Tentang Keluarga III: Mertua dan Menantu

Ada muka sendu di salah satu ruangan kelas dua. Anak perempuan. Indah. Dia adalah adik salah satu anak saya di kelas lima yang pernikahan ayah dan bundanya sedang diberi cobaan berat.

Saya kira ini bukan lagi menjadi kejutan. Bahkan saya mulai merasa terbiasa. Dulu Pak Kepala Sekolah pernah berkata bahwa sepertinya salah satu cerita yang biasa dihadapi oleh para walikelasnya anak-anak tanggung adalah mendampingi anak saat menghadapi krisis pernikahan orangtuanya. Gak lagi kayak para walikelas satu dan dua yang suka ribet karena OTW-nya terlalu bersemangat mendampingi anak-anaknya, anak –anak tanggung kebanyakan udah mulai dilepaskan. Karena orangtuanya mulai sibuk dengan sang adik atau karena sebab yang lain misalnya karir sang ayah pun sang bunda yang mulai bekerja kembali. Saat inilah pula pernikahan banyak yang sedang menghadapi cobaan.

Tahun kemarin saya kira paling bikin khawatir adalah saat salah satu anak laki-laki saya datang dengan memar-memar di lengan dan wajah yang saat ditanya hanya nyengir lebar dan berkata bahwa dia mendapatkan itu karena berusaha melindungi ibunya yang sedang digebukin oleh ayahnya. Tidak apa, katanya. Dia hanya khawatir ibunya digebukin lagi saat dia tidak ada. Saya sempat menanyakan kebenaran ceritanya kepada sang ibu. Bagaimanapun, anak didik saya sudah gede. Sudah bisa berkelahi atau ikutan tawuran. Ada kemungkinan pula dipalak atau digebukin orang. Pun bisa melakukan pelecehan atau pemerkosaan kalau menurut berita-berita di Koran. Ternyata sang ibu membenarkan seluruh ceritanya. Sang anak berlari dan menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng ketika sang ayah memukul dan menendang dengan penuh amarah secara bertubi-tubi.

Maka ketika salah seorang ibu anak saya memberi kabar bahwa dirinya akan absen sementara dari hidup anak-anaknya, itu bukan lagi menjadi kejutan. Hanya helaan nafas saja.

Habis mau bagaimana lagi?

Sang ibu pergi dari rumah yang lebih tepatnya diusir. Saya tidak begitu tahu bagaimana kisahnya hanya memang dulu sang ibu pernah curhat dengan Bu Eni, yang kebetulan dekat dengannya, mengenai hubungan yang kurang baik dengan mertuanya.

Mengenai kok bisa atau apakah pantes guru sekolah dicurhatin mengenai masalah rumah tangga? Well, saya sendiri sih merasa gak nyaman. Tapi itulah yang terjadi. Dan tidak mungkin pula kita tolak atau potong orang yang tau-tau bercerita atau berkeluh kesah bukan?

Apalagi kalau gurunya perempuan ketemu ibu-ibu, beuh!

Pokoknya, sang ibu diusir oleh mertuanya yang tinggal bersamanya. Dia terpaksa pergi begitu saja dengan hanya beberapa pakaian dan uang seadanya. Seakan adegan di salah satu kisah film Perempuan Punya Cerita saja.

Bagaimana dengan suami?

Sang suami ini bekerja di pulau lain yang hanya pulang dua bulan sekali. Namun setiap kali pulang, bukan kehangatan keluarga yang di dapatnya melainkan aduan dari orangtuanya bahwa istrinya melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Maka yang diingat anak-anak hanya bahwa kalau ayahnya pulang bawa oleh-oleh lalu bertengkar dengan ibunya kemudian ibunya di gampar.

Itu yang diceritakan sang adik yang kelas dua SD kepada saya.

Hal yang terjadi kemudian yang biasa yaitu nilai-nilai sekolah terjun bebas. Sang adik tidak lagi punya teman sebab tidak ada anak yang betah berteman dengan seorang anak yang bengong dan menangis terus setiap hari. Pernah suatu kali sang adik gak sekolah-sekolah sampai lewat dua minggu tanpa berita selain kabar bahwa dia diambil ibunya dan dibawa pergi. Kemudian dia kembali ke sekolah dengan lebih sedih lagi. Dia sering bercerita kalau dulu waktu ibunya masih di rumah ini dan itu. Tidak seperti sekarang saat dia selalu sendiri dan kakaknya gak pernah berhenti main PS.

Gak ada lagi yang mengasuh mereka. Hanya menjalani hidup dari hari ke hari. Makan musti cari sendiri (yang artinya beli) dan siapa pula yang peduli bahwa mereka menjalankan shalat atau tidak, belajar atau tidak bahkan pergi ke sekolah atau tidak.

Kacau balau semuanya.

Saya sempat bertanya-tanya saat pengambilan rapot tempo hari apakah ada orang yang datang mengambil rapot anak-anak ini?

Ternyata sang nenek datang, yang kemudian mengeluh panjang lebar.

‘Saya itu sudah tua, Bu Guru. Saya sudah membesarkan putera saya. Masa saya harus membesarnya anaknya juga?’

3 thoughts on “Tentang Keluarga III: Mertua dan Menantu

  1. kalau memutuskan akan memiliki anak, otomatis harus mengendurkan ego dong..jangan mikirin diri sendiri ajah..dan kalau bisa jangan serumah ama mertua😛

    deuh.. jadi tambah ciut untuk menikah
    Bu Al siiiiihhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s