Mungkin Itu Kita

Melakukan apapun di kelas saya seorang guru itu harus siap berdebat dulu. Harus siap anak-anak akan menolak mentah-mentah dan berargumen mati-matian agar mereka bisa santai-santai aja dan gak usah melakukan hal-hal yang berat. Yep, rada menjengkelkan memang. Tapi begitulah kenyataannya.

Anak-anak yang sableng!

Padahal sesungguhnya mereka bukan anak-anak yang malas, hanya cerewet dan senang aja bikin guru marah. Kayaknya itu mereka hepiiii banget kalo guru yang ngajar tau-tau sewot dan ngamuk apalagi menghukum.

Beneran.

Apapun hukumannya mereka akan bersorak ramai-ramai dengan girang hepi-hepi begitu. Girang pula nyeritainnya ke saya.

*sigh*

Yaaa, emang sih hukuman yang dikasih guru-guru disini kan gak macem-macem juga, ya..

Tapi kenyataannya.

Biarpun ketika diberi tahu akan ada kelas tambahan matematika dan ipa setiap hari sabtu beberapa minggu yang lalu semuanya kompak menolak dan ngajak berdebat mati-matian, kenyataannya toh hampir semua anak hadir. Kelas tambahan ini gak diwajibkan dan gak kami berikan pemberitahuan secara resmi dari sekolah yang berarti mereka sebenernya bisa-bisa aja gak ngasih tau ortu dan terlepas dari segala paksaan dan suruhan. Sukarela. Baik anak maupun gurunya. Tapi anak-anak selalu datang dan datang.

Bikin rekan-rekan saya heran juga. Anak-anak itu ternyata peduli juga, ya..

Emang, kata Bu Lynn. Tau-tau dia berkisah bahwa beberapa saat yang lalu, saat saya sibuk telentang dan gak masuk-masuk sekolah, ada hari ketika anak-anak saya pada sibuk sendiri di kelas belajar matematika. Dan itu jam istirahat. Kontan Bu Lynn yang sedang lewat dan menyaksikan itu jadi berkomentar aka ngeledek.

‘Subhanallah, rajin banget anak-anak ini. Pas istirahat bukannya main malah belajar matematika. Atau pada belom ngerjain PR ya?’

Anak-anak jawab kalau nanti akan ada ulangan. Udahlah Bu Lynn gak usah gangguin, katanya.

Oooh, Pak Matematika gak masuk. Dan kayaknya ulangannya ditunda, tuh. Gak ada pesan-pesan atau soal. Nanti Bu IPA yang gantiin ngisi matematika di sini.

Maka serulah anak-anak terbengong-bengong sambil komentar.

‘Perasaan kita sial melulu, ya? Gurunya absen melulu.’

‘Iya.. Dulu waktu kelas 3 Bu Lynn melahirkan cuti 3 bulan. Trus pas kelas 4 juga Bu Kelas 4 melahirkan cuti 3 bulan. Sekarang Bu Alifia sakit-sakitan banyak gak masuk terus cuti juga.’

‘Kadang-kadang ada kelas yang kena sial melulu. Jangan-jangan itu kita.’

Bu Lynn-nya gak komentar karena bingung dan sedih euy..

NB: kalo guru cuti memang ada guru pengganti, tapi bagi anak-anak usia SD itu tetep beda dengan walikelas. Jadi kalo walikelasnya cuti, walaupun ada guru lain yang mengambil alih tugasnya, tetep aja berasa ditinggalin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s