Guling Celaka

Apa ada yang tahu botol pembawa malapetaka di film The God Must Be Crazy? Itu loh botol coca cola kosong yang dilempar seseorang dari pesawat terbang yang melintas dan jatuh di tengah-tengah suku Bushman yang terpencil. Itu benda yang sebenernya biasa saja pada akhirnya jadi sumber malapetaka.

Well, di sekolah ada juga tuh benda yang selama ada di sekolahnya udah bikin yang megang meringis kesakitan yaitu guling.

Guling kecil.

Punya saya.

Guling kecil yang empuk ini emang saya bawa kemana-mana sejak lepas operasi sampai beberapa saat kemudian yang fungsinya nahan dada kalau batuk, ketawa atau bersin. Maksudnya biar mengurangi rasa sakit di tulang dada, yang waktu kejadiannya dipotong, saat musti terguncang-guncang. Batuk-batuk itu pasti akan saya alami kalau kata Bapak Fisioterapisnya. Sebab selepas operasi nanti akan banyak lendir di saluran pernafasan. Jadi batuk ini gara-gara lendir-lendir ini mau keluar. Dan akan muntah-muntah juga lagian.

Untuk ketawa, mah, emang hobi saya, lah, ya…

Yaudahlah maka saya pun merasa seperti balita, atau punya balita, yang kemana-mana ngebawa guling.

Walaupun kenyataannya sih gak gitu ngaruh juga. Lah, kita kan kalau batuk atau bersin ya bersin aja. Rada gak mungkin siap-siap sebelumnya. Itu mendadak. Pun gak mungkin juga ketawa bisa ditunda dulu beberapa detik karena musti ambil guling.

Eniwey, ini guling juga saya bawa ke sekolah pada hari pertama saya kembali ke sekolah. Dan enggak terpakai oleh saya akhirnya. Karena itu guling sudah menghilang.

Dibawa anak-anak kelas satu.

Minjem, Bu… Gambarnya lucuuuu….

Tau-tau saya lupalah saya sampai Bu Firda nungul di ruangan saya.

‘Bu Alifia, ini bantal gulingnya Ibu? Bikin kerusuhan tuh di kelas saya. Anak-anak rebutan.Tarik-tarikan.Akhirnya jadi pada kejedot. Nangis rame-rame di kelas.’

Oooo….

Saya lemparlah itu guling keatas salah satu bangku di depan meja saya dan gak kepikiran lagi sampai salah seorang walimurid yang datang menemui saya jatuh merosot saat duduk di bangku yang ada gulingnya itu.

GABRUK!

Saya melongo.

Sebenernya mau ketawa tapi gak enak.

‘Kok bisa ada bantal sih disini?’ sewot sang OTW.

Saya pun cuma bisa nyengir aja dan minta maaf.

Kejadian orang merosot jatuh itu pake terulang lagi beberapa jam kemudian di ruang guru. Kali ini Pak Kelas Empat yang kena sialnya. Mana pake kesiram kopi segala. Adegannya lucu sekali bikin kita semua ketawa. Dan karena Pak Kelas Empat orangnya nyante-nyante aja maka alih-alih sewot beneran, dia tambahin becanda dengan melempar itu guling sejauh-jauhnya.

‘Dasar guling pembawa sial!’ katanya.

Melayang itu guling ke lantai dan, saya juga kalau gak mengalaminya gak akan percaya, langsung jatuh tepat di belakang salah satu Om OB yang lagi ngangkat ember berisi air AC yang akan dibuang ke halaman.

Jatuhlah si Om OB karena oleng saat salah satu kakinya menginjak itu guling. Airnya seember tumpah dan sebagiannya menyiram seluruh badannya.

Kita para guru yang sedang ngumpul di ruang guru dan menyaksikan kejadian itu dengan kompaknya berseloroh:

Ya Allah!!

Bu Eni kemudian mengambil guling tersebut dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Biar aman, katanya. Besok gak usah dibawa ke sekolah lagi!

Yadaaaaah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s