Kompak dan Konflik

Lama-lama, kami hapal juga pola-nya. Walikelas enam akan menghadapi kekompakan anak-anak dalam hal apapun yang lebih banyaknya, upaya untuk melanggar peraturan. Atau lebih tepatnya, mengulur peraturan. Kami mulai berpikir kalau anak-anak kelas enam itu seperti anak yang obesitas. Lamban. Bukan berarti mereka lamban, tapi seakan ada upaya untuk selalu bermalas-malasan saat melakukan sesuatu. Seakan itu adalah upaya perlawanan atas waktu yang memburu-buru mereka. Ayo, belajar lebih banyak secepat-cepatnyaa!!! UN datang!

Oh, ya! Tahun ini, SD bukan lagi UASBN tapi UN.

Mungkin juga, kelambanan kelas enam ini memang sudah saatnya. Mereka udah bukan lagi anak-anak yang selalu jumpalitan hiperaktif yang pusing kalo harus gak ngapa-ngapain. Kebalikannya orang dewasa yang menikmati saat-saat ngegelosor santai-santai.

Apapun itu, kelambanan dan selalu ngegerombol plus ngobrol sepanjang waktu inilah yang bikin guru-guru geregetan.

Menjadi guru kelas enam pun musti siap-siap lebih gak gampang tersinggung dan legowo. Karena berbeda dengan adik-adiknya yang menganggap orangtua atau guru bagian dunianya, anak remaja sudah mencoba bikin sebel. Atau tanpa sengaja bikin sebel. Kaca’an. Sibuk ngegosipin artis dan dengan gaya bicara alay atau yang lagi trend kerjaannya nyeletuk melulu atau cekikikan saat berlangsung kelas. Tidak seperti biasanya nyeletuknya adalah berkomentar atau bertanya mengenai pelajaran, ini anak-anak ababil (ABG labil) nyeletuknya kata-kata seperti ’Masaaaa?’ ’Ih, gak nanya kaleee!’

Ya ampun, saya mulai ngerti sekarang kenapa guru sekolah menengah itu tegang-tegang atau adanya pendapat untuk tidak berteman dengan siswa kita. Soalnya kalau kita menyejajarkan diri kita, mereka cenderung ngelunjak. Berbeda dengan anak-anak yang kita bisa berteman dengan mereka sambil mereka tetap mendengarkan kita.

Atau paling tidak, saya belum ketemu sela-nya gimana mengajar anak remaja dengan tanpa musti mengkerut dahi tapi mereka tidak ngelunjak.

Seperti yang berkali-kali saya ungkapkan, sungguh salut dengan para guru SMP. Mereka pasti dianugerahi kesabaran yang luarbiasa.

Di kelas lima, permasalahan yang bikin ruwet hampir sama juga. Pertemanan. Kebalikan dari kelas enam yang lagi asik-asiknya kompakan, kelas lima adalah masa-masa terpecah dalam beberapa kelompok kecil lalu berkonflik diantaranya. Dan inilah saat mereka belajar untuk menyelesaikan konflik itu, atau menjalani konflik itu, dengan tidak lagi dengan cara kanak-kanak yang biasanya hanya ngadu-ngadu atau berantem fisik lalu marahan. Anak-anak kelas lima mulai berusaha mempengaruhi teman-temannya. Nge-gank! Atau memberlakukan semacam sanksi sosial. Dengan kemajuan teknologi informasi dan meleknya anak-anak ini terhadap media mulai-mulai juga ke arah cyber bullying.

Dan sungguh, terkadang menghadapi segala macam pertikaian ini bikin kesabaran kita berasa dikorupsi juga. Paling tidak, mungkin, rada bisa bikin bernapasnya adalah karena hal-hal ini lebih cenderung berada anak-anak perempuan. Anak laki tentu berkonflik, tapi biasanya hanya meletus sesaat sesudah itu selesai. Dihukum lalu selesai nanti tau-tau sudah main bola sama-sama lagi. Tapi anak perempuan kalau udah berkonflik sama temen sampe sebulan kemudian juga masih aja merasa sebel dan gak suka lalu ujung-ujungnya, konflik lagi deh.

*sigh*

2 thoughts on “Kompak dan Konflik

  1. saya dulu nge-geng-annya pas kelas enam bu. seru deh saya jadi kepala geng, haha😀

    soalnya iya bener pas kelas enam tu udah mulai keluar centil2nya cewe2. ngeceng2in anak2 smp dan sma segala.memonopoli cowo2 di kelas seolah2 ga boleh ada cewe lain yang suka selain mereka. mereka juga ‘menindas’ dan meremehkan cewe2 pendiam dan baik tapi penakut. dan saya ga suka.. gitu deh. (btw esde saya emang aneh)

    ujung2nya pas smp ketemu lagi juga udah lupa tuh musuh2an. emang perlu dilewati aja kali ya..

  2. Tapi anak perempuan kalau udah berkonflik sama temen sampe sebulan kemudian juga masih aja merasa sebel dan gak suka lalu ujung-ujungnya, konflik lagi deh.

    Wah, dimana-mana sama ya.^^
    dulu waktu saya masih ngajar SD, juga ada ngadepin anak cewek kelas lima yang nggak temenan sama temen sekelasnya. Dikelas itu mereka sudah punya geng, dan teman se-gengnya ikut musuhin satu orang teman sekelasnya ituh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s