Lagi Guru Hebat: Walikelas IX-7

Kemarin, adik saya dinyatakan lulus sekolah menengah tingkat pertama. Gak main-main, nilainya cukup membanggakan. Sembilan koma sekian. Agak lebih tinggi daripada nilai yang diraihnya tiga tahun yang lalu ketika dia dinyatakan lulus SD. Kami senang sekali! Sungguh! Dan kami merasa senang berlipat ganda bukan saja adik yang lulus pun telah dinyatakan diterima di sekolah impiannya yang naujubillah seleksi masuknya tapi juga karena walikelasnya adik merasa bahagia pada hari itu, saat seluruh anaknya bukan hanya lulus, namun juga berhasil meraih nilai-nilai terbaik di sekolah.

Saya mengingat kembali masa-masa itu. Hari-hari pertama di kelas IX.

Adik saya ditempatkan di kelas yang dianggap paling onar. Ini bukan semata karena semua orang juga merasa kelasnya paling ancur, tapi kenyataannya memang begitu. Baru beberapa hari berjalan, lebih dari setengah kelas dipanggil ke ruang BK. Ini terjadi beberapa saat selepas razia mendadak di sekolah. Dan lebih dari setengah kelas itu terjaring razia dengan kasus yang tidak main-main.

Film porno.

Yep, hampir semua anak baik lelaki maupun perempuan kedapatan membawa HP. Bukan itu saja. Dalam HP yang tertangkap itu terdapat banyak file film porno.

Beberapa anak kedapatan membawa barang terlarang seperti rokok dan majalah yang tidak baik.

Sang walikelas yang kena damprat kepala sekolah.

Walikelas adik saya ini, orangnya masih muda. Beberapa tahun diatas saya. Harus berhadapan dengan Sag Kepala Sekolah yang terkenal killer tanpa ampun dengan tatapan sinis guru-guru yang lain. Saya bisa membayangkannya.

Selanjutnya, masalah terus datang seakan bertubi-tubi. Salah seorang rekan adik saya dikeluarkan dari sekolah. Lainnya tertangkap polisi saat ikut-ikutan tawuran. Kemudian sekali lagi film porno yang kali ini dalam bentuk DVD belasan keeping dibagi-bagikan seantero kelas. Udah aja kelasnya adik dibilang paling bobrok. Sering dicontoh-contohkan, yang tidak baik, pada saat upacara di sekolah.

Adik pernah bilang, setiap kali kepala sekolah mulai menunjuk-nunjuk anak kelasnya, dia merasa tikaman di dada. Pernah saat pulang adik mengadukan hal itu kepada ibu. Rasanya kayak ditohok, Bu, kata adik. Tapi itu adik saya, seorang anggota kelas ancur ini. Bagaimana perasaan sang walikelas?

Saya gak bisa membayangkan.

Tapi mungkin omongan pahit kepsek lah yang membuat Bu Walikelas bertindak. Dia mengumpulkan segenap walimurid. Setiap bulan. Dengan kejujuran yang terkadang bikin saya mengangkat alis juga, beliau bicarakan setiap permasalahan anak-anak didiknya. Kemudian para walimurid pun menjadi bersatu dan kompak.  Anaknya badung, sama seperti anak lain di kelas ini. Tapi itu bukan alas an untuk patah arang. Justru itu alas an untuk maju dan membuktikan bahwa mereka bisa. Anak-anak yang tadinya memalukan sekolah ini bisa jadi anak-anak yang membanggakan.

Ketika ada permasalahan di kelas, semua ikut puyeng memikirkan jalan terbaiknya.

Ketika UN datang dan tahu bahwa tiga orang diantara mereka yang berasal dari golongan tidak mampu bahkan untuk bayaran pun sempoyongan, semua ikut berpartisipasi membantu. Dua orangnya seluruh biaya diambil alih oleh dua orang walimurid yang paling mampu. Sementara satu lagi, dibayarkan seluruh orangtua murid yang lain secara patungan.

Mereka membentuk tim kelompok belajar. Sang walikelas menyisihkan waktu lebih untuk mereka.

Kemudian pada akhir tahun, itu terbukti.

Bukan hanya mereka semua lulus (walaupun memang di sekolahnya adik 100% siswanya lulus) tapi nilai-nilai terbaik berhasil direbut oleh mereka.

Bukan hanya mereka semua lulus, namun dua diantaranya telah diputuskan diterima di sekolah-sekolah yang seleksi masuknya tidak main-main beratnya.

Bu Walikelas yang budiman itu meleleh air matanya saat menyalami para walimurid dan memberikan selamat.

Selamat, Bu.

Selamat, Pak.

Selamat, ya, Nak.

Selamat, Bu Guru. Saya kira, Anda lah yang luar biasa. Anda berhasil mengeluarkan yang terbaik dari mereka, saat orang lain tidak mau melihatnya.

Mereka, atau paling tidak adik saya, tidak akan pernah melupakan betapa luarbiasanya Anda. Paling tidak, saya tidak akan membiarkannya untuk melupakan Anda.

14 thoughts on “Lagi Guru Hebat: Walikelas IX-7

    • Hihi… Bukan kelas saya itu. Jangan doain yang enggak-enggak, ah! Kayaknya saya gak bakalan bisa sesabar itu, deh :p

  1. Bravooo bravoooo
    Anak nakal bukan selalu berarti bodoh lohhh sodara-sodara

    Jadi ingat pas liat berita, ada anak2 di daerah yg malah 100% tidak lulus
    gimana kabarnya ya?

    • Setuju!! Nakal ya nakal. Cuma kadang memang anak yang udah terlanjur kea cap nakal, nilainya jatuh juga. Mungkin marah mungkin merasa hoples.

      Anak-anak daerah yang 100% gak lulus kalo di desa mungkin gak lanjut sekolah lagi. Sedih, tapi itulah kenyataannya. Biasanya banyak diantara mereka yang dikirim ke kota buat bekerja. Kalo masih belum menyerah mungkin ikut kejar paket atau mengulang ujian tahun depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s