Artinya Sayang

Saya gak gitu ngeh darimana istilah seperti yang akan saya utarakan ini berasal. Begini ada beberapa orang yang menghadapinya kita itu seakan ingin meraih sesuatu tapi tangan kita masuk dahulu ke sarung tangan tebal dan kaku. Kita berusaha keras menggenggamnya, tapi gak kunjung berhasil. Dan kita gak pernah yakin.

Pendeknya geregetan.

Bu Lynn sudah berkali-kali curhat tentang satu orang anak. Anak baru tahun ini yang sejak awal sudah jelas kelihatan ada masalah yaitu tertinggal jauh dibandingkan teman-temannya. Kelas enam dengan beban ujian nasional begini tentu itu suatu resiko jika kita meluluskan anak masuk ke sekolah jika memang masih tertinggal. Tapi, kan, mulai tahun ini seleksi siswa baru bukan lagi dilakukan oleh sekolah melainkan dari yayasan. Jadi kita hanya tinggal terima dan nikmati aja kalau memang ada anak yang diluluskan yayasan sementara itu anak tertinggal jauh dan nampaknya sih sebetulnya gak naik kelas di sekolah yang dahulu tapi entah karena apa, paksaan atau uang mungkin, jadinya naik kelas tapi musti pindah sekolah.

Eniwey, ini anak pendiem sekali. Hampir gak pernah bicara gak pernah ribut tau-tau nilainya gak beranjak dari 2 dan 3. Itu juga kayaknya beruntung aja atau upah nulis doang. Ditambah jaraaaang banget masuk sekolah. Bu Lynn itu udah nyaris kehabisan akal untuk menghadapinya. Dinasehatin juga kayaknya mental aja gak sama sekali masuk. Lalu gak masuk sekolah. Pas ulangan umum pun gak masuk beberapa hari dengan alas an capek habis jalan-jalan ke Bali.

Kata Bu Lynn, ini yang musti gua gampar anaknya atau orangtuanya, nih?

Cuma becanda, ya…

Soalnya ngadepin orangtuanya pun sama aja.

Memang rada susah karena orangtuanya sudah berpisah dan nampaknya itulah masalahnya. Masing-masing seakan berebut anak. Lupakan disiplin! Dua-dua pihak mencari jalan kepada anaknya dengan kesenangan. Jadi kalau salah satu berusaha tegas, misalnya ketika anaknya males sekolah dan salah satunya mencoba bersikap tegas, yang satunya malah memberi jalan. Males sekolah gak dapen izin dari ibu tinggal telpon ayah yang langsung telpon sekolah atau sebaliknya.

Bu Lynn mencoba berbagai macam cara untuk tidak memberi izin dan bahkan tidak jarang mengatakan TIDAK BOLEH. Bagaimanapun masuk. Gak apa-apa terlambat, gak apa-apa sedikit pusing  yang penting MASUK! Toh anak-anak biasa berada di sekolah sedangkan mereka batuk dan pilek bahkan terkadang demam. Biasanya sih salah satu orangtua itu akan mengatakan ‘iya’ tapi anaknya gak kunjung tiba di sekolah.

Bagi kami kan jadi nampaknya itu orangtuanya kok gak sayang sama anaknya. Dibiarkan saja semaunya sendiri. Mendapatkan pendidikan, bukan secara sempit di sekolah tapi juga didikan hidup, itu kan haknya dia.

Entahlah mungkin kami-kami ini masih produk lama yang musti sakit payah baru boleh gak masuk oleh orangtua. Produk jadul yang kalau nilai jelek atau males belajar dimarahin lalu dikurung di rumah gak boleh nonton TV.

Ingat seorang anak saya yang seakan kembaran anaknya Bu Lynn barusan? Bukan fisik tapi prilaku. Orangtuanya pun berpisah, tapi hanya karena jarak saja. Mereka bekerja di kota yang berbeda. Mirip sekali dengan masalah yang hampir sama hanya bedanya, saya bahkan gak pernah bisa menghubungi sang orangtua. Bahkan rapot pun diambil oleh mbaknya. Tentu kita jadi bingung kalau membicarakan perkembangan anak dengan sang mbak. Bukan maksud saya si mbak gak akan mengerti, justru sebaliknya, kebanyakan dari mereka mengerti sekali. Tapi hanya beberapa dari mereka yang laporannya didengarkan oleh orangtua. Ya bayangkan saja, kalau untuk ngambil rapot yang notabene dua kali setaun aja musti sama mbak berarti orangtuanya super duper sibuk atau emang gak perhatian, kan?

Tentu gak semua. Terkadang situasi saat itu yang mengharuskan.

Tanpa diduga beberapa hari yang lalu sang ibu datang ke sekolah yang ternyata gara-gara dibohongin sang mbak yang bilang kalau beliau gak datang menemui saya, anaknya akan saya keluarkan. Mbaknya cerita kemudiannya. Beliau masih sibuk dengan HP-nya yang rasanya gak enak juga ya kalau kita bicara serius sama orang yang dikit-dikit ditelfon yang kayaknya sibuuuuk banget.

Tau gini saya gak usah matiin aja HP saya biar kalau si ibu ditelpon, saya nelpon juga hehe.. Samaan…

Sang ibu berkisahlah tentang gurunya sang anak sebelumnya yang perhatiaaaan banget, gak seperti saya, berkali-kali diulang bahwa gurunya yang dulu gak seperti saya, yang nampaknya berhasil mendidik anaknya sampai nilai-nilainya bagus semua.

Mau bawa anaknya ke psikolog katanya. Ingin tahu apakah ada masalah.

Saya menyambut baik. Bagi saya, perubahan berarti akhirnya beliau rada care sama anaknya. Dan jelas-jelas guru BK disini yaitu Bu Eni orangnya gak jelas dan gak bisa diharapkan.

*dijitak Eni*

*kalimat terakhir sebelum dijitak Eni itu becanda*

Saya serius menyambut baik. Senang. Bikin ngeganjel adalah observasinya cuma satu hari dan itupun hanya sekitar satu jam atau lebih sedikit dan kesimpulannya tanpa laporan resmi melainkan verbal aja dari sang ibu.

Bahwa anaknya perasa sekali. Kalau ngeliat ada anak lain yang lebih bagus, dia akan down.

Waduh, susah juga. Ada duapuluh lima anak lain di kelas dan semuanya mendapat nilai lebih baik dari dia termasuk siswa berkebutuhan khusus saya.

Jangan dihukum atau dipaksa-paksa lebih baik kesadaran sendiri dia saja. Saya gak boleh memarahi dia karena akan membuatnya…down lagi.

Wah gawat! Dihukum saya enggak itu anak bisa diamuk massa. Apa yang saya katakan kepada 25 anak saya yang lain? Bahwa kita punya satu lagi siswa berkebutuhan khusus?

Yaaah, mungkin saya hanya udah capeeeek banget nyaris setahun ini nyemangatin tu anak terus. Walaupun sampai saat ini toh saya memang masih nyemangatin terus juga.

Maka saya katakan saja pada sang ibu:

  1. Boleh saya ikut baca laporan dari psikolognya? Mungkin lebih enak bagi saya kalau baca langsung laporan dari beliau.
  2. Saya kira Ibu harus mempertimbangan home schooling. Sebab sangat susah jadinya kalau ananda tetap di sekolah umum sedangkan dia tidak dapat melihat orang lain lebih maju daripadanya. Biasanya anak lain akan menganggap itu sebagai motivasi soalnya.
  3. Tapi bagaimanapun, kalau dua nilai ananda berada di bawah KKM pada akhir nanti, saya jelas tidak akan menaikan ananda ke kelas yang selanjutnya. Karena dari segi absensi dan disiplin pun tidak menolong sama sekali.

Sang ibu diam lama sekali lalu berkata dengan kelihatan sekali berusaha mengendalikan dirinya:

‘Kalau memang ternyata musti gak naik kelas, saya mengerti. Ternyata memang semakin lama semakin sulit. Dulu guru kelas 3 nya bilang begitu tapi saya gak pedulikan. Kasihan anak saya kalau tiap tahun begini terus. Pindah sekolah terus.’

Matanya berkaca-kaca.

Dan pada saat itu saya tahu, bahwa kami mulai saling mengerti.

Saya masih belum menyerah walaupun waktu tinggal sedikit lagi. Belum. Asalkan ibu juga tidak menyerah.

2 thoughts on “Artinya Sayang

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://entrydatagroup.blogspot.com/

  2. Saya ngebayangin Bu Al, sesudah berhadapan dengan murid n otw model gini
    Pas pulang dari sekolah pasti makan dua mangkok bakso, satu piring nasi putih, satu gelas es teh, satu porsi roti bakar😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s