Kritik Soal

Ini anak anak saya paling jago yang namanya protes dan kritik khususnya kalo menghadapi hal-hal yang menurut mereka aneh atau salah di soal yang harus mereka kerjakan. Hihihi… Kita lagi UTS, nih.

Dan seperti kebiasaannya, walaupun sekarang sekolah punya keleluasaan untuk menyelenggarakan UTS dan UAS dengan gaya masing-masing, sekolah saya sih tetep memilih yang klasik dengan soal beli dari dinas pendidikan setempat. Prosedurnya juga mengikuti sekolah-sekolah negeri pada umumnya. Pake kartu ujian, tempat duduk selang seling duduk sesuai nomor, dan seterusnya yang saya yakin Anda semua pasti masih ingat. Alasannya, ya, karena toh ujung ujungnya kita ngasuh anak anak enam tahun diakhiri dengan UN juga. Makanya kita pikir lebih baik ambil ditengah-tengah ajalah. Ulangan dengan cara proyek-proyekan ada, ulangan klasik juga ada. Sekalian soal dari dinas biar anak-anak terbiasa mengerjakan soal dari luar. Biar guru-guru juga terbiasa sport jantung degdegan. Kalo soal bikin sendiri kan kita bisa ngira-ngira kemampuan anak. Maka yang namanya cari nilai bagus itu jadi gampang. Bikin aja soal yang mudah semua atau udah pernah dibahas. Kalo soal dari luar, dan apalagi sama dengan yang dikerjakan anak-anak SDN tetangga–yang satu kelasnya ada 60 orang, kapur dijatah-jatah, gurunya satu untuk dua kelas–jadi beresiko itu. Malu kalo nilai anak anak kita yang notabene punya fasilitas lebih baik, walaupun belon keren, sampai di bawah mereka.

Biar anak anak terbiasa mengerjakan soal dari dinas.

Enggak mau juga kita kayak sekolah menengah tetangga yang perlente belajar dengan aktif dan menyenangkan tapi ujung-ujungnya setengah siswa gak lulus UN. Bukan karena mereka gak mampu kalo menurut kami semua orang juara di sana sini kok, tapi karena mereka gak biasa ngadepin soal yang kaku dengan jumlah yang banyak.

Biar anak anak terbiasa mengerjakan soal dari dinas.

Soal yang sama persis dengan yang dikerjakan oleh rekan-rekan mereka anak anak pinggiran. Dengan bahasa mereka, kisah kisah mereka, dan pandangan hidup mereka. Biar anak-anak saya juga terbiasa dengan ketidaksempurnaan. Hey, mustilah ngerasain juga capeknya mata karena berusaha membaca soal yang tercetak diatas kertas tipis rada transparan yang gak gitu putih dengan tulisan tipis kecil kecil kadang membayang. Harus ngerasain juga memicing-micingkan mata mencoba membaca gambar yang dicetak gelap gak jelas. Harus ngerasain juga salah salah cetak atau geramnya saat soal yang baru kita buka amplopnya ternyata kurang atau tertukar isinya. Itulah hidup, Nak. Gak sempurna. Kadang gak terduga dan kita harus ngerasain kesel jengkel dan ribet hanya untuk melakukan hal hal yang sederhana. Bagaimanapun, orangtuamu tidak akan selamanya selalu hadir untuk melindungimu dan memberikan kenyamanan untukmu.

Tapi anak-anak sih gak terlalu banyak protes juga mengenai keadaan yang seadanya. Namanya juga kita hidup di negara berkembang ya Bu, kata anak anak kelas enam.

‘Masih untung kita bisa ujian di kelas,’ kata Thata. ’Gimana coba kalo kita tinggal di Sidoarjo?’

Jadi terharu.

Protes atau kritik anak anak itu berkaitan dengan soal yang suka gak pas. Misalnya aja saat ulangan Kewarganegaraan anak-anak rada bersungut sungut dengan salah satu soal pilihan ganda.

Begini soalnya:

10. Organisasi di sekolah yang menyenangkan adalah….

a. pramuka       b. UKS            c. Koperasi      d. Paskibra

Anak-anak langsung tereak-tereak.

’Ibu, soal nomer sepuluh salah tempat. Harusnya itu di isilah titik-titik atau uraian dong. Bukan di pilihan ganda’

’Iya, gimana sih? Ini kan subjektif. Kita bisa aja beda-beda jawabnya. Beruntung nanti yang pendapatnya pas sama kunci jawaban.’

Saya menanggapi itu biasanya senyum senyum saja. Gak mau juga ngasih bonus kayak jaman kita sekolah dulu. Biar aja mereka yang musti mikir kalo ngadepin soal kayak gini. Coba, bisa gak mereka berpikir tidak selalu diri sendiri sebagai ukurannya tapi mencoba untuk menerka pendapat umum. Walaupun pada akhirnya sih masalah dibenerin atau tidak itu tergantung kebijakan gurunya kalo soal soal yang model begini. Maksudnya kami sih, gak mudah memberikan anak anak solusi duluan.

Lalu di kelas 4 juga protes dua soal. Masih Kewarganegaraan. Kali ini soalnya di isian singkat.

Soal: Meniru gaya berpakaian barat merupakan dampak ….. dari globalisasi.

Anak-anak:

’Ih, soalnya kok aneh gini. Bikin bingung aja. Emangnya pakaian barat itu semuanya negatif. Pakaian barat yang kaya gimana?’

‘Itu harusnya bukan soal, tapi pernyataan. Meniru pakaian barat itu merupakan dampak dari globalisasi. Udah. Titik titiknya hapus aja!’

’Iyaaa, itu bukan soal tapi pernyataan. Kita tinggal setuju atau enggak aja. Gitu harusnya.’

Gurunya:

Cengar cengir membiarkan anak anak berkeluh kesah dan mengungkapkan pendapatnya sebentar sebelum menyuruh tenang kembali.

Soal: Berkembangnya teknologi informasi adalah dampak….. dari globalisasi.

Anak-anak:

’Yaa, cape deh! Ini ada lagi soal yang aneh. Berkembangnya teknologi itu kan bukan dampak, tapi salah satu pemicu globalisasi.’

’Harsnya tuh soalnya gini, berkembangnya teknologi informasi akan berdampak positif dan negatif. Trus tanya kita deh positifnya apa negatifnya apa. Harusnya gitu.’

‘Iyaaa….’

Kebayang kan gimana guru disini bikin soal buat anak anak itu? Harus hati hati. Kalo gak, siap aja kritiknya banyak.



3 thoughts on “Kritik Soal

  1. siswanya kritis-kritis ya bu..,
    tapi bener tuh bu, guru harus extra hati-hati kalo mau buat soal..kadang kesalahan soal itu baru diketahui kalo udah diberikan ke siswa..
    salam kenal ya bu..

  2. Ping-balik: Kritik Soal II: Pembuat Soal Kurang Pengalaman | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s