Tari Lemon

Beberapa hari yang lalu saya menyaksikan sebuah film documenter berjudul Waiting for Superman. Film ini memperlihatkan tentang sistem pendidikan di Amerika Serikat yang masih jauh dari yang dikatakan idealis. Permasalahan yang mereka hadapi, hampir sama dengan yang ada di negara kita yaitu betapa sulitnya untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kecuali kalau Anda itu kaya, atau sangat beruntung, maka pendidikan dasar yang berkualitas sangat jauh dari jangkauan

Padahal pendidikan itu jualan politik yang laku keras.

Pada film dikisahkan bahwa sejak berpuluh tahun lalu para politisi Amrik sudah berteriak-teriak mengenai pendidikan. Dan hasilnya? Para politikus yang berteriak tentang pendidikan ini mendapat simpati besar-besaran. Anggaran negara sudah tumpah ruah diberikan kepada pendidikan tapi hasilnya? Menurut film ini datar. Sama sekali tidak beranjak naik. Bahkan nilai penguasaan anak-anak Amrik atas matematika dan sains terjun bebas sampai ke posisi ke-25. Saat ini sepuluh persen warga Amrik adalah pengangguran sementara 30 persen posisi top perusahaa-perusahaan di sana kebanyakan diduduki oleh warga negara atau keturunan asia. Orang Amriknya jarang yang dapat memenuhi kualifikasi.

Apa masalahnya?

Menurut film ini pada akhirnya semuanya tergantung guru. Anggaran boleh saja besar-besaran atau fasilitas yang paling canggih tapi toh ujung-ujungnya itu semua percuma kalau gurunya gak beres dan sebaliknya. Okeh, sebetulnya film ini banyak menuai kritik dan dianggap terlalu menyederhanakan masalah tapi bagi saya banyak juga yang menjadi bahan pemikiran pun terdapat fakta-fakta menarik yang diungkapkan. Salah satunya mengenai tenure.

Salah seorang narasumber di film ini menceritakan sebuah kisah yang cukup bikin miris dan geregetan. Pada suatu kali, dia meletakkan kamera di kelas-kelas yang merekam seluruh aktivitas selama pelajaran berlangsung. Ada guru-guru yang memang berdedikasi ada yang masa bodoh acuh tak acuh baca koran sepanjang hari membiarkan siswa-siswanya melakukan apa saja di kelas. Bahkan ada guru yang melakukan tindakan kekerasan kepada siswanya. Lalu apa yang terjadi? Guru yang paling ngaco sekalipun ternyata tidak dapat dipecat.

Mereka punya tenure.

Tenure adalah hak ekslusif yang dinikmati para guru di Amrik berupa perlindungan bahwa pekerjaan mereka dijamin sampai akhir hayat mereka.

Pada awalnya tenure ini diberikan kepada para professor untuk menjamin bahwa mereka tidak akan dipecat karena komentar-komentar yang menyengat pemerintah, namun perkembangan selanjutnya, para guru sekolah pun mendapatkan hak istimewa ini. Ada latar belakang dijelaskan bahwa pada suatu masa dimana para guru diperlakukan sewenang-wenang lalu munculah serikat guru dan selanjutnya bergulir. Yah, bagaimanapun, itu sejarahnya Amrik lah ya tapi bagi saya yang menarik kemudian adalah kisah tarian lemon.

Nah, tarian lemon apa lagi?

Jadi ini adalah suatu sistem yang ‘terpaksa’ dijalankan oleh para kepala sekolah di Amrik. Guru yang dianggap gak beres akan dilemparkan ke sekolah lain. Jadi para kepsek dikatakan saling menari lemon melemparkan guru. Maka yang terjadi adalah, setiap sekolah saling melemparkan guru-guru bermasalahnya. Ini tentu saja bukan solusi yang ideal, tapi itulah yang dapat dilakukan. Bagaimana lagi? Para guru ini toh gak bisa dipecat

Menggelikan!

Tapi sebetulnya saya teringat tarian lemon ini karena tadi hampir seharian sakit kepala memikirkan dua orang anak saya. Kedua-duanya anak baru pada awal tahun ajaran ini dan kedua-duanya, ternyata tertinggal sangat jauh di belakang. Beneran rasanya ngelus dada banget menahan sabar menghadapi mereka berdua. Pernah suatu kali Bu Matematika sampai beneran nangis-nangis setelah memberikan tambahan belajar satu anak. Bikin sewotnya mungkin salah satunya itu sudah ketinggalan jauh bener, susah mudeng, jarang masuk pula. Kalaupun masuk sering gak bawa buku. Kalau gak masuk ya gak masuk aja tanpa kabar sebelumnya dan setelah masuk paling hanya mengatakan kalau dia habis ke Singapura, misalnya. Atau pusing. Hari ini pun tidak masuk sekolah padahal sedang UTS. Kemarin anak itu masuk sekolah tapi tidak membawa buku IPA yang oleh gurunya disuruh laporan kepada saya yang marah kepadanya.

Kamu ini gimana, sih! Kamu kan tau banyak ketinggalan pelajaran. Sering gak masuk. Ditambah buku gak dibawa. Ibu minta sama kamu itu sederhana aja. Masuk sekolah. Jangan banyak gak masuk. Tolong periksa buku sebelum berangkat. Itu aja deh dulu.

Di berkaca-kaca. Saya tahu bukan terharu. Matanya menyiratkan takut menghadapi nada suara saya yang tinggi kepadanya. Lalu hari ini, gak masuk.

Seperti biasa. Kalau habis dimarahin atau dihukum, dia gak masuk sekolah. Atau sakit. Ribet bukan? Itulah kenapa Bu IPA menyerahkan kepada saya. Dia takut menghukum anak ini besoknya gak masuk, nanti dia yang jadi kepikiran.

Maka saya yang sakit kepala. Bagaimana enggak, ini udah setengah semester terakhir sementara anak ini masih jalan di tempat. Dengan banyaknya absent dan catatan, saya bingung mau bagaimana memperjuangkan anak ini. Tolong bantu dirimu sendiri, kata saya kepada salah satu anak tahun ajaran kemarin. Jadilah anak yang baik. Kerjakan PR dan tugasmu. Jangan bikin masalah. Tolong teman, hormati guru. Tunjukkan kalau kamu, walaupun belum bisa mendapatkan nilai yang bagus, masih ngepas, tapi mau berusaha mati-matian. Dan dia melakukan itu. Memang sih belum bisa menyamai teman-temannya tapi istiqomah maju pélan-pelan, sehingga saya bisa dengan ringan menaikan dia ke tingkat yang selanjutnya. Tapi anak yang ini, saya gak berani.

Maka ada kemungkinan bahwa pada akhir nanti, OTW-nya diberi dua pilihan: gak naik kelas atau pindah

Gak naik kelas atau pindah itulah opsi yang secara umum diberikan di sekolah-sekolah swasta saat ini. Tidak seperti sekolah negeri yang bisa dengan tegas memutuskan seorang peserta didik tidak naik kelas, di sekolah swasta rada ribet urusannya. Kalau kata rekan-rekan saya, ngajar di sekolah swasta terlalu banyak bos-nya. Ada diknas yang kita harus ikutin ketentuannya, ada yayasan, ada juga orangtua murid. Belum kratak kritik media massa bikin guru jadi merasa dijepit sana sini.

Gak naik kelas atau pindah. Intinya, guru gak bersedia untuk meloloskan anak ini ke tingkat selanjutnya tapi kalau orangtuanya ngotot tetep mau naik kelas, apalagi kalau udah bawa-bawa pendapat dari psikolog ini dan itu atau apalagi sampai mengatakan gurunya gak perhatian dan kejam (hiks), baik tapi silahkan cari sekolah lain. Mungkin Ananda tidak dapat mengikuti pelajaran disini karena terlalu banyak atau terlalu berat, itu bahasa halusnya.

Dan begitulah sampai ada anak yang masuk kelas 5 tapi sudah pindah sekolah 4 kali.

Jangan-jangan, sedang terjadi tarian lemon juga disini.

Kalau di Amrik ada lempar-lemparan guru gak beres sementara diantara sekolah-sekolah swasta terdapat transfer-transferan siswa yang tertinggal di belakang. Karena jelas sekali kok terlihat. Dari seluruh jumlah anak-anak pindahan tiap tahun, setengahnya ternyata anak-anak yang tertinggal. Itu yang saya amati. Setengahnya lagi adalah anak-anak yang memang mengikuti orangtuanya pindah rumah karena pekerjaan atau hal-hal yang lain.

Jadi khawatir.

2 thoughts on “Tari Lemon

  1. Bu Al, lempar2an guru bermasalah mungkin nggak, tapi guru2 pns itu jg kyk yang punya tenure, gak bisa dipecat sembarangan (sprti umumnya pns yg lain). Trus, soal siswa bermasalah, lempar2an ini juga terjadi di sekolah negeri lho, terutama sekolah-sekolah cluster 3 ato 4 yg jadi ‘buangan’ sekolah2 cluster 1 ato 2.
    Guru2nya yang sering protes, soalnya mereka yg musti banting tulang ngadepin anak2 model begini, sementara (katanya) yg dapat uang mutasinya kan cuma kepsek n komite…
    p.s. like your writing much!

  2. Ping-balik: Thor Kembali ke Program | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s