Anak Gak Pernah Salah

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah berita mengenai beberapa siswa SMK yang dikeluarkan gara-gara menulis status mengenai sekolahnya di FB. Saya gak akan membahas mengenai peristiwa itu karena saya tidak tahu banyak mengenainya. Hanya tertarik saja dengan komentar-komentar yang saya baca pada kolom komentar di bawah berita-berita kecil mengenai itu di media massa internet. Kebanyakan sewot mencaci maki sekolah. Kebanyakan pula menyatakan bahwa siswa SMK ini adalah anak-anak. Dan anak-anak itu adalah makhluk yang lugu polos tanpa dosa.

Itu membuat saya meringis.

Saya punya keyakinan kalau yang menulis komentar-komentar tersebut belum punya anak atau tidak berkecimpung di dunia anak-anak. Yep, mereka memang manusia-manusia pembelajar mengenai kehidupan, tapi untuk dikatakan polos, oh nanti dulu.

Saya pun ketika pertama kali memasuki dunia anak-anak menyangka bahwa mereka polos dan sama sekali tidak berbahaya. Sampai suatu kali saya dimarahi atasan saya karena dilaporkan telah melakukan tindakan kekerasan kepada salah satu siswa saya anak TK. Sementara yang saya lakukan adalah melarangnya untuk mengecat ngecat kukunya dengan cat air. Anak itu selalu kabur jika saatnya cuci tangan sebelum makan. Saya hanya khawatir cat ditangannya itu akan tertelan bersama makanan lalu terjadi sesuatu yang kita semua tidak inginkan. Jadi karena kata-kata gak mempan, saya ambil cat airnya dan saya simpan di lemari paling atas. Tapi anak itu mengadu kepada ayahnya bahwa dia dibentak-bentak lalu dilempar penghapusan papan tulis yang besar itu.

Hey, jangan main-mainlah dengan daya khayal anak-anak.

Kemudian saya dinasehati oleh salah satu OTW anak saya, yang memang sudah cukup tua berpengalaman, dan kemudian menjadi salah satu guru saya dalam hal mengasuh anak. Beliau memberi tahu saya mengenai bahwa anak-anak pun bisa berbohong dan jago memanipulasi orang. Itu pelajaran pertama saya. Berusaha untuk tidak dimanipulasi mereka. Dan karena saya sayang mereka, maka hal itu sungguh susah saya lakukan.

Okeh, sekarang coba Anda bayangkan pada kasus yang saya alami. Kalau sampai berpanjang-panjang maka siapa yang jelas-jelas disangka salah? Apakah saya si guru baru, perempuan berusia 22 tahun yang gak punya latar belakang pendidikan dan gak tau apa-apa soal anak, ataukah si anak kecil perempuan manis berusia 5 tahun? Omongan siapa yang akan dipercaya?

Anda jangan mengira kejadian itu hanya terjadi saat saya jadi guru baru saja. Dua bulan ini saja saya udah kena dua kali atas pengaduan yang tidak-tidak ini. Pertama kali karena salah satu anak kelas 6 mengata-ngatai salah satu rekan sekelasnya di status FB. Katanya gara-gara temennya itu suka ngata-ngatain via SMS. Tapi menulis di status FB itu kan sama dengan berteriak pake megaphone di kerumunan orang. Pembacanya bukan Cuma anak yang bersangkutan, keluarga si anak juga baca. Maka gak heran kan kalo ayah si anak yang dikatain itu datang ke sekolah. Sementara Bu Kelas Enam menghadapi OTW si anak yang dikatain, saya menasihati anak yang mengatai itu. Well, sebenernya lebih ke dialog karena si anak sewot menumpahkan semuanya kepada saya. Curhat. Saya memberitahunya bahwa itu kosekuensi kamu menulis seperti itu di sosial media.

Jangan merasa aman. Di sini, semua guru dan temen-temen kamu tau watak kamu seperti apa. Kalo marah meledak-ledak. Tapi kamu kan gak bermaksud seperti itu. Nanti juga selesai ya selesai. Tapi orang yang gak tau kamu gak akan paham. Itu kenapa ayahnya si A datang mencak-mencak disini. Paling enggak, sang ayah itu datangnya ke gurumu, marah-marahnya sama gurumu, bukan langsung ke kamu. Atau langsung datang ke rumahmu. Bisa berantem hebat nanti dengan ayahmu. Atau tidak melaporkan ke polisi. Pernah liat kan berita di TV? Kata-kata kamu lumayan parah, loh. Bisa bisa aja orangtuanya anak itu melaporkan ke polisi.

Lalu sang anak bicara-bicara. Masih kesel karena merasa kalau itu pertengkaran, bukan penganiayaan. Dia juga dikata-katain. Saya kira dengan membiarkannya bicara untuk beberapa saat itu cukup sebagai pelampiasan kekesalannya. Tapi saya salah. Mungkin waktunya kurang. Atau mungkin dengan memberikannya waktu bicara, justru saya memberikan waktu untuknya melakukan pembenaran atas apa yang dia lakukan yang meyakinkan dirinya sendiri. Karena di rumah sang anak ternyata tidak melaporkan kejadian itu dengan jujur kepada orangtuanya. Dia mengatakan bahwa saya dan Bu Guru Kelas Enam mencecarnya dan memarahinya. Itu anak SD. Memang sudah bukan anak kecil tapi ABG, tapi itu kan anak SD. Bagaimana dengan anak SMA?

Tapi itulah yang tertanam kuat pada benak kebanyakan dari kita: Kalau ada anak bikin salah, maka yang salah itu orangtuanya, gurunya, sekolahnya, sistem pendidikannya, lingkungannya, atau pemerintahnya. Sang anak gak pernah salah. Titik.

Maka kita tumbuh sebagai orang-orang yang selalu mudah menyalahkan orang lain.

Iklan

2 pemikiran pada “Anak Gak Pernah Salah

  1. turut prihatin Bu
    jangan kapok jadi guru yaa

    gak usah terlalu dipikirin banget banget deh
    eh gak bisa ya?
    kudu pake CCTV nih kayaknya….

  2. Wah betul banget tuh bu kalau anak-anak punya daya imajinasi yang bagus buat ngarang cerita. Apalagi anak usia dini. Kebetulan saya mengajar anak tk, dan kebanyakan anak tk jaman sekarang udah nggak polos. Lebih condong ke arah kritis. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s