun sama menyusahkannya dengan menyampaikan berita kekalahan. Sama mengkhawatirkannya.

Terlihat dari pembicaraan anak-anak di kendaraan.

’Gimana, nih. Kita emang menang. Tapi temen-temen percaya, gak, ya?’

’Nanti pada gak percaya, deh kalo kita menang.’

’Iyaaa… Siapa yang bilang. Bu Guru aja, ya…’

Jadi sedih…

Lalu salah seorang anak memutuskan.

’Gak usah takut. Kita biasanya kalah juga gak takut kasih taunya. Biar aja pada gak percaya tapi kan kita jujur. Kenyataannya kita emang menang, kok. Terserah temen-temen nanti mau percaya apa enggak.’

Anak lain ngangguk-ngangguk.

One thought on “Belajar untuk Menerima Kemenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s