Mendadak Guru IPA II: Stuck di IPS.

Di kisah Harry Potter ada mata pelajaran yang dianggap kutukan karena gurunya selalu ganti-ganti. Gak pernah bertahan lebih dari satu tahun. Padahal mata pelajaran itu merupakan mata pelajaran yang penting. Well, kita mulai kepikiran bahwa jangan-jangan posisi guru IPA di sekolah ini juga ada masalahnya.

*Haish*

Lagian bayangin aja, selama lima tahun saya bekerja di sekolah ini guru IPA-nya selalu ganti-ganti. Gak pernah bertahan. Paling lama itu Pak IPA yang anak Pertanian satu almamater kuliah dengan saya. Bertahan sampai hampir dua tahun lalu mengundurkan diri karena mendapat beasiswa ke LN. Setelah dia guru IPA itu Bu Kirsan yang ditarik jadi kepseknya skul cabang. Guru selanjutnya mengundurkan diri karena anaknya hilang.

Heh?

Iya, suatu hari dia mendapat telpon dari pengasuh anaknya kalau anaknya hilang. Langsung ngacirlah pulang. Beberapa hari kemudian dia kembali ke sekolah dan mengundurkan diri. Anaknya sudah ketemu, tapi kejadian itu nampaknya bikin dia agak trauma. Gak mau jauh dari rumah lagi. Paling enggak, sampai anak-anaknya cukup besar. Maka dia digantikanlah dengan seseorang yang mirip dengan Bu Kirsan yang kemudian alih profesi dari guru IPA sekarang jadi staf BPOM.

Yaelaaaaah!!

Pokoknya, ada-ada ajalah ceritanya guru IPA itu. Ada yang menikah kemudian harus ikut suaminya ke pulau lain, lah! Ngelanjutin sekolah. Lebih kepikiran sama proyek lain yang tadinya cuma jadi tambahan gak disangka berkembang pesat. Terakhir ini, guru IPA-nya sakit payah. Rasanya udah tinggal nyengir aja tiap tahun, guru IPA kita selalu ganti-ganti.

Dan selalu ada masa kekosongan guru IPA.

Siapa yang kena jatah ngisi kekosongan itu? Saya.

Bukannya saya seneng nambah-nambah pekerjaan, tapi ini dikarenakan jadwal saya kosong pas pelajaran IPA. Jadi, siapa lagi?

Sebenernya sih, rasanya pengen kabur aja kadang, hehe…

Jadi begini, pelajaran IPA itu kan termasuk salah satu dari 3 pelajaran UN. Nah, maka jadwalnya selalu dapet pagi. Maksudnya, saat anak gak kelelahan. Sementara pelajaran pelajaran saya kan bukan pelajaran UN, maka minggirlah ke siang. Jadilah tiap pagi hari saya jadi penunggu ruang guru karena kelas saya paling pagi mulainya jam setengah sebelas.

Karena kosong, jadilah mendadak guru IPA. Tapi karena udah selalu juga jadi pengganti guru IPA, maka udah gak gitu kesulitan lagi. Lagian, menurut saya jauh lebih gampang mengajar IPA kok daripada mengajar IPS, Bahasa Indonesia, dan PKN. Coba deh tanya sama anak-anak SD pelajaran mana yang mereka paling suka. Saya yakin sebagian besar jawabnya IPA atau SBK. Sementara IPS atau Bahasa Indonesia itu dianggap pelajaran paling ngebosenin, ya, kan? Pelajaran ngantuk.

Karena memang butuh muter otak untuk bikin orang gak bosen di Bahasa Indonesia atau IPS.

Misalnya saja kita ambil pelajaran kelas 5 semester dua ini. IPA ngomongin pesawat sederhana. Waduh, hepi bener itu. Bahkan gak usah mikir jauh-jauh. Kita tinggal bawa aja berbagai macam barang yang gak usah nyari kemana-mana (sekop, pancingan, kaka tua, gunting, pisau dll) minta anak-anak menggunakannya di kelas. Alat optic kita bisa bikin macem-mecem dari kamera kotak sabun sampai periskop sederhana. Mengenai tanah tambah seru karena kita bisa seharian di kebon melakukan pengamatan. Bandingkan dengan materi IPS yang membahas sidang-sidang BPUPKI dan PPKI. Baru baca sedikit itu aja jangan-jangan Anda udah nguap.

Mangkanya jangan heran karena justru saya semangat banget kalo udah jadwalnya IPA. Bahkan agak merasa sedih saat guru IPA baru datang, hihi.. Agak bingung juga di satu sisi hepi karena berkurang pekerjaan (siapa yang gak hepi?) di sisi lain sedih karena pada kenyataannya saya seneng kok mengajar dan belajar IPA. Saya merasakan kegembiraan dan keantusiasan yang sama dengan anak-anak. Jangan salah mengerti, yah! Saya hepi juga kok ngajar da belajar IPS, hanya menurut saya lebih mudah ngajar IPA aja.

Saya kira, anak-anak juga hepi-hepi aja dengan saya. Bahkan OTW bertanya-tanya kenapa gak guru IPA itu saya aja? Daripada ganti-ganti mulu tiap tahun. Bikin bingung aja.

Well, saya sih mau mau aja jadi guru IPA. Tapi masalahnya, siapa yang mau jadi guru IPS?

Guru-guru: Jadi guru IPS? Tidaaaaaaaaak!!!

Nah, itulah kenapa. Saya stuck di IPS.

One thought on “Mendadak Guru IPA II: Stuck di IPS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s