Uneg Uneg

Kemarin, saat seru ngerjain beberapa hal terasing dari rekan-rekan, nongol salah satu rekan guru. Tahun kemarin saya menuliskannya sebagai guru yang suka ngeberantemin guru-guru lain. Keadaan belum banyak berubah. Hanya orang-orang yang lebih sering gampang naik darah menghadapinya digeser-geser sehingga berada dalam tim yang berbeda-beda. Dia tergabung dalam tim yang orang-orangnya bisa lebih sabar dan tabah menghadapinya.

Biar gak terlalu banyak gesekan.

Eniwey, dia nongol di ruangan saya langsung duduk dan berapi-api menyatakan seribu satu kekecewaan terhadap rekan-rekan. Butuh beberapa menit bagi saya untuk siap dan nyambung apa yang dibicarakannya. Intinya adalah, dia merasa kecewa sekali bahwa kali ini tidak dilibatkan dalam kepanitiaan ulangan umum.

Saya tidak tahu mengenai itu.

Dia balik mempertanyakan kenapa saya tidak tahu? Kan saya yang menandatangani proposal dan segala kertas-kertasnya.

Maka saya jadi membuka-buka proposal dan menemukan dia memang tidak tergabung dalam kepanitiaan.

Saya menjelaskan bahwa penyelenggaraan ulangan umum memang dari sekolah. Tapi kan masalah kepanitiaan dan segala sesuatunya wewenang tim yang kebetulan dia tidak termasuk di dalamnya. Dan itu gak masalah. Kayaknya gak perlu di besar-besarkan. Dia dan timnya punya wewenang dalam penyelenggaraan kegiatan eskul. Dia dan tim punya hak untuk menentukan kepanitiaan dalam kegiatan-kegiatannya. Masakah semua guru harus terlibat sebagai panitia dalam SEMUA kegiatan sekolah? Bisa gempor semua orang.

Dia tidak terima. Menurutnya, dia tidak dilibatkan karena tim kurikulum tidak ada yang suka dengan dia. Maka saya bertanya mengenai guru-guru lain yang tidak dilibatkan dalam kepanitiaan, apakah mereka juga tidak disukai? Kan tidak juga.

Sebenernya, sih, itu gak salah juga. Berdasarkan pengalaman tahun kemarin, saya tahu kalau temen-temen di tim kurikulum males banget memasukkan dia ke dalam kepanitiaan. Bukan cuma masalah emosinya yang gak bisa dikendalikan, tapi bawaannya yang selalu merasa paling benar sendiri.

Kata tim BK, itu orang kayaknya menderita Asperger Syndrom. Semuanya musti perfect dan musti sejalan dengan kepalanya sendiri. Gak mau menerima pendapat orang lain.

Tapi, itu cuma obrolan santai, yah.. Karena kenyataannya kan belum ada yang punya kesediaan untuk mengobservasi dia, hehe…

Daaaan, seperti biasanya. Kalau nih orang sudah ingin menyampaikan sesuatu atau ngajak bicara, itu pastilah lamanya minta ampun. Kata-katanya banyak bener! Sampai-sampai pernah saya kepikiran untuk merekam kalau dia bicara, lalu membuat blog atas nama dirinya. Kemudian menuliskan apa yang dikatakannya itu. Siapa tahu jadinya keren!

Tapi kemudian, saya memilih untuk mendengarkan saja. Saya kira dia hanya ingin menyampaikan uneg-uneg yang menekan dadanya. Lagipula, lihat dari sisi positifnya aja, deh. Dia ingin membantu. Tapi dia tidak merasa punya hak untuk itu.

Bicara soal uneg-uneg, hari ini saya, dengan tanpa sengaja, mendengarkan orang lain salig mengeluarkan uneg-uneg mengenai saya. Kejadiannya, klasik banget, di kamar mandi. Saya sedang duduk di kloset dengan tanpa suara. Maka terdengarlah segala pembicaraan orang-orang yang berada di dalam kamar mandi (atau kamar kecil) yang saya bayangkan sedang ngumpul di depan cermin. Intinya, pada bête karena berkali-kali musti memperbaiki soal yang telah mereka selesaikan. Tidak lolos dari meja edit saya.

Padahal cuma urusan salah tanda baca saja.

Well, ini memang target saya tahun ini. Tanda baca dulu, deh. Tanda baca pada soal ulangan umum dulu dan belum ulangan harian atau redaksional dalam RPP dan laporan-laporan. Yang saya kira, itupun target yang cetek bener!

Kayaknya gak enak bener kita yang guru, walaupun gak semua guru bahasa, memberikan soal kepada anak-anak tapi salah-salah. Saya merasa malu terkadang kalau mengingat anak-anak kami yang sungguh kritis suka mengomentari salah-salah pada soal. Belum jika nanti ada orangtua murid yang ‘ngeh’ mengenai itu.

Jadi pertama, beresin tulisan-tulisan yang nanti keluar sekolah dan dibaca orang lain. Sementara tulisan yang akhirnya menjadi arsip di sekolah dan gak akan keluar kecuali kalau ada pemeriksaan dari pengawas atau akreditasi lagi nanti, itu PR untuk tahun depan.

Mengenai uneg-uneg saya kira wajar, lah, ya… Saya juga mengeluarkan uneg-uneg berkali-kali dalam satu hari. Kalau ditelusuri isi blog ini, mungkin bisa ditemukan puluhan tulisan isinya uneg-uneg semuanya. Maka saya memilih untuk menunggu sampai orang-orang itu, rekan-rekan saya, keluar dan tidak menyadari bahwa selama ini saya ada disitu.

Isinya standar juga. Mengenai betapa lelahnya mereka musti mengerjakan sesuatu diulang-ulang. Well, saya pun musti mengerjakan ini semua berulang-ulang. Jadi rasanya, saya juga pengen, deh, ikutan menguneg-uneg bareng mereka, hihi…

Lah, emang siapa yang bilang saya hepi begini? Saya juga banyak uneg-uneg. Misalnya, ini orang-orang pada kenapa sih kok salah-salah melulu yang itu-itu aja? Gak pada belajar dari pengalaman, ya?

Jangan-jangan, saya jadi tukang koreksi terus-terusan.

Ah, sudahlah…

Satu hal yang kemudian saya pikirin. Salah satu rekan mempertanyakan buat apa sih saya musti sekaku itu? Kita itu udah penghasilannya kecil kenapa musti perfect-perfect amat?

Dalam benak saya langsung terbayang adegan di film Janji Joni pas cowok yang suka marah-marah itu marahin sang projeksionis.

‘Bapak dibayar berapa jadi projecksionis? Gak banyak saya bayangkan. Tapi itu bukan berarti bapak bisa seenaknya sendiri, kan? BAPAK LIHAT ITU…..’

Jadi nyengir sendiri.

Apakah saya menjadi si cowok yang suka marah-marah itu, ya? Ah, saya kan gak marah-marah. Orang tipe-tipe sabar gini?

*dipentung

Dalam hati saya ngoceh sendiri. Sekarang jelas, kan, kenapa kamu, dengan usia segini hidupnya gini-gini aja. Gak meningkat-meningkat. Bahkan pindah dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain lalu terdampar disini. Habisnya baru dipaksa belajar dan berkembang dikit aja sewot, sih.

Tapi, yah, itulah uneg-uneg saya. Kita semua suka beruneg-uneg. Dan saya kira, kita gak usah juga membesar-besarkan masalah itu.

Maka saya tetap pada rencana awal, duduk manis menunggu sampai semua pergi dan sepi lagi, lalu beranjak pergi. Kembali ke aktivitas saya seperti yang lain kembali ke aktivitas masing-masing.

 

 

 

One thought on “Uneg Uneg

  1. Hmmm karena pepatah “mulutmu adalah kuburanmu” (bener gak yaak)
    Aku terbiasa nulis unek2 di buku harian ajah hehehe
    Biar kagak ada yg memancing di aer keruh or semacamnya
    Di tempat kerja, kalo dah pol enegnya
    Hanya bisa tarik napas dan buang
    Hhhhhhhhhh
    Lalu pasang senyum manis
    Dan lanjutkan perjuangan😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s