Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World

Apakah ada yang belum pernah baca buku berjudul Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela? Kalau belum, cuma satu yang akan saya katakan kepada Anda: cari buku itu dan baca! Beneran! Anda kehilangan satu keping masa muda kalau belum membacanya.

Saat ini saya sedang membaca ulang buku karangan si Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi) yang lain yaitu Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World. Buku ini, kalaupun mau dikatakan sekuelnya dari yang Gadis Cilik di Jendela itu maka bisa dibilang adalah sekuel jauh. Bagaimana tidak, buku yang pertama mengisahkan pengalaman Totto-chan saat SD sementara yang kedua adalah pengalaman berkeliling afrika dan asia saat beliau menjabat sebagai duta kemanusiaan untuk UNICEF. Totto-Chan ternyata juga mengunjungi Indonesia pada beberapa saat selepas Tsunami besar menghantam Aceh pada 2004 yang lalu, namun sayang nampaknya kunjungan beliau ini luput dari pantauan media kita.

Totto-chan Berdoa Bersama Anak-Anak Aceh

Totto-chan Berdoa Bersama Anak-Anak Aceh

Saya membacakan beberapa bagian buku Totto-chan ini kepada anak-anak. Beberapa ada yang saya bacakan lengkap, ada yang hanya sedikit-sedikit. Salah satu bagian yang lengkap yang saya bacakan adalah bagian prolog. Ini saya tulisakan di bawah. Mudah-mudahan gak melanggar hak cipta.

Tuhan Menciptakan Anak-Anak Murni dan Baik

Satu juta manusia terbunuh di Rwanda anak-anak kecil mengungsi menyelinap diantara pembunuhan masal di tengah jeritan dan erangan orang-orang sekarat

Orangtua dan saudara dibunuh dihadapan mereka tanpa tahu alasannya hanya mengikuti orang-orang dewasa yang mengungsi.

Dan semua anak kecil itu memendam kesedihan luarbiasa mengira bahwa merekalah yang bersalah atas kematian keluarga mereka!

‘Aku melakukan hal-hal yang dilarang Ibu; karena itulah dia dibunuh.’

‘Aku pasti sudah melakukan hal yang sangat buruk.’

Alasan sebenernya adalah suku Hutu dan Tutsi yang saling menyerang. Tapi anak-anak tidak tahu itu jadi mereka semua menyalahkan diri sendiri.

Jutaan orang jadi pengungsi Kolera mewabah di kamp pengungsi ribuan orang dewasa dan anak meninggal tiap harinya. Di pinggir jalan seorang gadis kecil duduk diam di samping ibunya yang telah meninggal akibat kolera dan anak itu berfikir,’Ibu meninggal gara-gara aku. Karena dia berusaha menyelamatkanku.’

Anak-anak terus menyalahkan diri sendiri seperti itu, yakin semuanya terjadi karena kesalahan mereka, inilah pertama kalinya aku mendengar hal semacam itu.

Mengapa anak-anak yang murni dan polos menghukum diri sendiri padahal mereka tidak bersalah?

Aku, yang mengira telah mengenal anak-anak merasa malu mendapati betapa sedikitnya yang kutahu.

Kini, di Jepang tak ada yang mau bertanggungjawab atas kekurangan-kekurangan social kami. Namun dulu kami juga begitu, murni dan polos. Aku, sebagai orang dewasa, akan mencoba untuk tak melupakan. Apa yang telah diajarkan anak-anak kecil itu padaku.

Kata-Kata Kepala Desa di Tanzania

Di sebuah desa tak bernama di Tanzania, ada anak-anak yang tak bisa berpikir atau bicara. Otak mereka rusak karena kekurangan gizi, mereka bahkan tak bisa berjalan. Mereka hanya bisa merangkak.

Kepala desa yang sudah tua berkata padaku,’Miss Kuroyanagi, saat Anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin Anda ingat; Orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, memercayai kita, orang-orang dewasa.’

Di India

Aku bertemu anak laki-laki yang sekarat akibat tetanus. Aku berkata lembut padanya, dalam bahasa Jepang, ‘Bergembiralah, Sayang, dokter berusaha semampunya untukmu.’

Anak laki-laki itu menatapku dengan matanya yang indah dan besar dan berusaha mengatakan sesuatu. Tetanus adalah penyakit mengerikan; Otot-ototmu menjadi kaku dan kau tak bisa bicara.

Aku bertanya pada perawat apa yang coba dikatakan anak laki-laki itu.

‘Aku berdoa untuk kebahagiaanmu,’ perawat menerjemahkan.

Aku terlalu terharu untuk berkata-kata, anak laki-laki yang sekarat itu sama sekali tidak mengeluh. Hanya itu yang dia katakan. Seandainya Ia sudah divaksinasi, Ia tak perlu mati.

Kata-kata kepala desa di Tanzania serta kata-kata anak lelaki India itu akan tinggal dalam hatiku selamanya.

Kemiskinan Sejati

Tujuhpuluh dua persen pelacur di Haiti terjangkit HIV, kata mereka.

Aku bertanya pada salah satunya yang baru berumur duabelas tahun, ‘Apa kau tidak takut pada AIDS?’

Jawabnya singkat dan langsung, ‘Ya, aku takut, Tapi bahkan jika aku terkena AIDS, aku akan tetap hidup beberapa tahun lagi bukan? Kalau aku tidak bekerja tak ada makanan untuk besok.’

Keping-keping recehnya bisa menyelamatkan keluarganya dari kelaparan.

Anak-Anak Afrika yang Tak Pernah Melihat Gajah

Di sekolah dasar di Tanzania, sutradara televise kami yang orang Jepang membagikan kertas gambar lalu berkata, ‘Gambarlah binatang.’

Saat memegang selembar kertas putih lebar untuk pertama kalinya dalam hidup mereka anak-anak itu kelihatan bingung. Kira-kira satu jam kemudian, ‘Mereka sudah selesai,’ Sang Guru mengumumkan.

Setiap anak memegang tinggi-tinggi gambarnya supaya aku bisa melihat.

Aku tercengang.

Hanya dua anak yang menggambar binatang. Pertama seorang anak laki-laki menggambar, di sudut lembaran kertasnya, satu ekor lalat. Anak laki-laki lain mencoba untuk menggambar seekor burung berkaki lemah.

Hanya itu.

Anak-anak lain menggambar ember, cangkir teh, dan sejenisnya.

Padahal awalnya kami membayangkan anak-anak Afrika akan membuat gambar yang hidup gambar-gambar gajah, jerapah, dan zebra. Tapi, bahkan di Afrika, binatang-binatang hanya mendiami daerah tertentu yang secara khusus dilindungi. Anak-anak yang tinggal di daerah itu mungkin tahu tentang binatang-binatang tersebut. Tapi bagi sebagian besar anak-anak, tidak ada kebun binatang, tidak ada televisi dan tidak ada buku bergambar.

Jadi meskipun mereka tinggal di Afrika mereka tidak tahu apa-apa tentang binatang-binatang di benua itu.

Namun anak-anak Jepang, meskipun tinggal sangat jauh, akan dengan mudahnya menggambar gajah. Dan mereka tahu zebra itu seperti apa.

Akankah semua anak Afrika ini hidup sepanjang hidup mereka, lalu mati, tanpa pernah tahu tentang binatang-binatang Afrika?

Sejak dulu aku ingin mengunjungi Afrika.

Aku sering membayangkan jerapah menghiasi langit berlatar matahari terbenam. Sekarang aku masih belum melihat binatang-binatang Afrika. Tempat-tempat yang kukunjungi, tempat anak-anak membutuhkan pertolongan, tak punya air dan sedikit sekali tumbuhan hijau. Yang mereka punya hanya perang saudara. Tempat-tempat itu bukanlah tempat binatang bisa hidup; Manusia tak bisa tinggal di sana.

Bahkan di Jepang, saat perang, makanan jadi langka dan binatang-binatang di kebun binatang terpaksa dibunuh.

Gajah-gajah mempertunjukkan sejumlah keterampilan, berpikir mereka bisa mendapatkan makanan karenanya; Mereka dibunuh saat melakukan permainan keseimbangan. Anak-anak Jepang harus tahu bahwa gajah hanya bisa dilihat di tempat yang sejahtera dan damai. Aku berharap sepeuh hati hal itu bisa diajarkan kepada mereka.

Anak-Anak Dijadikan Target dalam Perang Bosnia-Herzegovina

Jauh dalam hatiku, aku berpikir inilah satu hal yang takkan bisa kumaafkan; Memasang bom dalam boneka kesayangan seorang anak padahal anak-anak sangat menyukai boneka mereka.

Sebagai anak yang tumbuh dalam masa perang dunia II, aku pernah berlindung di bungker tanpa boneka beruangku. Aku ingin membawanya serta ketika kami dievakuasi, papa yang memberikannya padaku saat dia pergi bergabung dengan tentara; Boneka beruang itu temanku. Mama menyuruhku meninggalkan boneka beruang itu.

Kereta sudah penuh sesak, dan Mama membaa dua anak kecil bersamanya. Kami tidak diperbolehkan membawa koper. Aku sangat tidak bahagia ketika kami meninggalkan rumah, aku meniggalkan boneka beruang abu-abuku diatas kursi papa. Ketika aku mendengar rumah kebakar, hal yang pertama kupikirkan, yang paling pertama, adalah boneka beruangku.

Aku membayangkan boneka itu terbungkus lidah api.

Karena itulah aku tahu betapa berharganya boneka bagi anak-anak.

Pertempuran berkobar di Bosnia.

Atap-atap rumah diledakkan; Orang-orang berlarian ke sana kemari, berusaha melarikan diri, selalu melindungi anak-anak. Segera setelah pertempuran berakhir orang-orang kembali ke rumah mereka. Seorang gadis kecil ke kamarnya langsung menghampiri boneka kesayangannya.

‘Maaf aku tidak bisa membawamu bersamaku. Terimakasih sudah menunggu,’ mungkin begitu katanya, mengambil mainannya untuk dipeluk. Saat itulah bom meledak, lalu membunuh anak itu. Saat rumah itu kosong seorang musuh msuk dan menyembunyikan bom di dalam boneka supaya bom meledak ketika boneka itu dipeluk.

Betapa mengerikannya ketika psikologi anak disalahgunakan dalam peperangan!

Apa yang dipikirkan anak itu, saat mati, memeluk bonekanya? Apakah,’Kenapa kau tega berbuat ini padaku? Kau kan temanku.’

Oh, betapa aku benci perang.

Saat saya membacakan prolog itu, anak-anak diam. Hening. Dan rasanya aneh banget! Kelas saya kan kelas paling ribut seantero jagat, eh, seantero sekolah! Tiba-tiba hening gini.

Anak-anak cewek pada nangis. Tapi ini kelas lima, nangisnya udah gak meraung-raung lagi. Cuma meleleh air mata terisak-isak aja. Anak laki ada sih yang nangis, satu orang. Sisanya hanya termangu-mangu.

Selanjutnya saya tanya sama anak-anak, bagian mana yang menurut kalian paling sedih? Pengen tahu aja. Kalau saya, bagian di Rwanda. Beneran, jadi kebayang-bayang film Hotel Rwanda dan Shooting Dogs.

Kalau anak-anak?

Gak taunya anak-anak kompakan tapi beda. Anak-anak laki bilang bagian paling sedih itu adalah bagian saat anak-anak Afrika ternyata gak tau gajah, jerapah, dan zebra.

‘Cuma kayak gitu aja gak tau kan sedih, Bu..’ kata mereka.

Kalau anak perempuan ternyata yang paling sedih dan bikin mereka pada nangis itu adalah bagian terakhir. Bagian pas ada anak yang terbunuh gara-gara bom yang ditanam di bonekanya. Itu, menurut mereka, hal yang paling menyedihkan dari semuanya.

Seluruh buku ini sedih, kata saya. Banyak hal-hal yang tak terduga. Mengejutkan. Kalau bisa, coba baca. Kalian akan tahu bagaimana hidup di bagian lain di dunia ini.

5 thoughts on “Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World

  1. Saya sudah membaca buku itu di tahun 2000 yang lalu, Cekgu. Dan buku itu pulalah yang menginspirasi saya dan istri untuk mendirikan TK di kala itu. Sedikit banyaknya, inspirasi dari kisah Toto Chan itu kami terapkan di sekolahan tersebut. Sekolah tersebut berada di Pekanbaru, sejak kami pindah ke Jogja, sekolahan itu dikelola oleh teman.

    Di Jogja, ada sebuah sekolah yang menjadikan buku ini sebagai buku bacaan wajib bagi orangtua wali murid. Jadi, setiap pendaftaran murid baru, akan mendapat satu buku ini. Saya melihat perkembangan yang bagus di sekolah tersebut..🙂

    • Pasti maksud Uda Ustadz buku Totto-chan yang pertama, ya.. Iya saya juga pernah dengar tentang sekolah-sekolah yang terinspirasi dari buku ini. Kayak misalnya kelasnya yang memakai bekas Bus seperti kelasnya sekolah Totto-chan yang berada di dalam gerbong kereta api. Cara gurunya berkomunikasi dengan anak, dan sebagainya.

      Buku bacaan wajib buat orangtua, bisa ditiru tuh idenya, hehe..

  2. Ping-balik: Makanan Pengungsi dan Dunia dalam Berita | Teacher's Notebook

  3. Jujur saja, sebetulnya aku belum pernah membaca buku ini. Tetapi banyak sekali yang membicarakannya dan merekomendasikan padaku untuk membacanya. Setelah membaca postingan ini, baru aku merasa harus membacanya. Terima kasih…

    • Masa seorang penganyam kata belum baca buku ini? Waduh, musti musti baca dong! Trus bikin buku tentang anak-anak dan sekolah :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s