Ada untuk Mereka

Ini bulan-bulan badai. Sesak dengan kegiatan. Yah, biasanya juga begitu setiap tahunnya. Mulai pertengahan semester genap sampai beberapa hari selepas kenaikan kelas gak akan bisa bergerak. Diawali dengan UAS dan UN kakak-kakak kelas 6 kemudian persiapan dan ulangan kenaikan tingkat pelajaran-pelajaran agama, seleksi dan latihan-latihan dan persiapan untuk pentas akhir tahun, ulangan umum, kenaikan kelas yang bikin tepar guru-guru itu (karena acara ambil rapot bareng dengan pentas SD dan TK), study tour dan kemudian diakhiri dengan rapat perencanaan kegiatan, penetapan kalender akademik, dan penyelesaian administrasi untuk tahun depan.

Baru kita agak lega!

Kecuali panitia seleksi guru baru, yau!

Damn! Kalo gini kapan liburannya?

Yaaaa, sebenernya nyaris gak ada!

Sungguh tidak sesuai dengan impian masa lalu yang kata emak-emak kita itu. Perempuan mah jadi guru aja. Gak apa-apa upahnya dikit toh yang penting kan biar gak suntuk aja. Banyak liburnya. Kerjanya sebentar. Jadi suami sama anak masih bisa kepegang.

Ternyata, panjang kerjanya sama aja yaaa….

Jadi cerita bener tuh kalo ada guru yang sedih karena sibuk seharian ngurusin anak orang lain sementara anak sendiri gak kepikiran. Kejadian sehari-hari. Kita berangkat begitu pagi sampai di sekolah jam setengah tujuh pagi menyapa anak-anak sedangkan anak sendiri gak sempet di sapa boro-boro dianter ke sekolah. Bahkan beberapa anak saya yang ibunya guru gak pernah saya lihat ibunya karena ngambil rapot selalu oleh ayahnya atau tantenya. Tuntutan. Tututan di Negara kita ini sekolah masuk sangat pagi, bahkan masih juga kepikiran untuk dipagiin lagi dengan alas an lebih segar lebih enak buat belajar, dan tuntutan orangtuanya anak-anak juga yang beralasan bahwa kayaknya lebih enak kalo begitu anaknya nungul disambut gurunya di gerbang sekolah.

Maka tahun ini kita kehilangan beberapa guru karena lebih memilih keluarganya. Lebih memilih ada untuk anaknya yang saya amini. Saya juga akan melakukan itu jika sudah saatnya.

Ditambah dengan guru yang sakit-sakit itu (termasuk saya) yang ribetnya pada cutinya pas semester genap sudah berjalan. Guru yang sakit-sakit itu adalah guru-guru kelas atas. Maka kalau begini keadaannya kelas bawah relative aman kelas atas kacau balau yang khususnya kelas 4 dan 5. Karena guru yang ada dialokasikan (dialokasikan?) di kelas 6 dulu yang sedang sangat membutuhkan.

Saya kira, berdasarkan kisah-kisah dari rekan-rekan, tambah bikin ribet adalah orang-orang yayasan, yang tahun ini kebanyakan orang baru itu, ceritanya pengen ikutan terlibat tapi gak pada tempatnya. Tentu akhirnya ngegerecokin dan bikin tambah banyak kerjaan aja. Ditambah para tukang ngadepin yayasan di sekolah pun cuti, maka guru-guru cuma bisa ho-oh dan gak ada yang berani bersuara. Hasilnya? Well, guru kelas 6-nya udah curhat-curhat pengen mengundurkan diri ajalah dari guru kelas enam. Mendingan gak usah jadi walikelas sekalian. Lieur! Jadi guru bidang study aja yang notabene lebih dikit tanggungjawabnya dan urusannya. Kalo urusan anak-anak sih gak masalah karena emang itu kerjaannya, ya, kan?

Yah, paling enggak itulah yang dikatakannya berulang-ulang untuk saat ini.

Satu hal kecil yang terjadi pada masa US (Ujian Sekolah) adalah saat anak-anak kelas 1 sampai dengan kelas 5 dipulangkan di tengah hari secara mendadak. Astaga! Pas diceritain aja saya sempet melongo.

Awalnya sih karena perencanaan kita tau-tau dirubah oleh yayasan yang kepikiran hey, kan yang ujian anak-anak kelas 6 yang cuma satu kelas itu. Sedangkan ruang kelas kita masih banyak. Buat apa anak-anak yang lain libur? Udahlah masuk aja. Gak usah ikut-ikutan sekolah-sekolah lain yang meliburkan anak-anak segala.

Maka sudahlah diberikan pengumuman kalau belajar seperti biasa.

Tapi masalahnya, jumlah ruangan emang masih banyak tapi jumlah guru kan emang pas atau bahkan sebetulnya kurang. Dengan tetap berlangsungnya kegiatan belajar seperti biasa otomatis guru yang ada kelas sekaligus panitia atau pengawas ujian kebingungan. Membelah diri jelas gak bisa, ninggalin kelasnya juga enggak enak dan perasaan juga itu tugas dan kewajiban. Ditambah guru yang gak ada kelas pun harus gantiin guru yang cuti. Pun siapa yang musti nongkrong menemani pengawas dari dinas setempat kalau memantau?

Kebingungan.

Maka diadakan rapat kilat mendadak pada paginya yang berakhir siapa yang tugas mengawas anak-anak ujian gak singkron dengan keahliannya. Misalnya guru Bahasa Sunda mengawas ujian sekolah Pendidikan Kewarganegaraan dan IPA. Bagi sekolah dengan system guru per mata pelajaran gini rada ribet. Biarpun sesungguhnya guru-guru itu tau (ya kan udah lulus SD semua toh?) tapi kalau guru Bahasa Sunda tau-tau ditanya tentang soal IPA yang gak dimengerti anak-anak dia rada gagap juga karena selama ini urusannya Bahasa Sunda. Itu masih pelajaran umum, trus gimana kabarnya itu guru SBK (Seni Budaya dan Keterampilan) yang musti ngawas Bahasa Arab?

Entahlah! Yang penting terisi dulu pos-posnya!

Hal yang bikin miris lagi karena bagaimanapun di sekolah itu gak mungkin tenang apalagi saat istirahat. Mana bisa kita bikin anak-anak gak tereak-tereak lari-larian sana ke sini. Menghimbau bisa. Marah bisa. Tapi anak-anak itu bukan robot yang ada tombol on off pecicilan atau enggaknya. Maka jadilah saat jam istirahat sementara kakak-kakak kelas 6 masih di dalam kelas jadi ikutan ketularan ribut diluar.

Alhamdulillahnya pas banget orang yayasan nungul. Langsung marah besar ke guru-guru yang kebanyakan lagi ngawasin anak-anak bermain.

Kok anak-anak yang ujian malah ribut di dalam kelas?

Kok yang ngawas gak nyambung amat pelajarannya?

Kagak beres banget da ah ini ujian kayak maen-maenan aja!

Katanya sih guru-guru cuma diem aja. Habis dimarahin gitu. Tapi untungnya pas banget Pak Kepala Sekolah yang lagi cuti karena sakit juga pas nongol di sekolah karena pengen nengokin anak-anak yang lagi pada ujian. Maka beliaulah yang ngadepin yayasan.

Buka masalah ada atau enggaknya kelas atau bahkan jumlah guru, tapi lebih ke psiikologis anak-anak kelas enamnya. Mereka sedang menghadapi moment paling penting sepanjang 6 tahun belajar disini. Merekalah yang akan membawa beban nama sekolah. Mbok ya paling enggak kita harus bisa meyakinkan mereka kalau mereka didampingi. Kalau guru-gurunya itu ada untuk mereka. Semua guru datang ke sekolah hari ini, saat mereka ujian, khusus untuk mereka. Bukan untuk yang lain. Untuk mereka.

Hari itu anak-anak kelas 1-5 pulang dengan surat libur yang mendadak.

One thought on “Ada untuk Mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s