Adegan Inspiratif dari Guru di Film dan Buku II: Temple Grandin, In Front of Class, dan The Spiral Staircase

Tadi liat judulnya agak bingung juga. Apakah inspiratif itu kata yang tepat. Lebih enak menyentuh, kah? Ah, sudahlah!!

Temple Grandin adalah sebuah biopic (film biografi) yang menceritakan tentang seorang penderita autis yang tidak hanya kemudiannya berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu hewan dan sarjana dalam bidang psikologi, namun juga dikenal sebagai seseorang yang banyak memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya di sela-sela kesibukannya sebagai dosen. Front of Class juga merupakan biopic-nya Brad Cohen yang seorang penyandang Tourette Syndrom yang kemudian berhasil menjadi guru sekolah dasar. Sementara The Spiral Staircase adalah autobiografi Karen Armstrong yang menderita epilepsy meraih gelar sarjana dan pasca sarjana dalam bidang filsafat, kemudian menjadi guru di sekolah menengah dan dosen di almamaternya yaitu Universitas Oxford. Jadi  tiga kisah ini punya rasa yang sama. Sama-sama diangkat dari kisah nyata pun orangnya masih hidup dan masih berkarya secara nyata maupun tulisan. Sama-sama berhasil melampaui kesulitannya masing-masing kemudian memilih karir sebagai pengajar. Sebuah profesi yang mengharuskannya bertemu dengan banyak orang. Hal yang paling berat bagi mereka.

Temple Grandin yang asli

Pada film Temple Grandin sebenernya adegan yang menyentuh itu hampir semua. Kisahnya mengalir dengan tanpa bertele-tele namun apa yang ingin disampaikan itu dapat dikomunikasikan dengan baik. Beliau tidak seperti penyandang autis pada jaman sekarang yang bisa menikmati hidup yang lebih ramah. Pada masa Temple Grandin, seorang penyandang autis biasanya dikunci di sebuah intitusi. Autisme dianggap bagian dari Schizophrenia. Tidak dapat disembuhkan (kalo yang ini memang sampai sekarang belum dapat disembuhkan). Si penyandang tidak akan dapat berkembang. Dan itu semua semata-mata dianggap karena kesalahan sang ibu yang disinyalir pernah menolak sang anak pada saat-saat paling krusialnya.

Sang ibu yang jebolan Universitas Harvard itu tentu saja menolak dengan berurai air mata (yah, namanya juga cewek). Alih-alih setuju memasukan anaknya yang saat itu baru berusia 4 tahun ke institusi, dia bertekad untuk mendidiknya. Target pertamanya adalah sang anak bisa ngomong. Itu dulu. Karena sang psikiater sudah menyatakan bahwa Temple gak akan bisa bicara sampai akhir hayatnya. Dan begitu Temple bisa bicara, dia masukkan ke sekolah umum. Naik dan turun tentu saja. Penuh air mata dan hysteria. Tapi dia maju terus. Dengan berbagai macam cara dia paksa Temple untuk terus melanjutkan pendidikannya bahkan ke universitas yang pada saat itu masih hal yang mewah bagi seorang anak perempuan.

Senada dengan Temple Grandin, Karen Armstrong dan Brad Cohen pun mengalami kesulitan yang serupa namun tak sama. Mereka tidak diakui memiliki kesulitan. Bagi Karen, walaupun dia sudah berada di tahap yang depresip dan sampai dua kali mencoba bunuh diri pun hanya dianggap hysteria karena merasa tidak mampu menghadapi dunia perkuliahan yang berat di Universitas Oxford saja. Dia sampai tidak tahu mau bagaimana lagi untuk member itahu orang lain dan khususnya sang

Karen Armstrong

psikiater yang keukeuh sureukeuh itu bahwa ada masalah pada dirinya yang dia tidak kunjung mendapatkan bantuan. Dia bahkan secara sukarela masuk institusi mental, namun keadaannya justru memburuk di sana. Ironis padahal sesungguhnya beliau hanya butuh obat-obatan yang memadai saja seandainya sang psikiater mau untuk mengirimnya ke dokter.

Geregetan gak sih?

Iya geregetan sama psikiaternya geregetan juga sama Karen Armstrongnya.

Rasanya pengen ikutan nimbrung dan geret si Karen ke rumah sakit. Bosen kebanyakan ngomong kebanyakan histeris!

Mendapatkan second opinion itu hak elo, tau, Karen!

Sementara itu Brad tidak separah dan sedramatis Karen Armstrong. Walaupun juga dikatakan hanya caper karena kehilangan ayah menurut psikolog yang menanganinya. Ia hanya digambarkan sering terluka saat orang-orang memarahi dan meledeknya atas kekurangannya.

Brad Cohen, tidak seperti dua rekannya ini. Dia memiliki kepribadian yang lebih positif dan nampaknya juga tidak memasukkan ke hati apapun. Ini yang kemudian banyak membantunya. Di sekolah maupun di rumah dia banyak kena marah, omelan ataupun ejekan. Ini karena dia sering mengeluarkan suara-suara seperti menyalak dari mulutnya. Semua orang pada awalnya menyangka dia hanya cari perhatian saja. Apalagi bahwa orangtuanya memang baru saja berpisah. Maka tak jarang dia kena marah atau hukuman dari guru. Apalagi ditambah dengan prilaku hiperaktifnya itu membuat dia butuh dua kali lebih lama untuk mengerjakan sesuatu dibanding anak-anak lain. Dan sekali lagi, sang ibu yang pantang menyerah

mengirim Brad dari psikolog yang satu ke psikolog yang lain dan terus mencari penjelasan sebetulnya apa yang terjadi dengan putera sulungnya yang kemudian membuat Brad dapat terus maju dalam hidupnya.

Brad Cohan yang asli

Membuat Brad terinspirasi menjadi seorang guru adalah kepala sekolahnya pada saat SMP yang dikisahkan dalam adegan yang cukup menyentuh dan mengejutkan. Saat itu sedang ada acara di aula dan semua warga sekolah hadir (kecuali janitor mungkin). Musik dimainkan. Semua diinstruksikan diam. Hanya Brad Cohen yang tidak dapat tenang. Dia terus menyalak-nyalak, tersentak kiri kanan, dan heboh bergerak. Mengenai usahanya untuk berhenti bergerak malah membuat tambah parah. Lalu pada akhir music, Pak Kepsek naik ke panggung dan memanggil namanya. Menyuruhnya naik ke panggung.

Ada satu orang yang terus ribut. Ini dia orangnya.

Brad yang ketakutan udah hoples saja. Yakin akan dihukum lagi. Mungkin akan dikeluarkan. Tapi kali ini memang sungguh buruk. Bayangkan, Pak Kepala Sekolah akan mengeluarkannya di atas panggung di hadapan seluruh warga sekolah.

Kamu suka bikin suara dan bikin orang lain jengkel kepadamu?

Tidak, Pak..

Lalu kenapa kamu melakukan itu?

Karena saya penderita Tourette Syndrom.

Apa itu?

Ada sesuatu di otak saya membuat saya terus terhentak-hentak.

Tapi kamu bisa mengontrolnya, kan?

Tidak bisa, Pak.

Lalu kenapa kamu tidak minum obat dan sembuh saja?

Belum ditemukan cara untuk menyembuhkannya, Pak. Saya juga tidak mau membuat suara seperti orang lain tidak mau mendengarnya. Tapi selalu lebih buruk saat saya setress. Dan saya tidak bisa menghentikannya.

Apa yang bisa kami lakukan untukmu? Dan maksud saya, SEMUA ORANG DI SEKOLAH INI (wajahnya menyapu dan menatap semua orang di aula yang melongo menyaksikan). Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?

Saya hanya ingin diperlakukan sama seperti anak-anak lain.

Dan itu adalah pengakuan pertama yang didapatkan oleh Brad Cohen atas kesulitannya. Langsung diumumkan ke seluruh warga sekolah.

Adegan itu menggugah saya sampai ikutan bertepuk tangan dengan heboh berbarengan dengan warga sekolah. Dan jelas adegan itu menggugah si Brad Cohennya sendiri. Membuatnya bertekad menjadi guru yang seperti Sang Kepsek. Walaupun tentu saja perjalanan sampai menjadi guru sungguh berat untuknya dan menjalaninya pun sama beratnya. Dia guru SD kelas 2, anak-anak yang relative masih mau menerima keadaan gurunya hanya semata dia adalah guru. Anak-anak yang masih senang bermain-main sambil belajar hingga saat gurunya menyalak-nyalak mereka kadang ikutan menyalak juga. Tapi para orangtua siswa kelas dua masih sangat protektif. Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana saat mereka tahu kalau walikelas anaknya adalah punya masalah yang berhubungan dengan otak. Siapa peduli bahwa dia adalah guru yang mendapat penghargaan sana sini atas inovasinya. Orang gila gak usah ngajar anak gua!

Kalau bagi Brad guru yang menggugahnya adalah Sang kepsek saat SMP, bagi Temple Grandin adalah Pak Guru Sains-nya saat SMA yang kemudian menjadi rekannya. Sejak awal, Pak Guru Sains yang mengejar-ngejar ibu Temple saat dia memutuskan tidak jadi memasukkan Temple ke sekolah berasrama semata karena tanpa sengaja dia melihat Temple sedang ditertawakan anak lain.

Bayangin, baru nyampe aja udah diketawain. Gimana gak bikin sang ibu terluka dan memutuskan untuk membawa pergi puteri bungusnya ini?

Mrs. Grandin, please! Can I speak with you for a moment, please? Mrs. Grandin, you don’t strike me as the sort of person who would abuse their child or deny them love and care…

I… Now, you wait. I have done everything that I can for Temple and if it isn’t good enough, then it just isn’t good enough. But you cannot even begin to imagine the chaos, the upheavals, the tantrums and the pain. Her pain.

You seem to be acting as if you have done something wrong, when it’s obvious you’ve done everything right. I think she’s terrific. I know it’s difficult when, as parents, we want our children to be everything we hoped for them to be and, if they’re not, we think it’s our fault and… And that there’s never ever anybody out there who understands what we’re going through. It makes you feel alone, right?

Mrs. Grandin, I’m not an admissions person. I just teach science, but I feel that this school might be the right place for your daughter. I’d love to have her here.

The doctors wanted me to institutionalize her and… I don’t know. Just dumping her at a boarding school, it just feels like another way to give her up.

But it’s… It’s not. It’s just the first step in getting her out into the world. And I know you saw the children making fun of her and you want to protect her.

Yeah, of course I do.

Yeah, what parent doesn’t want to? But at some point, she’s going to hit life head on. And trust me, we know how different she is. Different, not less.

Different, but not less.

Sementara Karen Armstrong, moment paling mengharukan saya kira pada saat beliau menerima kertas yang berisi penjelasan apa yang dideritanya. Tak lama selepas dia, AKHIRNYA, berani untuk meninggalkan psikiater yang telah bertahun-tahun menanganinya dan datang untuk memeriksakan diri ke dokter setempat. Epilepsi. Itu diagnosa dari dokter selesai berbagai macam tes yang harus dia jalani.

Dia merasa lega, sekaligus sedih sekali.

Dan dalam bus yang membawanya entah kemana, jeritan hati ini dituliskannya pada suatu hari nanti.

Desertasi saya baru saja dinyatakan gagal. Saya tidak berhasil mendapat gelar doctor setelah bertahun-tahun bekerja keras. Jadi guru saya juga gagal. Saya dipecat karena terlalu banyak jatuh sakit dan dianggap akan membuat anak-anak takut karena suka kejang. Sekarang saya pun harus menuliskan kata ‘epilepsi’ di daftar riwayat hidup atau harus memberitahu setiap kali saya melamar pekerjaan.

Saya bahkan tidak sanggup lagi untuk menangis.

Tapi, itulah titik paling dalam jatuhnya. Selanjutnya dalam hidupnya adalah perjalanan merayap naik ke atas.

Download Temple Grandin disini.

Download Front of Class disini.

6 thoughts on “Adegan Inspiratif dari Guru di Film dan Buku II: Temple Grandin, In Front of Class, dan The Spiral Staircase

  1. yang pernah saya tonton cuma “Front of the Class” ,
    tapi ada beberapa punyandang autis bersekolah bareng dengan anak-anakku,
    walau begitu para ortunya tidak terlalu punya banyak pilihan saat anaknya mulai melanjutkan ke jenjang SMP……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s