Bencong Pemberani

Kisah kecil ini terjadi dua minggu yang lalu pada saat pelaksanaan UN untuk SD. Tapi bukan di sekolah melainkan di lingkungan kediaman saya dan Eni.

Well, seperti yang sebelumnya saya kisahkan bahwa setiap selepas maghrib, saya dan beberapa kawan mengajar les kecil-kecilan di lingkungan rumah. Nah, sepanjang UN berlangsung les ini liburan dulu dan digantikan dengan bimbingan untuk adek-adek yang akan menjalani UN saja. Gak banyak, hanya tiga orang di lingkungan kami ini. Gurunya juga tiga: Saya, Eni, dan Pak-Dokter-Gemulai.

Pak-Dokter-Gemulai emang ikutan ngajar juga sudah sejak beberapa saat yang lalu. Mengajukan diri pada suatu hari dengan alasan:

Gua boseeeeen! Di tempat yang baru itu (rumahnya yg baru di komplek sebelah) sepiii.. Gak ada temen. Udah aja gua kerjaannya puskesmas, rumah, bengong, klinik, puskesmas lagi…

Tiap nungul itu dan itu aja yang dikeluhkan. Tentu lengkap dengan tangannya yang melambai-lambai itu yang masih saja bikin kita berdua terkesima.

Kemudian…

Gua ikutan ngajar, doooong….

Maka kami sepakat membiarkan saja itu orang ikutan dengan syarat mau ngajarin kita masak dan kalo datang bawa makanan, kehkehkeh…

Bimbingan ini sih bukan sebenernya bimbingan juga. Hanya pembahasan soal-soal UN tahun-tahun kemarin saja. Tapi karena emang orangnya dikit, rasanya jadi kayak pribadi banget, ya…

Saya dapet Bahasa Indonesia yang adalah hari pertama. Jadi selanjutnya santai, hehe… Lagian juga cepet selesai.

Eni memegang Matematika yang ternyata oh ternyata, lamaaaaaaaa banget. Dari maghrib sampai jam 10.30 malem. Astaga! Begitu selesai langsung teler orangnya.

Pak-Dokter-Gemulai membahas soal-soal IPA yang jalannya bikin anak-anak sewot. Lagian orang yang membahasnya lari gitu. Kecepetan! Anak-anaknya jadi bingung.

Pada malam terakhir ini ada kisah kecil tentang keributan di rumah tetangga. Saya yang sedang nongkrong sambil baca buku di halaman belakang kontan lari masuk ke rumah karena mendengar jeritan histeris seorang perempuan.

‘Setaaaaaannn….’

Hah? Setan?

Siapa yang gak kabur?

Eni yang lagi ngegoreng tempe lari keluar bawa-bawa sudit cuma untuk balik lagi ke dalam rumah. Tetangga kami para cowok nerd itu nongol melongo-longo.

Ibu tetangga yang biasanya duduk di beranda dan ngeliatin kita itu keluar rumah. Histeris. Nangis sambil ngejerit-jerit. Lariii…..

Suaminya berdiri di depan pintu sambil megang ulekan (ya, ya, kemudiannya kalau diingat emang bikin geli) marah-marah. Ngancung-ngancungin itu ulekan.

‘Balik lagi ke sini gua gamparin, lo!’

Sebenernya dia bicara itu dengan bahasa sunda.

Saya dan Eni terpaku bingung mau ngapain dan begitu juga cowok-cowok nerd itu. Satu-satunya yang lari keluar adalah Pak-Dokter-Gemulai yang tau-tau udah ada di sebelah ibu tetangga. Kayaknya menenangkan. Trus berusaha melerai.

‘Heh, bencong! Gak usah ikut campur, ya!’

Tapi beberapa menit kemudian bisa juga itu bapak kembali tenang, melepaskan ulekannya. Mereka kemudian bicara-bicara.

Saya kembali ke ruang belajar untuk menenangkan anak-anak dan mengambil alih. Eni, yaa, nerusin masak. Salah satu cowok nerd nyamperin dan tanya-tanya.

‘Itu bencong ngapain?’

‘Yang pasti lebih berani dari lo.’ Kata salah satu anak les kami.

6 thoughts on “Bencong Pemberani

    • Hihi… Iya.
      BTW, ini orangnya bangga, loh, baca komentar dari Mamaray. Minta dipake buat namanya di blog ini. Bukan Dokter Demulai lagi tapi Dokter Rambo…(yang gemulai saya tambahin).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s